Indahnya Puisi Dakwah
Ilustrasi puisi dakwah
Puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang tidak menuntut banyak pembaca dan penulisnya, namun pada kenyataannya genre sastra inilah yang berkembang di mana saja karena hampir setiap orang pernah sedikitnya menumpahkan perasaan dan pemikiran mereka dengan cara menulis puisi.
Puisi yang baik dan buruk sebetulnya bukanlah sebuah penilaian yang cukup objektif jika hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Oleh sebab itu, puisi juga harus bisa menjangkau berbagai kalangan agar makna yang terdapat di dalamnya bisa sampai dan mungkin akan disampaikan kembali oleh pembaca kepada pembaca yang lainnya dengan cara yang bervariasi.
Di Indonesia sendiri, generasi perpuisian memiliki contoh yang beragam dengan representasi yang khas bagi generasinya. Dalam periode sastra, ada berbagai macam generasi dalam bidang perpuisian, yakni angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan generasi kontemporer yang sekarang ini ada di dalam dunia perpuisian Indonesia modern.
Dalam dunia puisi, berbagai hal diungkapkan secara padat agar banyak makna bisa disampaikan hanya dengan beberapa kata atau kalimat saja, yang dalam perpuisian disebut bait. Jenis-jenis puisi pun bermacam-macam, bergantung pada tema yang diambilnya, serta karakter puisi itu sendiri.
Ada puisi yang diciptakan untuk memberikan pemahaman kepada pembacanya mengenai makna kehidupan, cinta, bahkan puisi dakwah sekalipun bisa meraup banyak pembaca di kalangan tertentu yang memang bertendensi ke arah tersebut.
Sebagai contoh, puisi cinta biasanya identik dengan anak muda yang sedang mengalami perasaan jatuh cinta dan segala hal yang berhubungan dengan percintaan. Namun, pada kenyataannya, perasaan tersebut justru tidak hanya dirasakan oleh kalangan muda saja. Hampir setiap orang, bahkan mungkin semua orang, pernah dan sering mengalami jatuh cinta.
Puisi persahabatan juga sama halnya dengan puisi cinta yang bisa memberikan makna mengenai arti persahabatan kepada setiap pembacanya. Hal ini membuktikan bahwa proses berpuisi tersebut tidak akan bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, yang dimiliki juga oleh para penyair dalam tiap generasinya.
Dalam periode sastra, puisi Balai Pustaka dan Pujangga Baru banyak sekali puisi yang memberikan kesan semangat perpuisian dengan cara yang memang sudah digariskan untuk model puisi pada zamannya. Hal tersebut akan berbeda jika kita bandingkan dengan puisi para penyair generasi selanjutnya yang lebih mampu mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka untuk berkehendak secara individu maupun kelompok.
Meskipun kedua generasi tersebut memiliki representasi keadaan zaman yang berbeda-beda, namun keduanya tetap memberikan makna semangat pada masyarakat Indonesia untuk lebih kuat lagi dalam mempertahankan jati dirinya sebagai anak bangsa Indonesia.
Dalam artikel kali ini, hal yang akan dibahas adalah mengenai puisi dakwah. Puisi dakwah adalah puisi yang berisikan nilai-nilai dakwah yang dibungkus indah dengan syair-syair cinta yang dapat mengingatkan kita pada Allah. Berikut ini beberapa puisi dakwah untuk Anda.
Di Balik Senyummu
Senyum,
Di balik duka, kau pasang wajah ceria
Senyum,
Ketika gembira
Kau coba wajah biasa saja
Tawadhu
Senyum,
Walau di atas, kadang di bawah
Kau selalu mencoba berdiri di tengah
" Keterangan 1:
Puisi dakwah ini ditulis untuk saling berbagi, senyum. Sebab Islam pun memiliki seni. Islam itu indah, memiliki puisi dakwah, puisi berseni sekaligus untuk saling menasihati dan mengingatkan. Eling!
Puisi dakwah kupersembahkan kepada orang-orang yang masih istiqamah atau ingin istiqamah di jalan Tuhannya, yang selalu kokoh berusaha keras, tidak untuk berguguran di jalan dakwah. Mereka mampu tersenyum tulus karena merendahkan hati kepada Tuhannya, tawadhu. Mereka tersenyum walau jalan dakwah ini tidaklah mudah. Mereka tahu itu.
Bacalah
Segala sesuatu
Berawal dari ilmu
Maka, bacalah…
Seumpama madu
Merekah manis sebab niat tuannya
Maka, bacalah…
Bacalah dengan menyebut nama-Nya
Dialah yang mencerdaskan
Dialah yang mampu membuatmu lupa
Membuatmu ingat
Maka, bacalah…
" Keterangan 2
Surat pertama yang difirmankan Allah sebagai wahyu bagi Rasulullah adalah surat Al-Alaq: 1-19. Ketika Rasulullah yang belum pandai membaca, Dia memerintahkan beliau membaca, ayat demi ayat. Gua Hira dan Malaikat Jibril jadi saksi. Kala itu Rasulullah gemetaran dan merinding. Keringatnya bercucuran, sebesar biji jagung. Lalu, Rasulullah hanya mampu berkata, "Aku tdak bisa membaca!" Berulang-ulang.
Sekali lagi Allah berkata, sangat mudah bagi-Nya menjadikan manusia dari tidak bisa menjadi bisa, seperti membolak-balikkan telapak tangan yang sehat gilang-gemilang. Bacalah… bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Esa.
Segala sesuatu di dunia ini diawali dengan membaca. Tak perlu keliling dunia. Hanya membaca buku, sesungguhnya kita telah melihat seisi dunia dari balik jendela. Jendela sendiri menjadi saksi. Bacalah, dengan membaca raut muka, membaca situasi, membaca pengalaman, akan membuat dirimu akan segera tahu makna membaca.
Bacalah puisi dakwah sehingga dirimu mampu kokoh semangatkan diri. Puisi dakwah, teruntuk jiwa-jiwa yang haus kasih-Nya.
Rabithahku
Allah, pagiku ini
Dan sora nanti
Hingga langit menjingga
Lalu kelam bergemintang
Allah,
Kemuliaan hanya dari-Mu
Mudah,
Mudah sekali bagi-Mu mencabutnya
Sebab,
Kerajaan semesta ini hanya milik-Mu
Mudah,
Mudah sekali Engkau menitipkan
Lalu mencabutnya
Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu
Rezeki Kau beri tanpa hisab
Mudah,
Mudah sekali bagi-Mu
Allah,
Izinkan kami
Untuk selalu mencintai-Mu
Taat pada-Mu
Menyerukan asma-Mu
Setia berjuang di jalan-Mu
Allah,
Kuatkanlah
Abadikanlah cinta dan kasih sayang kami
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus
Penuhilah hati-hati kami
Dalam cinta pada-Mu,
Dalam sujud pada-Mu,
Kelapangan dada
Engkaulah sebaik-baik penolong
Salam dari kami
Untuk Baginda Rasulullah
Beserta keluarganya
Dan para pengikutnya
Hingga akhir zaman
Aamiin!
Keterangan 3
Doa rabithah sebagai tulisan indah yang Rasulullah membacanya pagi dan petang. Puisi dakwah tentang Rabithahku ini tentu saja telah dipoles sana-sini. Rabithahku, inginku ikatkan hatiku kepada semua wajah-wajah ciptaan Allah agar kami dalam ikatan hati yang cinta kepada Allah. Saling mencintai dan menyayangi datu sama lain. Alangkah luar biasanya makna ikatan hati dalam hati-hati yang terhimpun untuk mencintai-Mu. Aamiin.
Pada periode sastra terdahulu, ada pula penyair yang tidak menyuguhkan ungkapan pikiran dan perasaannya melalui hal yang berhubungan dengan cinta universal dan cinta kebangsaan. Berikut ini adalah puisi religius dari Armijn Pane yang bisa pula dijadikan sebagai puisi dakwah.
Pada-Mu Jua (Armijn Pane)
Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.
Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.
Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
mati hari - bukan kawanku...
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puisi dakwah bukan saja puisi yang secara langsung memunculkan isu dan wacana mengenai nasihat dalam dakwah, tapi juga sebuah puisi yang terjun dalam sanubari pembaca untuk lebih mendalami hati pembaca. Hal ini yang nantinya akan menjadi tipe dakwah secara lembut dan tanpa disadari bisa memberikan kesan yang dalam dan bermanfaan bagi pembaca.

