![]() |
|
Puisi
|
||||||
|
|
Puisi IbuOleh: AsianBrain.com Content Team
Ibu, setiap manusia terlahir darinya. Besar kemungkinan, seseorang yang paling dekat dengan diri kita adalah ibu. Tidak hanya melahirkan, ibu memiliki andil besar dalam membesarkan dan mendewasakan kita. Tidak berlebihan, jika banyak puisi ibu dibuat untuk mengungkapkan kasih seorang ibu. Simak saja puisi Iqbal berikut : Puisi Ibu I Sajak Ibu - Iqbal Ibu! Kelunak lembutanmu yang bersih Merupakan rahmat bagi kami.
Kamu, Merupakan kekuatan Dan benteng agama.
Wahai, Orang yang menghentikan Penyusuan, Anak dalam kalangan kami Berdasarkan tauhid, Kasih sayangmu memberi nilai Kemampuan kami, memberi warna Amal dan fikiran kami.
Wahai, pemangku amanah Berdasarkan syair nyata, Di dalam nafasmu Terletak kehidupan agama Berhati-hatilah melalui zaman, Bimbing eratlah anak-anakmu.
~ Iqbal Puisi ibu karya Iqbal ini yang dikhususkan untuk para wanita, terutama ibu yang menjadi kekuatan benteng agama, memberikan dasar agama untuk masa depan anak-anak dengan baik, karena Islam telah menempatkan wanita demikian tinggi dan agungnya. Mereka mempunyai nilai iman dan amal yang sama dengan lelaki dan diberi fungsi dan tugas yang sesuai dengan fitrah alamiah masing-masing, sehingga harus berperan untuk kebahagiaan bersama. Anda bisa membandingkan puisi ibu yang dibuat oleh Dharmawijaya. Pada puisi ini, penyair melukiskan gambaran perjuangan seorang ibu hingga harapan yang terpendam untuk anak-anaknya. Bagaimanapun, seorang ibu selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Puisi Ibu II Sajak Segalanya Padamu Ibunda~ Dharmawijaya
Masa silam yang terpendam di suram matamu merantai badai beban waktu kutahu kau masih berupaya meniduri hamparan duka.
Masa kini yang terukir di senyum ramahmu mendepani gementar siang gelisah malam kutahu kau adalah ladang segala kesabaran tegak teguh merimbuni pohon ketabahan.
Masa depan yang terpancar di nyala dadamu kutahu kau tak rela daun-daun harapan gugur luruh menampar genggaman. (Dharmawijaya, Dewan Sastera, Oktober, 1979) Masih ada lagi puisi ibu yang juga memiliki makna yang mendalam. Penyair yang merasa belum banyak membalas jasa ibu yang sudah pergi untuk selamanya. Penyair membiarkan dirinya bernostalgia dengan kenangan bersama ibu.
Puisi Ibu III Masih Lagi Ibu ~ Khadijah Hashim Pada kala aku mengenang ibu masih terasa eratnya pelukanmu panas air mata membasahi pipi tempatmu masih terpahat di hati pasir berpindah pantai masih di situ waktu berubah kasihku masih padamu. Kesudahan hidup kematian yang pasti pemergian yang kutangisi hingga kini kasih sayangmu menggegar jiwa ada tugas belum selesai ada hajat belum tertunai ada budi belum dibalas bagai hutang yang belum dilunasi terlalu banyak yang kuterima terlalu sedikit yang sempat kuberi kesalku kemewahan ini tak dapat dibagi. Nostalgia bersamamu kubiarkan segar suka duka ingin kulalui bersama kau cemas membalut lukaku di lutut terseliuh kaki kau yang mengurut rajukku sekejap pandai kaumemujuk kasihmu menemaniku pada saatku dicabar memilih antara antah dan beras antara berlian dan kaca zamrud mutiara di telapak tangan masih ibu permata hatiku. KHADIJAH HASHIM Taman Tun Dr Ismail, Kuala Lumpur Ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari puisi ibu diatas. Kita diajak untuk menghargai dan menghormati kedudukan seorang ibu. Betapapun kita merasa telah berbuat baik untuk ibu, namun sesungguhnya jasa ibu tidak akan pernah tergantikan. Begitupun ketika kita ditakdirkan untuk menjadi ibu, kita berharap bisa menciptakan generasi yang berguna untuk nusa, bangsa, dan agama.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:
|
|