logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Taufik Ismail

Apresiasi Puisi-puisi Taufik Ismail


Ilustrasi puisi puisi taufik ismail

Membaca puisi-puisi Taufik Ismail akan mengingatkan kita pada semangat juang para pemuda untuk memperjuangkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam puisi-puisinya, Taufik Ismail tak pernah berhenti menyerukan kritik-kritik sosial, politik, hukum dan ekonomi. Semangat heroik seorang pemuda cukup kental dalam karya-karya penyair nasional yang satu ini.

Setiap penyair tentulah memiliki ciri kekhasan muatan karya, seorang Abdul Hadi WM misalnya, atau Ahmadun Yosi Herfanda merupakan sosok-sosok penyair yang lebih kental dengan puisi-puisi sufi. Puisi ketuhanan yang bermuatan spiritual ajakan mengingat dan memuji Tuhan melalui karya sastra.

Bagi kaum muda aktivis pergerakan mahasiswa, puisi puisi Taufik Ismail adalah inspirasi. Bahasa politik saja ternyata tak cukup untuk menjaga semangat reformasi Indonesia yang terus dijalankan, bahasa sastra adalah bahasa metafora yang cukup halus. Sindiran sopan dan kritikan halus disampaikan para sastrawan seperti Taufik Ismail melalui karya-karyanya. Siapa pun dapat menikmatinya secara terbuka.

Taufik memberikan pencerahan kondisi objektif Indonesia kepada para pembaca. Objektivitas yang ditampilkan Taufik semata-mata bukanlah untuk kepentingan politik tertentu, melainkan ungkapan naluri seorang anak bangsa yang tergerak hatinya untuk menyuarakan kondisi real  negaranya kepada orang lain. Tak ada yang pantas merasa tersindir, sebab Taufik Ismail berbicara dengan jujur pada kapasitas dirinya sebagai seorang sastrawan.

Karya Puisi-puisi Taufik Ismail

Berikut ini bentuk apresiasi terhadap puisi puisi Taufik Ismail yang pada umumnya bernuansa kritik sosial;

  1. Puisi dengan judul ‘Kembalikan Indonesia padaku’
    Puisi ini mengkritisi banyak hal tentang kehidupan sosial bernegara, diantara muatan kritik Taufik dalam puisi ini adalah; soal ekonomi pangan, krisis pasokan listrik tanah air, kepadatan penduduk Indonesia yang kian meningkat. Puisi ini ditulis Taufik Ismail pada tahun 1971 saat ia berada di Paris.

    Seorang Taufik muda ialah sosok pemuda yang peduli dengan kondisi bangsanya. Puisi Kembalikan Indonesia padaku ini memiliki bentuk permainan tipografi yang cukup menarik, dengan bentuk pengulangan-pengulangan kalimat yang cukup kreatif. Sejak muda Taufik Ismail telah mampu menunjukkan bakat besarnya sebagai seorang penyair handal.

  2. Puisi dengan judul ‘Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya’
    Puisi bercerita narasi mengenai bentuk perjuangan para mahasiswa di tahun 1966 dalam memperjuangkan reformasi. Lirik aku pada puisi ini mengambil subjek seorang tukang rambutan yang menyaksikan perjuangan para mahasiswa di lapangan dalam memperjuangkan perubahan sistem kehidupan bernegara.

    Kritik sosial yang kental pada puisi ini adalah saat dikatakan para mahasiswa justru lebih berterimakasih dan menghormati seorang tukang rambutan dibanding kepada pejabat pemerintah saat itu. Lirik aku si tukang rambutan juga menunjukkan bentuk dukungan dan simpati masyarakat kecil seperti seorang tukang rambutan terhadap gerak perjuangan aktivis muda dan mahasiswa untuk mengontrol jalannya sistem pemerintahan bernegara.

  3. Puisi dengan judul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’
    Keresahan Taufik Ismail terhadap multi krisis yang terjadi di tanah air cukup kental pada puisi ini. Puisi yang ditulis Taufik pada tahun 1998 ini mengekspresikan bentuk kerisauan Taufik akan terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial dan hukum yang terjadi pasca bergulirnya reformasi pada tahun 1998.

    Puisi ditulis cukup panjang, dan sangat layak diambil nilai pelajaran berharganya bagi para aktivis mahasiswa yang mengusung proses reformasi di tanah air. Puisi puisi Taufik Ismail menunjukkan keidealisan diri seorang aktivis mahasiswa, tak hanya saat ia masih muda dan bergelar mahasiswa, bahkan saat kita ia telah memasuki usia tua, idealisme itu tetap terpancar.

Puisi-puisi Taufik Ismail yang Memotret Sejarah

Puisi-puisi Taufik Ismail menjadi salah satu kekayaan puisi yang dimiliki Indonesia. Pilihan kata yang ada pada puisi karya Taufik Ismail sungguh berbeda dengan puisi-puisi karya sastrawan lainnya. Ada kekhasan yang tidak dimiliki oleh puisi lain dan hanya akan Anda temui pada puisi-puisi karyanya.

Puisi-puisi Taufik Ismail - Salah Satu Puisi Kebanggaan Indonesia

Dunia sastra yang ada di Indonesia memang memiliki puisi, novel, film sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Ketiga karya tersebut masing-masing memiliki kekuatan. Pada novel dan puisi, kekuatannya terletak pada pilihan kata yang bermakna.

Dalam proses pembuatannya, kedua karya, novel dan puisi, pastinya memiliki proses kreatif yang berbeda. Novel bukan hanya mengandalkan pilihan kata, tapi juga imajinasi mengembangkan sebuah cerita. Plot, latar belakang, dan cerita menjadi kekuatan dari karya ini.

Berbeda dengan puisi. Puisi memiliki kekuatan benar-benar pada pilihan kata. Penggunaan majas menjadi bagian yang juga tidak terpisahkan dari karya ini. Seperti puisi-puisi Taufik Ismali, beliau pun tidak luput untuk menggunakan majas bahasa sebagai gaya bahasanya.

Majas atau gaya bahasa memang lumrah digunakan dalam menciptakan sebuah karya sastra, terutama puisi. Perannya adalah untuk mempercantik rangkaian kata. Lebih jauh, majas ini juga bisa berfungsi sebagai "pengabur" makna yang sesungguhnya.

Karena kadang, puisi diciptakan dengan tujuan mengkritik dan menghujat salah satu pihak. Agar puisi tersebut tidak terkesan kasar dan melanggar etika, majas pun digunakan. Meskipun demikian, ada beberapa sastrawan yang seolah tidak peduli. Mereka menerobos dan mengenyampingkan aturan.

Puisi-puisi Taufik Ismail - Lugas dan Sederhana

Di antara puisi-puisi milik sastrawan Indonesia lainnya, puisi karya Taufik Ismail memiliki kejujuran di setiap baitnya. Penyair ini melukiskan kejadian demi kejadian dengan lugas. Kering ia katakan kering. Kemarau ia katakan kemarau.

Penggunaan majas dalam puisi-puisi Taufik Ismail juga tidak terlalunjlimet. Ia merangkainya dengan cukup sederhana. Tapi justru dengan kesederhanaan itulah, puisi karyanya mudah dikenali dan digemari oleh orang awam.

Jangan bandingkan dengan puisi milik Sutardji Calzoum Bachri. Karena kedua puisi ini adalah puisi dengan gaya yang berbeda. Puisi milik Sutardji Calzoum Bachri penuh dengan trik dan intrik. Penempatan kata per-kata yang ada pada puisi milik SCB sungguh tidak biasa. Tidak seperti puisi pada umumnya.

Ditambah lagi pilihan kata dan makna yang terkandung di dalamnya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang awam tidak menyukai puisi. Mereka harus berpikir terlebih dahulu untuk bisa benar-benar menikmati. Berbeda dengan puisi-puisi Taufik Ismail, yang lebih sederhana.

Puisi-puisi Taufik Ismail dan Kritik Sosial

Taufiq Ismail dikenal sebagai penyair pelopor Angkatan ’66 yang mampu menyuarakan kritik sosial melalui puisi. Kritik terhadap kepincangan sosial dan berbagai peristiwa yang menimpa masyarakat diungkapkan Taufik secara lugas dan jelas, menohok, dan jujur. Puisi-puisi Taufik Ismail adalah kritik sosial yang tajam.

Terkadang puisi-puisi Taufik Ismail mampu memotret peristiwa bersejarah, yang oleh generasi berikutnya, dapat dikaji dan dianalisis kembali. Semisal, puisi-puisi yang terhimpun dalam Tirani dan Benteng yang merekam peristiwa demonstrasi mahasiswa pada 1966.

Sebelum menulis puisi tentang peristiwa tersebut, Taufik juga telah menulis puisi yang mengangkat tema kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, angan-angan, cita-cita, dan tekad.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan Taufik sendiri yang pernah menyaksikan tragedi kelaparan pada masa itu. Berikut salah satu puisi yang menggambarkan peristiwa kelaparan tersebut.

Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
            Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
            Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
            Kalau
                1964
                Sumber : Tirani dan Benteng

Lukisan keadaan mengkhawatirkan terasa jelas dalam bait puisi-puisi Taufik Ismail. Betapa tragedi kelaparan digambarkan dengan cukup menyedihkan. Lain puisi tentang kelaparan, lain pula puisi tentang gambaran pada peristiwa G 30 S/ PKI berikut ini.

Emosi meledak-ledak dapat kita rasakan ketika memotret peristiwa demonstrasi mahasiswa pada1966. Aksi tersebut meneriakan tiga tuntutan rakyat (tritura) yang pada masa itu PKI sangat berkuasa setelah melakukan gerakan yang dikenal dengan G 30 S/ PKI  pada 1965. Berikut salah satu puisi yang memotret peristiwa tersebut.

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN!
                        1966
                        Sumber: Tirani dan Benteng

Taufik Ismail tetap konsisten dengan puisi-puisi kritik sosialnya sampai sekarang. Hal ini ia buktikan dengan memotret peristiwa yang hampir sama dengan peristiwa 1966, yakni aksi demontrasi mahasiswa pada 1998 untuk melengserkan rezim orde baru. Kembali hadir puisi-puisi Taufik Ismail yang bernada kritikan keras terhadap kehidupan sosial.

Pada aksi demonstrasi tersebut telah gugur empat demonstran sebagai pahlawan reformasi. Peristiwa itu dikenang oleh Taufik dalam puisi berikut.

12 Mei, 1998

Mengenang elang Mulya, Hery Hartanto,
Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu sedan,

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukr reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian pemberani 
mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan 
darah arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
bersembunyi,

Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.

                        1998
                        Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Takut ’66, Takut ’98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa.
1998
                        Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Bayi Lahir Bulan Mei 1998

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta

Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing

Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya

1998
                        Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Puisi-puisi Taufik Ismail di atas rasanya cukup menggambarkan bagaimana identitas penyair ini sesungguhnya. Bahwa ia melahirkan karya bukan sekadar bukti eksistensi diri di dunia kepenyairan, tapi juga menyuarakan suara hatinya. Menyuarakan kekecewaannya terhadap kehidupan sosial di sekitarnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Puisi Karya Taufik Ismail, Kesederhanaan Moral
  • Karakteristik Puisi Ciptaan Taufik Ismail
  • Poem: Tak Sekadar Curhat atau Rentetan Kata-Kata Indah
  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail tentang Kritikan dan Pengandaian
  • Membaca Riwayat Hidup Taufik Ismail
  • Mengutip Semangat Karya- Karya Taufik Ismail
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA