Puisi
Mengenal Apa itu Puisi dan Unsur-unsurnya
Di dalam pelajaran bahasa dan sastra, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan karya sastra bernama puisi. Apakah definisi dari puisi itu sendiri? Puisi memiliki makna yang subyektif. Masing-masing penyair yang menggeluti sastra jenis puisi memiliki persepsi berbeda dalam mendefinisikan makna puisi yang mereka buat. Namun demikian, secara umum dapat dijelaskan bahwa puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra dengan nilai ketinggian bahasa yang cukup baik dan memiliki sifat multi tafsir. Sebuah bangunan puisi terdiri dari bait-bait yang jumlah barisnya bebas.
Sebuah karya puisi memiliki beberapa unsur-unsur utama yang membangun tubuh sebuah puisi. Diantara unsur-unsur tersebut adalah;
1. Tipografi
Merupakan bentuk fisik sebuah puisi. Para penyair secara bebas dapat mendesain tipografi puisi yang diinginkannya. Misalnya membuat sebuah bait-bait puisi yang zigzag, biasa, menyerupai huruf dan sebagainya.
2. Citraan
Citraan sebuah puisi terdiri dari beberapa jenis, diantaranya citraan rabaan, bauan, penglihatan dan sebagainya.
3. Diksi
Diksi merupakan pilihan kata, keindahan bunyi perkata serta efek audio yang diakibatkan oleh pilihan kata dalam sebuah puisi.
4. Metafor
Metafor dapat diartikan sebagai perumpamaan. Misalnya seseorang yang ingin memetaforkan usia manusia yang pada akhirnya akan mati, maka ia memilih daun sebagai metafor puisinya. Daun mula-mula hijau, selanjutnya menguning, coklat lalu akan mati. Seperti itulah usia manusia di muka bumi ini.
5. Rima
Rima merupakan efek bunyi pada akhiran baris-baris sebuah puisi. Rima biasanya akan terasa dibutuhkan apabila puisi tersebut dibacakan di hadapan orang lain.
Bagaimana Cara Menulis Puisi
Bagaimanakah cara menulis puisi? Bagi Anda para pemula, tak ada salahnya mulai menulis dan menulis. Jangan pikirkan karya puisi Anda akan sangat jauh kualitasnya dibanding puisi-puisi Abdul Hadi W.M atau Sutardji Calzoum Bachri. Nah, yang perlu Anda lakukan saat ini adalah menulis dan menulis. Berikut ini beberapa teknik dasar yang bisa dilakukan sebagai langkah awal Anda menulis karya puisi.
1. Menulis puisi dari hal-hal yang paling dekat dengan Anda
Jika Anda bingung mendapatkan tugas untuk membuat puisi, atau Anda ingin mengikuti perlombaan sebuah puisi yang membebaskan tema lombanya, maka tak salah jika Anda mencoba teknik dasar ini. Tulislah puisi dari hal-hal terdekat dengan Anda, baik secara fisik maupun batin. Secara fisik misalnya, saat Anda sedang bercermin, maka buatlah sebuah puisi yang menceritakan Anda sedang bercermin, pesan apa yang ingin Anda sampaikan pada pembaca melalui proses bercermin tersebut.
Atau, jika Anda sedang berdiri di depan jendela memandangi langit dan suasana di luar, maka manfaatkan suasana tersebut untuk menuliskan sebuah puisi yang sangat Anda jiwai, karena Anda secara langsung terlibat pada suasana fisik di sana. Juga persoalan batin, pengalaman-pengalaman empirik yang begitu berkesan bagi jiwa penyair akan sangat mudah dituangkan melalui bentuk karya puisi.
2. Menulis puisi dengan metode akrostik
Menulis puisi dengan teknik ini sangat mudah dan menyenangkan. Anda tinggal membuat deretan kata yang diawali dengan huruf-huruf kapital, lalu dengan huruf-huruf kapital tersebut Anda akan memulai merangkai kalimat-kalimat puisi. Jangan terlalu memikirkan hasil kalimat yang ada, tapi cobalah untuk terus menuliskannya. Berikut ini contohnya;
P= ada malam hendak kutanya
U=jung ruang terdalamku
I=nikah rasa teka-teki
S=eperti rindu kian menepi
I=ndah namun tiada arti
Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Membaca Puisi
Dalam membaca sebuah puisi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Nah, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membaca sebuah puisi.
- Ketepatan ekspresi mimik. Ekspresi adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan membaca puisi. Mimik disebut juga dengan gerak muka.
- Kinesik, yaitu gerak anggota tubuh.
- Kejelasan artikulasi atau ketepatan dalam melafalkan kata-kata.
- Timbre, yaitu warna suara bawaan yang dimilikinya.
- Irama puisi, yaitu panjang pendek, keras lembut, dan tinggi rendahnya suara.
- Intonasi atau lagu suara
Dalam membawakan sebuah puisi, dikenal 3 jenis intonasi, yaitu:
- Tekanan dinamik, yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
- Tekanan nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya, suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, dan sebagainya. Suara rendah menggambarkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan rasa lainnya.
- Tekanan tempo, yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.
Struktur Batin Puisi
- Tema atau makna. Media sebuah puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna. Oleh karena itu, puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, atau makna keseluruhan.
- Rasa (feeling), yaitu sikap seorang penyair terhadap pokok permasalahan yang ada di dalam puisi. Pengungkapan tema dan rasa memiliki hubungan erat dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair. Contohnya, latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair dalam memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
- Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada pun memiliki hubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain sebagainya.
- Amanat/tujuan/maksud, yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya.
Jenis Puisi dalam Sastra Indonesia
Dalam kesusastraan Indonesia, dikenal 2 jenis puisi, yaitu puisi lama dan puisi baru. Berikut ini penjelasannya.
1. Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat aturan-aturan, yaitu:
- Jumlah kata dalam 1 baris.
- Jumlah baris dalam 1 bait.
- Rima.
- Banyak suku kata tiap baris.
- Irama.
Ciri-ciri Puisi Lama
- Merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya.
- Disampaikan lewat mulut ke mulu sehingga sering dikatakan sastra lisan.
- Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap baik, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis Puisi Lama
- Mantra.
- Pantun.
- Karmina.
- Seloka.
- Gurindam.
- Syair.
- Talibun.
Contoh Puisi Lama
Berikut ini contoh puisi lama yang berjenis gurindam.
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat
Barang siapa tinggalkan sembahyang
Bagai rumah tiada bertiang
Jika suami tiada berhati lurus
Istri pun kelak menjadi kurus
2. Puisi Baru
Puisi baru memiliki bentuk yang lebih bebas daripada puisi lama dalam segi jumlah kata, susku kata, ataupun rima. Berikut ini ciri puisi baru.
- Bentuknya rapi dan simetris.
- Memiliki persajakan akhir yang teratur.
- Banyak menggunakan pola sajak pantun dan syair meskupun ada pola yang lain.
- Sebagian besar puisi empat seuntai.
Nah, itulah penjelasan mengenai puisi. Semoga penjelasan yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.

