![]() |
|
Puisi
|
||||
|
|
Puisi KemerdekaanOleh: AsianBrain.com Content Team
Bicara sastra Indonesia modern, dikenal angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66 dan angkatan reformasi. Perkembangan periodisasi sastra ini identik dengan situasi dan kondisi sejarah bangsa Indonesia, dengan ciri khasnya sendiri-sendiri. Sastra angkatan 45, banyak muncul puisi kemerdekaan. Kejadian penting bangsa, yaitu detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 berpengaruh atas semua kegiatan kebudayaan, termasuk kesusastraan. Suasana jiwa dan penciptaan yang sebelum itu amat terkekang, akhirnya mendapat kebebasan yang nyata. Sastrawan Indonesia waktu itu merasakan sekali kemerdekaan dan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan karya yang betul-betul mencerminkan manusia merdeka, bebas berkreativitas. Sastrawan yang merasakan kemerdekaan ini adalah Chairil Anwar, yang menulis bidang puisi kemerdekaan. Ada Idrus, Pramudya Ananta Toer (prosa), Trisno Sumarjo (drama), Asrul Sani, dan Usmar Ismail (film) dan lain-lain. Mereka ini kemudian digolongkan ke dalam sastrawan angkatan 45. Kehadiran angkatan 45 memandang ke depan untuk mengisi kemerdekaan. Apa yang diungkapkan dalam sastra adalah suasana Indonesia dengan pikiran-pikiran Indonesia yang hidup dalam masyarakat dan zamannya. Semangat perjuangan, sikap Chairil Anwar dapat kita nikmati dalam puisi kemerdekaannya yang berjudul "Diponegoro", "Krawang Bekasi" dan "Persetujuan dengan Bung Karno"nya. Dalam puisi kemerdekaan yang berjudul "Diponegoro", terlihat jelas betapa apresiasi sang penyair atas semangat perjuangan pahlawan tersebut dalam melawan kekuasaan penjajah : Di masa pembangunan ini Sedangkan Kerawang-Bekasi adalah salah sebuah kreasi puisi kemerdekaannya, yang tentu saja amat menyentuh perasaan sekaligus menggugah pikiran yang mengobarkan semangat juang dengan segala pengorbanannya. Sajak itu merupakan suara jiwa pahlawan dengan semangat kepahlawanan yang gugur di medan laga. Semangat yang menggelorakan semangat para pejuang demi membela dan mewujudkan kemerdekaan. Cobalah amati ketegasannya dalam puisi kemerdekaannya berikut: "Ayo!". "Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Betapa plastis dan puitisnya semangat Revolusi Agustus yang diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam puisi kemerdekaannya itu. Suatu pengungkapan kobaran api revolusi yang dinamis dan optimis. Ketegasan sikap dan keberpihakannya juga menjadi anutan banyak penyair, seniman dan sastrawan lainnya Sayangnya dia mati muda, dalam usia 27 tahun. Kalau saja Chairil Anwar panjang usia, tentunya ia akan lebih gigih dan lebih kreatif lagi dalam bidang seninya mengungkapkan gelora perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya, yang tertuang dalam puisi-puisi kemerdekaannya.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:
|
|