![]() |
|
Puisi
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Puisi PerpisahanOleh: AsianBrain.com Content Team
Perpisahan seringkali mendatangkan kesedihan yang mendalam. Apalagi jika kita akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Ada perasaan berat, sedih, bahkan tidak sedikit yang putus asa. Beberapa orang yang mengalami kepedihan ini kadang menuangkannya dalam bait-bait puisi perpisahan.
Puisi perpisahan I PERPISAHAN ~ Kahlil Gibran Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. Betapa bijak Gibran menyikapi sebuah perpisahan. Makna mendalam, mengingatkan kita untuk tidak terus berduka dengan perpisahan. Justru, jarak yang memisahkan membuat kita melihat segala sesuatu dengan lebih indah.
Puisi perpisahan II Bagaimana Bisa ~ Yustitia
Bagaimana mungkin Mentari berkabung dalam selimut gelap Sedang tak satupun angin bersenandung Ratap perih menggema dalam kotak sunyi berduri Ingin pergi Ingin lalui Namun tak satupun kuda hendak bergeming Hanya diam Tak bicara
24 januari 2009
Pada puisi perpisahan di atas, penyair sepertinya tidak menghendaki perpisahan. Gambaran kehidupan menjadi lebih gelap tergambar didalamnya. Ada keinginan untuk menyudahi perpisahan tersebut, namun apalah daya, ia tidak kuasa melakukannya.
Puisi perpisahan III Keseorang ~ iben nuriska Masih saja basah. Sepertinya puisi tak hendak sampai ke tidur tak berigau ke jaga yang bara. Api masih dipadamkan hujan. Tak ada puisi bunga. Selalu angin bawa awan hitam di gantungan jemuran. Masih saja basah.
Kapan kita akan bersajak Seperti muda yang gagah Seperti jelita dengan pesona Seperti cinta dan asmara Seperti wangi dari dupa
Mungkin pergimu adalah isyarat Takkan dewasa anak selamanya dikepit ketiak.
Batu belah 110109
Pada puisi perpisahan ini, penyair menyatakan kesedihan dan luka mendalamnya dengan perpisahan. Tidak ada lagi masa untuk bersenang bersama orang yang dikasihinya. Namun ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sini, bahwa seorang anak jika selamanya dalam pengawasan kedua orang tuanya. Bagaikan pohon besar yang tumbang, maka pohon-pohon kecil yang tumbuh dibawahnya akan berkembang lebih cepat. Begitu pula manusia, kedewasaan itu akan terbentuk manakala tidak ada orang tua yang menaunginya.
Puisi Perpisahan IV KEPASTIAN ~ ' Gus Fet
Perpisahan adalah kepastian Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan Berjalan pelan, tak bisa dimajukan
Kematian adalah keniscayaan Tak bisa di tolak, tatkala ia datang Tak bisa diminta, takala hidup bosan
Perpisahan...oh...kepastian Kematian...oh...keniscayaan Janji tuhan, pasti datang Hari akhir adalah janji tuhan Tak mengerti, waktunya kapan datang Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan Perpisahan adalah kepastian Kematian adalah keniscayaan
Pada puisi perpisahan yang bertajuk 'Kepastian' ini, penyair mengingatkan kita akan sebuah kepastian yang tidak seorangpun bisa menolaknya, yaitu : perpisahan dan kematian. Betatapun kita tidak menyukai kedua hal ini, namun inilah kehendakNya. Siapapun tidak bisa mengubahnya, maupun mengetahui kapan persis waktunya.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:
|
|