logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Cinta & Persahabatan    Puisi    Puisi Putus Cinta    Puisi Broken Heart

Memaknai Metafor Puisi Broken Heart

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Jika seseorang sedang broken heart, menulis sajak (puisi) menjadi salah satu pilihan bagi seseorang untuk menyampaikan isi hatinya, atau juga untuk melampiaskan amarahnya. Ketika patah hati, seseorang biasanya menjadi lebih peka dan sensitif terhadap sesuatu hal. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi lebih puitis ketika patah hati.

Puisi broken heart biasanya adalah puisi yang berisi tantang metafor atau diksi-diksi yang berhubungan dengan kekecewaan, atau mencerminkan isi hati yang sedang remuk. Metafor patah hati adalah metafor yang luas, seringkali menggunakan perlambang benda yang dihidupkan, namun tersirat pesimisme di dalamnya.

Seperti misalnya bulan redup, bintang menangis, lampu padam, kesunyian, dan kegelapan adalah beberapa contoh majas yang berhubungan dengan patah hati. Puisi patah hati biasanya berisi tentang perpisahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan romantisme kerinduan. Tak jarang juga puisi patah hati seringkali menyajikan pesimisme, bahkan amarah di dalam kata-katanya.

Sebagai contoh, perhatikan beberapa sajak di bawah ini.

SAJAK SAMAR

ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
ada. tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. tapi langkah gerimis bukan sendiri
(Abdul Hadi WM, 1967)

atau sajak berikut

SAJAK LUKA

langit mati, mengubur cahaya di tepi pantai
sunyi bergerak, mencipta huruf dalam kata
membawa api dalam gulita.
air menetes di atas batu, membelah dunia jadi dua
di tanganku, matahari mendaki ke puncak duri
dan bulan menangis dalam luka teriris
…
(Hamdy Salad)

Dalam dua sajak di atas, terlihat jelas perbedaan metafor yang digunakan. Pada sajak pertama, Sajak Samar tidak terlalu banyak metafor yang digunakan, akan tetapi kita langsung bisa menangkap bahwa tema yang diambil penulis adalah tentang patah hati, yaitu tentang perpisahan, sebagaimana yang ditulisnya dalam baris awal sajak.

Sedangkan metafor pada sajak kedua adalah bintang, gemuruh, dan langit benderang, dan bulan. Namun, walaupun metafornya sekilas indah, namun sebenarnya suasana sajak di atas adalah kesunyian yang mencekam dan berisi tentang kecemasan.

Seperti sajak di bawah ini.

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

(Sapardi Djoko Damono)

Sekilas, puisi di atas terkesan bukan puisi patah hati, karena diksi dan metafor yang digunakannya sangat liris dan romantis, sehingga sangat indah, walaupun jika kita baca dengan seksama, puisi diatas adalah puisi patah hati.

Puisi patah hati tak jarang berisi caci-maki, namun tetap dikemas dengan cara yang indah. Namun, tak jarang, puisi patah hati juga mampu menginspirasi pembacanya karena puisi patah hati lebih mudah menyentuh dan menggugah.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA