Emha dan Puisi Kejujuran
Puisi Kejujuran. Itulah yang menjadi ciri khas karya-karya penyair sekaligus budayawan asal Jombang, Emha Ainun Nadjib. Melalui puisi-puisi yang diciptakannya, seolah Emha bercerita tentang ketelanjangan. Ketelanjangan yang selama ini selalu dipoles oleh kosmetik-kosmetik kehidupan.
Akibatnya, kecantikan yang dicitrakan pun menjadi sesuatu hal yang bersifat semu. Kehidupan menjadi sebuah permainan kata-kata atas dasar seolah-olah. Ya, seolah-olah hidup yang ada di sekeliling kita saat ini sudah demikian ideal. Padahal, semata-mata semua hanyalah fatamorgana yang menipu.
Melalui rangkaian puisi kejujuran yang ditulisnya, Emha berusaha mengingatkan pada manusia untuk tidak terjebak pada sekadar yang nampak mata. Manusia diingatkan untuk selalu tenang dan tidak histeris pada kegelimangan dunia. Manusia diajarkan untuk tetap bisa mengingat pada hakikat kehidupan yang bermuara pada satu unsur. Tuhan.
Penjabaran Puisi
Bukan hanya melalui puisi ciptaannya, Emha juga menyitir karya pujangga besar lain untuk bertutur tentang kehidupan. Salah satunya adalah dengan menjabarkan bait-bait yang termaktub dalam lantunan syair “ilir-ilir”. Bait mahakarya pujangga sekaligus wali dalam wali songo, Sunan Kalijaga.
Bait-bait tersebut, dijabarkannya menjadi sebuah lantunan puisi kejujuran yang menjadi ciri Emha Ainun Nadjib. Bait-baitnya dijabarkan sesuai dengan kekacaubalauan dunia yang saat ini terjadi. Sebuah jabaran yang tak pernah bisa terpikirkan oleh manusia, saat melantunkan bait “ilir-ilir”.
Padahal bait-bait tersebut mungkin sering dilantunkan saat Anda masih berusia kanak-kanak. Namun tentang maknanya yang demikian mendalam berkisah tentang negeri bernama Indonesia, Anda tak pernah memikirkannya. Inilah kelebihan seorang Emha, budayawan kelahiran Jombang, 27 Mei 1953.
Puisi juga diperdengarkan dengan balutan musik. Melalui Kiai Kanjengnya, Emha mengkolaborasikan musik-musik etnik sebagai musikalisasi puisi. Hal ini sebagai sebuah upaya untuk menjadikan puisi sebagai karya seni yang ramah pada semua jenis telinga. Bukan sekadar karya seni yang hanya bisa dinikmati oleh jenis telinga tertentu saja.
Puisi bukanlah sebuah karya seni yang harus diperdengarkan dalam nuansa mengerikan dan keheningan. Puisi bagi Emha adalah sebuah karya yang harus bisa dinikmati dalam kesejukan dan kedamaian. Entah, dengan media apapun yang terutama adalah puisi harus bisa membawa suara kebenaran. Sebuah suara yang mewakili kegelisahan rakyat yang tidak mampu berteriak, atas himpitan kehidupan yang selama ini dirasakan mereka.






