Apresiasi Puisi Puisi Karya Chairil Anwar
Ilustrasi puisi puisi karya chairil anwar
Chairil Anwar merupakan penyair legendaris yang dikenal juga sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul “Aku”). Untuk mengenang Chairil Anwar, DKJ memberikan anugerah sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar.
Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.
Pada saat duduk di Sekolah Dasar, kita sudah cukup akrab dengan puisi puisi karya Chairil Anwar dengan judul-judul seperti; Aku, Krawang-Bekasi, Doa, Hampa, Diponegoro dan sebagainya. Chairil Anwar merupakan salah satu pelopor puisi modern Indonesia. Puisi-puisinya digolongkan ke dalam angkatan ‘45.
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga dijiplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
Kumpulan puisi Chairil Anwar lainnya yaitu: Aku Ini Binatang Jalang (1986); Koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).
Karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck).
Sementara karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol adalah: “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963); “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969);
The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970); The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan HB Jassin (Singapore: University Education Press, 1974); Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978); The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
Chairil hadir pada situasi peralihan yang penuh gejolak. Sebuah transisi dari situasi terjajah menuju kemerdekaan. Penolakan terhadap kolonialisme dan pemikiran dunia yang muncul pada masa Perang Dunia II ikut membentuknya.
Chairil Anwar sebagai seorang penyair handal tak hanya mampu menyajikan gaya bahasa bermakna pada puisi-puisinya, namun ia juga mampu meniupkan ruh pesan moral luar biasa dalam karya-karyanya. Chairil Anwar tak hanya sekedar menyajikan karya sastra, sejatinya ia juga telah memberikan petuah-petuah bermakna yang dapat dikenang oleh zaman.
Chairil Anwar menjadi sangat terkenal karena dua hal. Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi dan sebagainya.
Ahli sastra menyebut sastra jenis ini dengan istilah Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal itu dapat berupa tanggapan dari persoalan-persoalan besar di zaman itu. Beberapa karya Chairil Anwar yang termasuk sastra mimbar adalah Aku, Perjanjian Dengan Bung Karno, Catatan Tahun 1946 dan Kerawang Bekasi.
Kedua, ia juga menulis sajak-sajak yang menjadi bahan perenungan yang temanya lebih kepada persoalan-persoalan keseharian. Ahli sastra menyebutnya Sastra Kamar. Karya Chairil yang digolongkan kedalam jenis ini adalah Senja di pelabuhan, Derai-Derai Cemara, Penghidupan. Pengolahan bahasa sajak-sajak Chairil sangat khas dan spesifik.
Suatu hal penting yang membuat karya puisi menjadi abadi ternyata tak hanya sekedar keindahan bahasa yang disajikan, namun juga bagaimana kekokohan pesan yang dibangun dalam sebuah puisi. Puisi puisi karya Chairil Anwar memberi inspirasi bagi para kaum muda bagaimana agar dapat menyajikan sebuah karya sastra yang tak hanya menghibur, namun juga memiliki nilai edukasi moral yang baik dan akan awet dimakan zaman.
Chairil telah membuka kemungkinan yang sangat tak terduga. Ia membawa suasana, gaya, ritme, tempo, nafas, kepekatan dan kelincahan yang mengagumkan kepada sastra Indonesia. Sampai saat ini masih terasa pengaruh bahasa sajak Chairil ikut membawa warna perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.
Chairil mampu melepaskan bahasa dari lingkungan kaidah baku bahasa, yang mungkin secara tata bahasa menyalahi aturan, tetapi sebagai sarana ekspresi sangat fungsional dan indah. Begitu kuatnya pengaruh Chairil di dalam mengolah pengucapan bahasa sajak, menyebabkan penyair-penyair sesudahnya meneladani cara pengolahan bahasa sajaknya.
Anda tentu masih ingat Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang sampai saat ini masih sering disebut-sebut. Gurindam Dua Belas tak hanya dijadikan sebagai referensi karya sastra yang baik, namun juga referensi moral para generasi muda. Dan yang menjadi kunci keberhasilan Gurindam Dua Belas tetap dikenang zaman adalah nilai pesan moral dalam karya ini yang tetap bisa bernilai kontemporer sepanjang zaman.
Apresiasi Puisi Puisi Karya Chairil Anwar
Berikut ini disajikan beberapa judul puisi karya Chairil Anwar dan sedikit ulasannya.
1. Puisi ‘Doa’
Saat Sekolah Dasar, puisi ini termasuk dari karya Chairil Anwar yang kita temukan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi ini merupakan ungkapan kejujuran seorang Chairil Anwar selaku penyair sekaligus hamba Tuhan.
Chairil dalam lirik akunya menyebutkan tentang kesulitan diri dalam mendekatkan diri dan mengingati Tuhan, ini merupakan realitas permasalahan seorang hamba dalam kehidupan. Puisi ini mengungkapkan tentang rasa keinginan seorang hamba untuk kembali kepada Tuhannya setelah ia letih dengan pergulatan hidup yang melelahkan.
Dalam kalimat ‘Aku hilang bentuk, remuk’ terlihat jelas bagaimana lirik aku mengungkapkan kejujurannya. Puisi ini memberi inspirasi pada manusia untuk jangan sesekali melupakan Tuhan dalam hidupnya. Segala macam persoalan, tidak pernah bisa terlepas dari keberadaan Tuhan Sang Pencipta.
2. Puisi 'Aku'
Puisi berjudul ‘Aku’ milik Chairil Anwar merupakan bentuk puisi yang menampilkan semangat, kegigihan dan rasa tekad yang tinggi dalam diri seseorang untuk menjalani kehidupan dan perjuangannya. Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.
Bahasa-bahasa yang dibangun dalam puisi ini cukup kokoh, memiliki kekuatan ditiap bangunan diksinya. Hidup membutuhkan sikap optimis, dan Chairil Anwar berhasil memasukkan pesan itu dalam ‘Aku’ dengan cukup cantik.
3. Puisi 'Krawang-Bekasi'
Dalam puisi ini Chairil menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. sajak “Krawang-Bekasi” disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).
4. Puisi 'Persetujuan dengan Bung Karno'
Puisi yang dimuat dalam majalah Liberty jilid 7 dan dibuat pada tahun 1948 ini merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Menyuarakan bangsa Indonesia bahwa sesungguhnya yang dibutuhkan bangsa bukan hanya sekedar janji, melainkan bukti. Bagsa Indonesia satu, satu zat satu urat, sama, Walau suatu saat akan pergi (bertolak) tapi akan kembali lagi, membela kepentingan bangsa (berlabuh).
5. Puisi 'Nisan'
Puisi ini adalah puisi pertama yang ditulis Chairil Anwar. Usianya ketika ini baru menginjak dua puluh tahun. Kehilangan yang sangat besar digambarkan Chairil dalam puisi ini karena kehilangan nenek yang sejak kecil telah merawatnya. Neneknya diceritakan begitu "ridla menerima segala tiba". Begitu tenang dan taklagi berdaya. Sementara takdir sudah berkata, begitu dingin, tanpa belas kasih, membawa pergi sang nenek.
Bagi Chairil, kematian yang menghampiri sang nenek membuatnya melihat dua hal. Pertama, betapa tidak berdayanya manusia menghadapi sang maut. Kedua, Betapa angkuhnya maut melaksanakan tugasnya tanpa mau berkompromi dengan siapa pun, "Tak kutahu, setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta."

