![]() |
|
Puisi
|
|||||||||||
|
|
Puisi PerjuanganOleh: AsianBrain.com Content Team
Ketika kita membaca puisi perjuangan dengan penuh penghayatan, maka kita akan terbawa pada masa lalu. Membayangkan perjuangan para pahlawan dalammerebut kemerdekaan. Merasakan semangat melalui kata-kata yang terangkum dalam bait-bait puisi. Simak saja bagaimana puisi Chairil Anwar yang diciptakan pada Februari 1943 ini mampu membangkitkan semangat juang :
Puisi Perjuangan I Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang
Dalam puisi perjuangan yang lain, Chairil Anwar mengetuk pembaca melalui syairnya untuk mengenang para pahlawan yang sudah wafat. Pada tahun 1948 inilah puisi Karawang-Bekasi diciptakannya. Pesan moral yang sangat penting dari pahlawan yang telah gugur, untuk meneruskan perjuangan kemerdekaan yang telah dicapai oleh bangsa kita.
Puisi Perjuangan II Karawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Selain Chairil Anwar, ada penyair lain yang juga turut menciptakan puisi perjuangan dengan hebatnya. Pahlawan Tak Dikenal yang dikarang oleh Toto Sudarto Bahtiar ini diciptakan pada tahun 1955. Puisi ini lahir dari rasa hormat dan kagum pada orang-orang yang sanggup mengorbankan darah dan jiwanya untuk perjuangan, meski kemudian jasadnya tidak ada yang mengenali. Dan sungguh, peran mereka tidak bisa kita abaikan begitu saja.
Puisi Perjuangan III PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:
|
|