Indahnya Cinta dalam Puisi Kahlil Gibran
Puisi Kahlil Gibran selalu menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menikmatinya, tidak peduli dia penyair atau bukan, penyukai puisi atau orang yang awam terhadap puisi. Ketika mereka membaca puisi Kahlil Gibran pasti jiwa akan hanyut dibawa arus kata-kata yang indah.
Kahlil Gibran adalah penyair sepanjang zaman. Karya-karyanya abadi dan banyak dikaji dalam studi-studi ilmiah. Dia adalah sang sufi puisi, penyair melankolis yang mendunia. Puisi Kahlil Gibran terkenal hingga seluruh dunia. Puisi Kahlil Gibran menawarkan keindahan yang terangkum dalam kata-kata.
Puisi Kahlil Gibran mewakilkan keindahan apapun yang ada di dunia ini dalam kata-kata. Entah sebuah perasaan, fenomena keadaan sosial ataupun banyak hal lainnya. Diantara banyaknya puisi Kahlil Gibran yang tercipta, puisi cinta karya Kahlil Gibran sepertinya menduduki urutan pertama sebagai puisi terfavorit yang tercipta dari penyair ini.
Berbicara puisi Kahlil Gibran tentang cinta ibarat kita bicara tentang ayat-ayat cinta yang sepertinya bukan ditulis oleh tangan manusia, tapi puisi cinta Kahlil Gibran layaknya sebuah wahyu. Kesan berlebihan ini rasanya menjadi tidak berlebihan ketika kita tahu bahwa Kahlil Gibran lah sosok dibalik puisi-puisi indah ini.
Namanya seperti menjamin sebuah keindahan. Terutama keindahan kata-kata. Kahlil Gibran sudah seperti legenda bagi para pencintanya. Meskipun sudah lama berlalu, namanya akan tetap terus menjadi perbincangan yang hangat. Terutama jika dikaitkan dengan karya-karyanya.
Setiap manusia diciptakan dengan sebuah keistimewaan tersendiri oleh Tuhan. Jika Kahlil Gibran memiliki cerita kehidupan yang memilukan terutama dalam cinta, maka Tuhan memberinya kelebihan padanya berupa kepandaian merangkat kata-kata indah.
Kelihaiannya itulah justru yang membuat kehidupan Kahlil Gibran menjadi berbeda. Ia bisa jadi memang tidak mendapatkan kebahagiaan dari perjalanan hidupnya, tapi di sisi lain, ia mendapatkan kebahagiaan dari rasa cinta orang-orang yang mengagumi karya-karyanya. Keindahan dari puisi Kahlil Gibran tidak usah lagi diragukan.
Puisi Kahlil Gibran - Tentang Cinta yang Terlahir dari Kegagalan
Siapa yang tahu bahwa puisi Kahlil Gibran yang menggambarkan tentang keindahan cinta justru lahir dari sebuah kegagalan cinta. Puisi Kahlil Gibran tentang cinta ini banyak terlahir dari rasa sakit hati yang dirasakan oleh pria kelahiran Lebanon ini.
Kegagalan cinta yang dialami oleh Kahlil Gibran ini ternyata menginspirasinya dalam membuat puisi-puisi cinta. Puisi Kahlil Gibran tentang cinta pun rata-rata bernadakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Ada satu hal yang dipercayai oleh para penulis, bahwa inspirasi akan secara ajaib muncul jika kita sedang dalam keadaan tersakiti.
Titik terendah justru membuat mata kita bisa melihat segalanya lebih luas. Berdiam seorang diri di pojok ruangan justru akan membuat kita bisa melihat ke segala sisi. Hal itulah yang dirasakan oleh Kahlil Gibran ketika membuat puisi-puisi cintanya. Tidak heran jika puisi Kahlil Gibran tentang cinta ini seolah berpihak pada mereka yang merasa tersakiti dalam cinta.
Puisi Kahlil Gibran Tentang Cinta
Ini adalah beberapa puisi Kahlil Gibran tentang cinta. Beberapa puisi yang terlahir dari pemikiran serta perasaan seorang Kahlil Gibran, dan beberapa puisi yang dirasa dapat membius siapapun yang membacanya.
1. Puisi Kahlil Gibran - Kehidupan Cinta
a. Puisi Kahlil Gibran - Musim Semi
Mari sayangku, marilah kita berjalan di tengah-tengah perbukitan
Karena salju masih menjadi air dan kehidupan masih terjaga dari tidurnya, menjelajahi perbukitan dan lembah-lembah.
Marilah kita ikuti jejak Musim Semi ke lading di kejauhan
Dan naik ke puncak bukit untuk mendapat ilham
Di atas dataran tinggi hijau yang sejuk.
Fajar Musim Semi telah membuka pakaiannya
Yang disimpan selama Musim Dingin
Lalu menempatkannya di atas pohon-pohon prem dan sirtus.
Dan mereka tampak seperti mempelai wanita dalam upacara adat Malam Kedre
Ranting-ranting pohon anggur saling berangkulan seperti kekasih
Dan aliran sungai kecil menari-nari di antara bebatuan
Mengulang nyanyian sukacita
Bunga-bunga tiba-tiba saja berkembang dari jantung alam
Seperti buih di jantung lautan
Marilah sayangku, marilah kita minum
Air mata terakhir Musim Dingin dari bunga bakung
Yang menyejukan jiwa kita dengan nyanyian burung-burung
Berjalan-jalan gembira melalui hembusan angin lembut yang memabukkan
Marilah kita duduk dekat batu itu, tempat bunga violet bersembunyi
Marilah kita kejar manisnya pertukaran kecup mereka
b. Puisi Kahlil Gibran - Musim Panas
Marilah kita pergi ke lading sayangku,
Sebab waktu panen sudah dekat dan sinar matahari
Mulai mematangkan gandumnya
Marilah kita rawat buih bumi,
Sementara jiwa menumpuk gandum suka cita
Dari benih cinta yang ditaburkan dalam hati kita
Marilah kita isi wadah kita dengan hasil alam
Sementara kehidupan mengisi hati kita dengan kelimpahannya
Marilah kita jadikan bunga-bunga tempat tidur kita
Dan langit selimut kita
Marilah kita bersantai setelah seharian bekerja
Dan mendengar suara aliran sungai kecil yang menggoda
c. Puisi Kahlil Gibran - Musim Gugur
Marilah kita pergi mengumpulkan buah anggur di kebun anggur
Untuk diperas dan menyimpan minuman anggurnya dalam wadah yang lama
Seperti jiwa yang menyimpan pengetahuan sepanjang masa
Di dalam wadah-wadah kekal
Marilah kita kembali ke tempat tinggal kita
Sebab angin telah membuat angin-angin yang menguning jatuh
Dan menyelebungi bunga-bunga yang mengering
Membisikan nyanyian kematian pada Musim Panas
Pulanglah kekasihku yang kekal,
Sebab burung-burung telah berziarah ke tempat yang hangat
Dan meninggalkan daratan tinggi yang dingin
Menderita sendirian
Bunga melati dan semak belukar
Tak memiliki air mata lagi
Marilah kita tidur sebab aliran sungai kecil yang letih tidak lagi bernyanyi
Dan Musim Semi yang penuh keriangan telah habis tangisnya
Perbukitan tua pun telah menyimpan pakaian warna-warni mereka
Marilah sayangku,
Alam pantas letih dan sedang mengucapkan selamat tinggalnya
Dengan melodi yang hening dan penuh kepuasan
d. Puisi Kahlil Gibran - Musim Dingin
Dekatlah kepadaku, ya teman hidupku;
Dekatlah kepadaku dan janganlah sentuhan Musim Dingin
Menyelusup di antara kita
Duduklah di sampingku di depan perapian
Sebab api adalah buah satu-satunya Musim Dingin
Ungkaplah kepadaku kemuliaan hatimu
Sebab itu lebih besar daripada segala yang menjerit di luar pintu kita
Tutuplah pintunya sebab mimik marah surga membuat jiwaku tertekan
Dan wajah lading tertutup salju membuat jiwa menangis
Isilah lenteranya dengan minyak dan janganlah biarkan ia meredup
Letakanlah ia di sampingku agar aku dapat membacanya dengan air mata
Apa yang ditulis di wajahmu kehidupanmu bersamaku
Bawalah anggur Musim Gugur
Marilah kita minum dan nyanyikan lagu kenangan
Akan masa menabur yang riang gembira di Musim Semi.
Masa menumpuk di Musim Panas
Dan upah panen di Musim Gugur
Dekatlah kepadaku kekasihku, jiwaku
Apinya mulai dingin dan terbang di bawa abu
Rangkullah aku sebab aku takut kesepian
Lenteranya mulai redup dan anggur yang kita peras mulai menutup mata kita
Marilah kita berpandangan sebelum mereka terpejam
Carilah aku dengan lenganmu dan rangkullah aku
Biarlah tidur merangkul jiwa-jiwa kita menjadi satu
Kecuplah aku sayangku
Sebab Musim Dingin telah mencuri segalanya
Kecuali bibir kita yang bergetar
Engkau dekat di sampingku, selamanya milikku
Betapa dalam dan lebar samudra tidurku
Dan betapa fajar terasa baru saja berlalu.
Rangkaian puisi Kahlil Gibran tentang cinta ini memiliki judul yang seolah berurutan satu sama lain. Ke empat musim ini nyatanya memang terjadi secara bergantian. Seolah melambangkan bagaimana perasaan cintanya yang tidak pernah berubah dari musim ke musim.






