![]() |
|
Puisi
|
|||||||||
|
|
Puisi Ulang TahunOleh: AsianBrain.com Content Team
Hari ulang tahun, seringkali menjadi momen special bagi yang merayakannya. Setidaknya, pada usia yang semakin bertambah, kita diharapkan merenungi capaian apa saja yang sudah kita capai. Bukan untuk kesenangan semata, dengan menyediakan kue tart dan lilin sejumlah usia, namun lebih dari itu, ulang tahun diharapkan kita semakin dewasa, dan sisa usia yang kita jalani lebih berkah. Harapan-harapan itulah yang seringkali dikemas dalam puisi ulang tahun.
Puisi ulang tahun I Selamat Ulang Tahun
Dalam suka mulut tertawa Dalam duka mata berkaca Dalam kaku pikir terpaku
Dalam waktu langkah satu-satu Ada batu semangat tak mati kutu Ada lubang jati diri tak hilang Terseok-seok menyusur jalan berkelok-kelok Jatuh bangun namun tetap tekun Demi masa depan Demi kesejahteraan Demi kebahagiaan Demi Tuhan, teruslah berjuang
Pada puisi ulang tahun di atas, ada doa dan pengharapan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan di masa depan. Tidak bisa dipungkiri, setiap kita pastinya jatuh bangun dalam meraih tujuan. Namun, puisi ini menyemangati kita untuk terus berjuang.
Puisi Ulang Tahun II April adalah Engkau ~ Daeng Nuntung
bagai kepak sayap burung pulang perkasa di selasar bintang, laksana camar menjelajah riang selami laut penuh tawa
waktupun betah berlabuh: menunggumu di bulan april
kuharap, engkau belumlah petang merah jingga di detik menit yang hanya duduk membatu menatap dentang usia engkau sejatinya adalah pelukis masa dan kisah
bagai senyum berpendar dengan beribu kunang kunang hingga malam tak lagi gulita
selamat ultah, partner !
sungguminasa, 090408
Dalam puisi ulang tahun ini ada makna mendalam yang terpendam. Kita diingatkan untuk tidak berdiam terpaku menjalani hari-hari begitu saja. Bahwa kita sesungguhnya adalah pelukis kisah diri kita. Seperti apa coretan warna yang akan menghiasi hidup kita, sesungguhnya kitalah yang paling berperan dalam hal ini.
Puisi Ulang Tahun #5 ~ Mulia Arif
Datang sudah hari ini, Hari dimana dulu aku dilahirkan Hari dimana orang tertawa sekaligus haru Menjelang perkenalanku dengan dunia ini
Hari ini aku mengenang kembali Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku Manisnya madu cerita hidup yang membuat senyumku lepas...
Akhirnya aku tahu Bahwa dalam cerita hidup, ada manis ada pahit Ada juga penolakan, ada penerimaan
Lalu akhirnya aku belajar, Menerima dengan seluas hatiku Membuatku lebih bahagia, lebih menghargai hidup Melihat hidup sesuai dengan usiaku... MA, Jkt Tuesday, 9 Sept 08 (9 Ramadhan), 08.06 Met ultah pemimpin favoritku! Dalam puisi ulang tahun di atas, penyair mengaku belajar dari kehidupan. Bahwa hidup tidak selalu mulus adanya. Diungkapkan manis getirnya hidup. Tidak hanya ada penerimaan, namun juga penolakan terhadap diri atau sesuatu yang kita lakukan. Namun dengan menerima segala sesuatu dengan bijak, maka kita lebih menghargai hidup.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:
|
|