logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Puisi Perjuangan    Puisi Kemerdekaan

Puisi Kemerdekaan dan Ironi Bangsa

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Puisi-puisi perjuangan atau puisi kemerdekaan banyak ditulis oleh pujangga-pujangga angkatan 45, seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Asrul Sani, dan Hariaji S. Hartowajojo.  

Puisi-puisi perjuangan kemerdekaan adalah puisi yang ditulis oleh penyairnya yang berguna untuk memberi sem ngat pada para pejuang yang membela tanah air dengan mengorbankan jiwa dan raganya.

Gaya puisi yang bertema perjuangan kemerdekaan biasanya bersifat ekspresionisme dan realism. Diksinya mengungkapkan tentang pengalaman yang mendalam intensitas makna.

Metafora yang digunakan biasanya selalu ambigu sehingga menimbulkan banyak makna. Gaya puisi yang penuh dengan ironi dan sinisme banyak dijumpai dalam puisi bertema perjuangan kemerdekaan yang kebanyakan ditulis sekitar 1945-1953.

Contoh puisi perjuangan yang ditulis Chairil Anwar adalah

Diponogoro

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyak seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bias mati
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
                                                                Chairil Anwar 1943

Puisi diponogoro di atas mengukangkap jiwa semangat juang seorang pangeran yang mengusir penjajah dengan penuh semangat patriotism. Martabat dan harga diri bangsa dapat kita tingkatkan jika kita mengenang kepahlawanan Pangeran Diponogoro.

Sutan Takdir Alisabana pun menuliskan puisi perjuangan yang meluap-luap tak terkendalikan

Perjuangan

Tentram dan damai?
Tidak, Tidak tuanku
Tentram dan dan damai waktu tidur di malam sepi
Tentram dan damai berbaju putih di dalam kubur
Tetapi hidup ialah perjuangan
Perjuangan semata lautan segara
Perjuangan semata alam semesta
Hanya dalam berjuang beta merasa tenram dan damai
Hanya dalam berjuang Engkau Tuhanku di dalam dada
                                                                                                (‘perjuangan’)

Puisi Taufik Ismail pun ada yang bertema perjuangan yang penuh dengan ironi dan sinisme;

Kita  adalah Pemilik Sah Republik ini
Tak ada pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Apakah kita akan jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain kita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata kuyu, yang di tepi jalan
Mengacungkan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam, inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tak ada pilihan lain kita harus
Berjalan terus.

                                                                (1966)

Puisi perjuangan ini adalah sebuah kritik terhadap pemerintahan yang tak kunjung bisa mensejahterakan rakyatnya meski sudah merdeka.

Puisi yang ditulis oleh Taufik Ismail yang penuh ironi dan sinisme ini merupakan ungkapan keprihatinannya terhadap kinerja pemerintahan yang lambat dalam mengentaskan kemiskinan. Rakyat tetap sengsara meski sudah merdeka.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Diponegoro, Salah Satu Puisi Perjuangan Terbaik
  • Puisi Pahlawan - Pengobar Semangat Juang Generasi Muda
  • Puisi Perjuangan - Pemompa Semangat yang Tak Pernah Padam
  • Bersemangat dengan Puisi tentang pahlawan
  • “Aku Tulis Pamplet Ini”, Sajak Perjuangan Rakyat
  • Puisi Indonesia: Puisi Perjuangan WS. Rendra
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA