Puisi Puisi Chairil Anwar yang Terkenal
Ilustrasi puisi puisi chairil anwar
Siapa yang tak kenal nama Chairil Anwar, penyair yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai salah satu pelopor puisi modern Indonesia angkatan ’45 bersama Rivai Apin dan Asrul Sani. Chairil Anwar merupakan seorang penyair yang meninggal pada usia cukup muda yakni sekitar dua puluh tujuh tahun. Chairil Anwar meninggal akibat penyakit TBC yang dideritanya.
Meskipun hanya mencatat usia dua puluh tujuh tahun, namun Chairil Anwar mampu menorehkan karya-karya puisi yang mengabadi ditelan zaman. Puisi puisi Chairil Anwar sampai hari ini masih dikenang oleh generasi muda Indonesia, bahkan dijadikan referensi dalam pembelajaran sastra maupun bahasa Indonesia.
Tak hanya itu, puisi puisi Chairil Anwar juga banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hal ini membuat seorang Chairil Anwar tak hanya dikenang sebagai seorang sastrawan Indonesia, namun juga cukup dikenal di kalangan sastrawan internasional.
Chairil Anwar terlahir dari keluarga yang sedikit bermasalah, orang tuanya mengalami perceraian. Sementara Chairil Anwar sendiri tumbuh sebagai sosok yang memiliki kemauan kuat, pantang menyerah dan pantang mundur. Pribadi Chairil Anwar adalah pribadi menyala-nyala dan meluap-luap terhadap apa yang menjadi kehendak dan cita-citanya.
Hal ini secara jelas juga dapat kita lihat pada tiap lirik puisi puisi Chairil Anwar, karakter sifat penulis terlihat jelas pada pilihan diksi kata yang terangkai dalam puisi-puisinya. Jassin selaku rekan beliau mengatakan, “Suatu ketika saya pernah bermain bulu tangkis bersama beliau, dan beliau kalah. Namun beliau tidak mengakui kekalahannya tersebut. Lalu beliau meminta permainan diulang berkali-kali hingga akhirnya beliau mengalahkan saya.”
Chairil Anwar meninggal pada 28 April 1949 pukul 15.15 WIB pada usia dua puluh tujuh tahun. Pola hidupnya yang semrawut membuat kondisi fisiknya terserang banyak penyakit. Persentuhannya yang hanya sebentar di dunia kesusastraan tanah air telah mampu memberikan perubahan besar pada iklim kesusastraan Indonesia.
Chairil Anwar sedikitnya menguasai tiga bahasa yakni bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Belanda. Chairil Anwar merambah terkenal di dunia sastra saat usianya mencapai dua puluh tahun, saat itu tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada tahun 1942.
Beberapa buku yang ditulisnya diantaranya; Deru Campur Debu (1949),Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949).
Karya Puisi Terkenal Chairil Anwar
Berikut ini beberapa contoh teks puisi puisi Chairil Anwar yang cukup terkenal, sebagian merupakan puisi-puisi yang bertema tentang perjuangan;
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)
Ilustrasi puisi puisi chairil anwar
Anda sedang merasa puitis akhir-akhir ini? Tak ada salahnya belajar pada puisi puisi Chairil Anwar. Walaupun beliau angkatan 45 dan mati muda pada 1949, di usia 27 tahun karena TBC, tetapi puisi-puisinya terus mendapatkan simpati hingga detik ini.
Bahkan, pada Bulan Juni 2007 lalu,beliau masih juga dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra.
Puisi Sebagai Inspirasi Perjuangan
Pada zaman kemerdekaan dulu,puisi-puisi Chairil Anwardianggap telah menjadi inspirasi bagi perjuangan bangsa Indonesia. Puisi-puisinya memang penuh dengan aroma perjuangan, semangat, pemberontakan.
Lihat saja puisi “Aku”-nya yang fenomenal. Kata “Aku binatang jalang” dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai jeritan kata hati rakyat yang sedang terjajah untuk bebas merdeka.“Aku mau hidup seribu tahun lagi”, serunya, mengartikan semangat yang tak mau padam untuk memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan.
Tak heran jika puisi-puisinya penuh semangat, karena menurut seorang teman dekatnya,Sjamsul Ridwan, Chairil Anwar mempunyaikeinginan dan hasrat untuk mendapatkan, itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Puisi senada yang mengapresiasi kisah perjuangan kemerdekaan bisa kita nikmati di karyanya yang berjudulKrawang-Bekasi, saduran dari sajak The Young Dead Soldiers, karya Archibald MacLeish (1948).Belum lagi sajak lainnya sepertiDipenogoro.
Chairil juga menulis sajakPersetujuan dengan Bung Karno, yang menyiratkan dukungannya pada Sang Proklamator untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Chairil Sebagai Perenung dan Pencinta
Sebagai penyair angkatan '45, Chairil telah menciptakan trend baru dalam pemakaian kata berpuisi yang terkesan sangat lugas dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin menjadi pelopor puisi modern Indonesia
Tetapi, tak semua puisi-puisi Chairil Anwar bertemakan perjuangan, beberapa puisinyajuga menunjukkan kecintaan pada ibunya.Selain ibunya, ada beberapa sosok wanita lainnya yang menjadi objek puisinya.
Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini yang masuk kedalam puisi-puisinya, sebagai gadis yang dikejar-kejarnya. Dan hanya kepada Hapsah-lah, gadis Karawang, dia menambatkan hatinya.
Sisi lain dari Chairil Anwaradalah sisi religius. sebuah sisi yang bisa kita temukan dalam salah satu puisinya yang bertajuk “Doa”. Berikut penggalannya,
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Puisi-puisi Charil Anwar bisa memberikan inspirasi bagi Anda dalam kehidupan kekinian. Karyanya tentang cinta, perenungan hidup, dan motivasi dapat Anda temukan dengan jelas, tersurat, dalam kumpulan kata-kata lugas dan indah.

