logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Cinta & Persahabatan    Puisi    Puisi Cinta Kahlil Gibran    Puisi Puisi Kahlil Gibran

Puisi-puisi Kahlil Gibran Tentang Mencintai Pekerjaan dan Tuhan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Siapa yang tidak mengenal puisi-puisi Kahlil Gibran? Siapa juga yang meragukan kemampuan lelaki ini dalam merangkai kata-kata? Keindahan dalam puisi-puisi Kahlil Gibran ini sudah banyak diakui oleh banyak pencinta puisi dan keindahan.

Keindahan yang tertuang dalam puisi-puisi Kahlil Gibran telah menasbihkannya sebagai penyair paling berpengaruh. Namanya terkenal hingga kini diseantero negeri. Menyampaikan kata-kata indah sepertinya memang sudah menjadi hobi bagi lelaki kelahiran Lebanon 6 Januari 1883 ini.

Puisi-puisi Kahlil Gibran yang sebagian besar berisikan kata-kata indah tentang kehidupan serta berbagai hal didalamnya ini lahir dari pemikiran alami seorang penyair. Kahlil Gibran menulis seperti hanya itulah yang dapat membuatnya hidup. Seperti hanya tulisan lah yang dapat membantu dia mengutarakan keinginannya terhadap apapun. Termasuk dalam cinta.

Kecintaan manusia terhadap sesama atau Tuhannya memang menjadi sebuah inspirasi terbesar dalam menciptakan sebuah karya. Itu juga lah yang sepertinya melatarbelakangi puisi-puisi Kahlil Gibran diciptakan.

Kepakaan terhadap perasaan cinta yang dimiliki Kahlil Gibran bisa jadi memang berbeda. Ditambah lagi dengan kepiawaiannya dalam merangkai kata. Dua hal tersebut menjadi sebuah perpaduan sempurna yang berperan dalam "membangun" puisi-puisi Kahlil Gibran.

Kahlil Gibran memiliki kehidupan yang sebenarnya tidak seindah rangkaian kata-kata dalam puisi-puisi Kahlil Gibran. Dikecewakan menjadi semacam "pelajaran hidup" sehari-hari yang terus menerus diajarkan kehidupan kepadanya. Di balik itu semua Kahlil Gibran ternyata memilliki potensi yang ajaib di bidang sastra, khususnya puisi.

Puisi-puisi Kahlil Gibran - Puisi Kahlil Gibran Tentang Tuhan

Berikut ini adalah satu diantara puisi-puisi Kahlil Gibran yang cukup terkenal. Puisi ini menyimpan makna tentang hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya.

Adakah hal lain yang aku bicarakan hari ini?
Bukankah agama adalah semua tindakan dan semua renungan.
Dan bukan hanya tindakan maupun renungan, melainkan ketakjuban dan pesona yang muncul dari dalam jiwa, bahkan ketika tangan membelah batuan atau merajut tenunan.
Siapakah yang dapat memisahkan iman dari tindakan, kepercayaan dari pekerjaan? Siapa yang dapat menyebarkan jam-jam Dia di hadapan-Nya dan berkata, “Ini untuk Tuhan dan ini untukku sendiri. Ini untuk jiwaku dan ini untuk tubuhku?”
Kehidupan keseharianmu adalah kuilmu dan agamamu.
Ketika kamu masuk ke dalamnya, ikutkan seluruh diri kamu bersamamu.

Maksud dari salah satu puisi dari puisi-puisi Kahlil Gibran ini adalah bahwa ada orang yang menyembah Tuhan hanya di pinggiran-pinggiran. Ia dekat dengan Tuhan, menyembah-Nya, bederma, dan menyebarkan kasih sayang atas nama-Nya, memuji-muji dan mengagungkan kalimat-Nya, hanya ketika Tuhan memberinya kesenangan, kesehatan, dan semua yang dia anggap baik.

Namun, ketika kesulitan, kesengsaraan, deraan masalah, dan berbagai peristiwa yang menggoncang hidup mulai menerpa, ia pun sekonyong-konyong mencampakkan Tuhan dari kehidupannya. Tuhan menjadi “pesakitan”; dituduh menjadi biang dari segala derita hidup. Makna dalam salah satu puisi dari puisi-puisi Kahlil Gibran ini sungguh dalam.

Dalam bahasanya Gordon W. Allport pada puisi-puisi Kahlil Gibran, cara beragama semacam itu disebut keberagamaan ekstrinsik. Artinya, seseorang hanya beragama di luarnya saja. Agama hanya dijadikan stempel, aksesoris bagi status sosial, dan sarana untuk mewujudkan keinginan-keinginan duniawinya. Dengan demikian, agama bukan merupakan bagian dari kesejatian hidupnya. Itukah keberagamaan kita?

Apa yang diungkapkan Kahlil Gibran (1883-1931) dalam bait puisi-puisi Kahlil Gibran —sebagaimana terungkap dalam Sang Nabi— seakan menelanjangi cara hidup sebagian orang yang hanya menjadikan agama sebagai topeng untuk menutupi bopeng-bopeng di mukanya. Cinta, kasih sayang, pengabdian, pengorbanan, sikap berbagi, empati, dan semua nilai-nilai unggul kemanusiaan acapkali dilepaskan dari agama.

Padahal, agama itulah sumber utama dari semua keutamaan. Ketika kita mencintai, sebagaimana tersirat dalam puisi-puisi Kahlil Gibran lainnya, cinta itu kita lepaskan dari nilai-nilai agama. Cinta itu kita lepaskan dari Sang Pemilik Cinta sehingga kecintaan kita berbeda dari cara Dia mencintai.

Bagaimana Tuhan mencintai juga tersirat dalam puisi-puisi Kahlil Gibran? L’amour n’est pas parce que maris malgre. Ketahuilah, cinta Tuhan adalah “cinta walaupun” bukan “cinta karena." Dia tetap mencintai, mengasihi, membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk manusia, “walaupun” manusia tidak mencintai-Nya, tidak mematuhi kehendak-Nya, dan terus menjauh kepada-Nya dengan melakukan beraneka macam dosa. Itulah cinta Tuhan. Andai pun Dia “memberi balasan," itu ada dalam kerangka cinta dan kasih sayang-Nya.

Ketika kita tidak menyertakan Dia ketika mencintai, ungkapan cinta kita menjadi penuh pamrih, hampa makna, dan terlepas dari dimensi spiritual. Cinta kita menjadi “cinta karena." Aku mencintainya “karena” dia kaya, “karena” dia terkenal, “karena” dia rupawan, dan karena-karena lainnya. Hal itu sama sekali digambarkan jelas dalam puisi-puisi Kahlil Gibran.

Cinta kita akhirnya menjadi cinta bersyarat; cinta yang materialistis. Ketika syarat-syarat itu tidak lagi ada, hilang sirna pula kecintaan kita. Demikian pula, ketika kita ingin mencintai Tuhan dengan modus “karena." Aku menyembah Tuhan “karena” Dia telah memberiku banyak kesenangan, “karena” takut akan siksa-Nya, “karena” malu kepada mertua, dan sebagainya. Ketika Tuhan memberikan ujian berupa kesedihan, kesengsaraan, dan nestapa, kita pun berhenti menyembahnya. Bahkan, berbalik mencercanya. Fenomena kecintaan makhluk Tuhan juga tersampaikan dengan jelas dalam puisi-puisi Kahlil Gibran.

Dengan demikian, menurut pujangga kelahiran Lebanon ini, kita selayaknya menyertakan Tuhan dan nilai-nilai luhur yang diajarkan-Nya dalam setiap gerak langkah kehidupan kita, hatta ketika membelah batu maupun menenun kain. Tidak ada dikotomi antara yang sakral dan profan; antara untuk Tuhan dan untuk kita. Semuanya satu kesatuan, satu tujuan, dan satu semangat: “untuk cinta dan pengabdian." Ketulusan cinta yang seperti ini menjadi hal yang lumrah dalam puisi-puisi Kahlil Gibran.

Dalam puisi-puisi Kahlil Gibran, rasa cinta yang digambarkan bukan hanya perihal antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan, tapi lebih luas dari itu. Kecintaan seseorang terhadap pekerjaannya pun menjadi semacam cerita yang dirasa menarik bagi Kahlil Gibran. Berikut ini adalah sebuah puisi dari kumpulan puisi-puisi Kahlil Gibran yang menggambarkan bagaimana seharusnya mencintai pekerjaan.

Jika engkau bekerja dengan cinta,
itu berarti engkau menenun dengan sutra dari hatimu,
seakan kekasihmu sendiri yang mengenakannya.
Itu berarti engkau menabur dalam kelembutan, memetik dengan sukacita,
seakan kekasihmu sendiri yang menikmatinya di meja perjamuan.

Kerja adalah cinta yang nyata, kasih yang tampak.
Dan, jika engkau tidak bisa bekerja dengan cinta, tetapi dengan rasa enggan,
maka baiklah bagimu meninggalkan tempat kerjamu,
dan duduk di pinggir jalan sambil mengemis sedekah.

Sebab, jika engkau bekerja sambil bersungut-sungut,
sebenarnya engkau tengah menabur racun ke dalam adonan rotimu.
Dan, jika engkau bekerja setengah hati,
sebenarnya engkau tengah membuat roti busuk yang membuat sakit perut.
Dan, jika engkau menyanyi seindah lagu bidadari,
Tetapi ketika engkau berdendang tanpa cinta,
maka tembangmu hanya membuat bising telinga orang saja.

Tahukan Anda bahwa keindahan puisi-puisi Kahlil Gibran justru terlahir dari rasa sakit yang dideritanya. Sebagai seorang manusia biasa, Kahlil Gibran memiliki rasa cinta. Rasa cinta yang dimiliki Kahlil Gibran justru memberikan kekecewaan pada dirinya. Kegagalan dalam bercinta semakin menginspirasi Kahlil Gibran untuk merangkai kata-kata. Hingga terciptalah puisi-puisi Kahlil Gibran yang melegenda.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Kisah Kahlil Gibran Sayap Sayap Patah
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA