Diponegoro, Salah Satu Puisi Perjuangan Terbaik
DIPONEGORO
(Chairil Anwar)
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Latar Belakang
Siapa tak kenal dengan puisi Diponegoro? Walau sudah membuatnya 56 tahun yang lalu, namun puisi ini terasa abadi, dan selalu dikenang banyak orang. Perjuangan kemerdekaan yang melatarbelakanginya bagaikan bahan bakar yang menggerakkan generasi sesudahnya untuk terus melanjutkan perjuangan.
Perang Diponegoro (1825-1830) adalah salah satu perang terbesar yang dihadapi Belanda selama menjajah Nusantara. Sebab wilayah medan perangnya yang luas, mencakup seluruh Jawa sehingga disebut juga “Perang Jawa”, dan jumlah korban yang banyak di kedua pihak.
Kejelian dan Kejeniusan Chairil Anwar
Puisi ini dibuka dengan kalimat “di masa pembangunan ini”. Seolah kapan pun puisi ini dibacakan, maka akan selalu relevan. Ya, setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan, bagi Chairil muda maka inilah saatnya untuk berjuang dengan dimensi yang berbeda, yaitu membangun peradaban bangsa.
Selanjutnya Chairil menulis “Tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api”. Kalimat ini seakan menegaskan kekagumannya kepada tokoh Diponegoro. Memang, banyak alasan untuk mengagumi tokoh yang satu ini.
Penolakannya pada kedudukan dan kemewahan, pembelaannya pada rakyat kebanyakan, pilihan jalan hidupnya yang mengagumkan, serta keberaniannya yang berlandaskan kebenaran. Chairil Anwar telah jeli memilih dan menyimbolkan Diponegoro sebagai motivator pembangunan bangsa.
Chairil Anwar juga dengan jeniusnya selalu bisa menghadirkan kalimat-kalimat dalam puisinya yang di kemudian hari menjadi suatu jargon yang sering dikutip oleh banyak orang, seperti yang terdapat pada kalimat “sekali berarti setelah itu mati” pada puisi ini, contoh lainnya adalah “aku mau hidup seribu tahun lagi” (Aku), di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling (Doa), dan masih banyak lainnya.
Klimaks
Di bagian akhir puisi, Chairil ingin membuatnya menjadi klimaks. Kata-kata maju! Serbu! Serang! Terjang! adalah kata ajakan yang menggugah semangat pembacanya. Siapa pun yang membacanya seolah dialiri darah pahlawan yang siap melanjutkan perjuangan. Intonasi bagi yang membacakannya pun akan berteriak penuh semangat dengan sedikit bergetar.
Jadi, tak salah bila puisi ini digadang-gadang sebagai salah satu puisi perjuangan terbaik yang dimiliki khasanah sastra Indonesia.






