Puisi Sunda: Wawacan Ranggawulung
Berbicara tentang puisi, pastilah kita akan membicarakan masalah tata bahasa yang dirangkai dengan indah. Puisi sendiri mempunyai batasan, yaitu sebagai pengucapan bahasa yang ritmis, yang menggunakan pengalaman intelektual yang bersifa imajinatif dan emosional (Clive Samson, 1960 : 5).
Jika ditinjau dari segi bentuk fisik, puisi sunda kuno masuk ke dalam puisi lirik. Puisi lirik adalah puisi yang panjang bukan sekadar membicarakan hal emosional si penyair, tetapi lebih pada sebuah kisah, layaknya cerita atau dongeng, namun ditulis dengan bahasa yang indah dan mengguna ritma yang baik.
Salah satu contoh puisi sunda kuno yang yang dibicarakan di sini adalah Wawacan Ranggawulung. Wawacan adalah sejenis babad atau serat dalam Bahasa Jawa yang berbicara mengenai sebuah kisah perjalanan seseorang.
Wawacan biasa dibacakan sebagai nasihat dalam meruat sesuatu atau dibaca pada saat ritual tertentu. Wawacan yang dibacakan biasanya adalah berkaitan dengan ritual atau ruatan apa yang sedang digelar.
Wawacan Ranggawulung adalah salah satu epik sunda yang mungkin tidak dikenal banyak orang. Seperti yang kita ketahui bahwa orang sunda sendiri sudah tidak peduli dengan bahasa atau budayanya, apalagi hanya mengingat sebuah wawacan yang berisi cerita kuno orang sunda yang penuh dengan mitos.
Mungkin mitologi Sunda tidak begitu mendunia seperti mitologi Yunani. Namun, kisah di dalamnya sama hebatnya seperti mitologi-mitologi yang berkembang di Benua Eropa dan Asia. Seperti halnya wawacan Ranggawulung yang berkisah tentang seorang pangeran yang terbuang dari kerajaannya.
Pangeran tersebut bernama Ranggawulung atau indera putera terbuang dari kerajaan Buldansyah sejak ia dalam kandungan, bahkan dia tidak pernah tahu jati dirinya sampai dia beranjak dewasa.
Cerita dimulai dari kisah cinta Gandayangsari, sesosok Jin Iprit yang jatuh cinta pada Umbaran Aji, raja dari keraajan Buldansyah. Dia mengubah dirinya menjadi permaisuri raja, yaitu Retna Lailasari.
Saat itu, Retna Lailasari yang hamil delapan bulan sedang mandi di telaga di dekat istana pada senja hari. Gandayangsari melihat peristiwa itu dan digunakannya untuk mengubah dirinya menjadi permaisuri raja. Dia pun saat itu sedang hamil sembilan bulan.
Dengan kasaktiannya, Gandayangsari membuang Retna Lailasari ke hutan larangan jauh dari kerajaan Buldansyah. Sementara dia yang menggantikan permaisuri raja dengan mengubah dirinya menyerupai sang Permaisuri.
Sampai akhirnya Gandayangsari membina keluarga bersama Umbaran Aji 18 tahun lamanya. Oleh karena itu, ada sebuah tabu bagi orang sunda untuk pergi mandi saat senja, mungkin tabu itu berawal dari kisah ini karena senja adalah tempat sugesti semesta.
Setelah 18 tahun berlalu, barulah muncul Ranggawulung putra mahkota yang sebenarnya. Dia membuka topeng Gandayangsari dan anaknya sebagai penjahat terbesar di kerajaan itu. Gandayangsari yang merasa malu dia pergi melapor ke negaranya Loukuntar, negeri para jin dan siluman.
Dia mengatakan bahwa dia disekap selama delapan belas tahun di kerajaan manusia, Buldansyah. Maka kerajaan jin itu menyerang kerajaan manusia. Dan terjadilah perang besar antara jin dan manusia yang menimbulkan banyak korban.
Inilah sebuah epik dunia, selalu saja perang besar terjadi hanya persolan cinta. Seperti pada Ramayana atau Helena dari troya. Kisah dalam puisi sunda kuno pun tidak kalah baik dengan kisah-kisah lain yang mendunia, hanya saja kisah ini jarang diketahui banyak orang.






