Rahasia Sukses Meraih Gelar Juara Liga Champions Eropa
Ilustrasi rahasia sukses
Tiga negara dikenal memiliki liga domestik paling elite seantero dunia. Negara-negara tersebut selalu menyajikan hiburan olahraga yang selalu ditunggu penontonnya tiap akhir pekan.
Dibalik hingar bingarnya yang tetap gemerlap hingga sekarang, rahasia sukses tentu terletak pada kehebatan para pelaku didalam industri sepak bola.
Kompetisi sepak bola Eropa sudah menjadi kiblat persepakbolaan dunia. Kompetisi tersebut dimulai sejak memasuki era tahun 1990an. Kompetisi domestik di Inggris, Italia, dan Spanyol sudah menjadi tontonan rutin bagi masyarakat Indonesia bahkan para penggila bola dari belahan bumi lainnya.
Selain tontonan liga domestik di Eropa, para penggila sepak bola juga disuguhi tontonan yang lebih berkelas dan prestisius.
Adalah kompetisi yang awalnya bernama Piala Champions Eropa saat pertama kali diadakan tahun 1955 oleh Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA).
Kemudian format nya berubah berubah menjadi Liga Champions sejak tahun 1992 dan menjadikannya arena pertarungan klub-klub yang berada dibawah naungan UEFA.
Setiap musim liga-liga Eropa memperoleh jatah kontestan Liga Champions untuk mengirimkan delegasi terbaiknya.
Kompetisi yang mempertemukan para jawara di liga domestik masing-masing negara menawarkan gengsi dan hadiah uang dalam jumlah besar. Tidak hanya itu, tropi istimewa berukuran besar yang sering disebut Big Ear juga menjadi pelecut ambisi klub-klub Eropa untuk memenanginya.
Persaingan keras antar klub-klub yang selalu kompetitif memerlukan rahasia sukses yang jitu.
Mengangkat tropi Big Ear seperti yang dilakukan klub asal Prancis, Olympique Marseille tahun 1992 harus melewati tantangan berat.
Perjalanan yang membutuhkan fokus dan tekad kuat diawali dari babak penyisihan untuk menyingkirkan satu per satu lawan. Tiba di partai final pertama kalinya sepanjang sejarah klub dan berpikir telah menjadi juara bukanlah akhir dari perjalanan klub yang pernah dibela oleh Zinedine Zidane.
Waktu 90 menit pertandingan menghadapi raksasa sepak bola asal kota mode di Italia, yaitu AC Milan menjadi penentu akhir.
Pada partai yang akhirnya dimenangi Olympique Marseille dengan skor tipis 1-0, terlihat bahwa rahasia sukses terletak pada kolektivitas dan semangat juang untuk mengalahkan klub yang lebih difavoritkan. Perjuangan yang dilandasi saling percaya dengan rekan satu tim.
Melihat materi pemain yang dimiliki AC Milan terdapat nama-nama pemain paling berbakat dunia seperti Ruud gullit, Frank Rijkaard, dan Franco Baresi, sang legenda abadi. Siapapun pasti akan menjagokan tim berjuluk Rossoneri yang berpesta ria di partai puncak.
Di sisi lain, tidak banyak pemain Olympique Marseille yang dikenal dan kualitas teknik yang dimiliki masih dibawah lawannya. Posisi sebagai tim yang tidak begitu diunggulkan justru membuat Olympique Marseille bermain tanpa beban dan ditunjang kekompakan serta daya juang tinggi secara bersama-sama mampu menjadikan mereka jawara Eropa.
Hasilnya luar biasa, tiga gol disarangkan ke jala gawang yang dikawal Nelson Dida melalui satu tendangan penalti dan open play untuk menyeimbangkan kedudukan.
Pertandingan pun harus menuju ke babak perpanjangan waktu selama 30 menit dan dilanjutkan adu tendangan penalti karena tidak ada tim yang mencetak gol.
Pada akhirnya Liverpool mengambil tropi Liga Champions dari tangan AC Milan via tendangan adu penalti dengan skor 5-3. Ternyata rahasia sukses Liverpool mampu bangkit dari ketertinggalan dimulai di kamar ganti pemain.
Saat jeda pertandingan, Rafael Benitez, yang melatih Liverpool pada musim perdananya memberikan motivasi super kepada para pemainnya.
Kata-kata pelatih berkebangsaan Spanyol, mampu mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan membakar semangat timnya agar tidak mengecewakan para pendukung yang tiada henti mendukung.
Dua Rahasia Sukses Mengangkat Tropi Big Ear
Gol, Rahasia Sukses Mutlak
Rahasia sukses mutlak ialah membuat gol ke gawang karena tidak ada klub yang meraih juara tanpa mencetak gol.
Mendapatkan gol terlebih dahulu menjadi faktor yang mempengaruhi hasil pertandingan. Tercatat, satu dari lima klub yang menjadi juara selalu mencetak gol secepat mungkin terutama pada 10 menit pertama.
Maka dari itu, setiap tim harus segera menyerang daerah pertahanan lawan setelah peluit wasit berbunyi menandakan pertandingan dimulai.
Hadirnya gol memang menjadi momen yang paling ditunggu oleh segenap pemain, staf kepelatihan dan pendukung. Gol merupakan titik klimaks dari sebuah skema penyerangan yang dilakukan para pemain.
Skema yang dirancang sebuah tim untuk menciptakan gol ditempuh melalui dua cara yaitu dari tendangan bola mati (set piece) dan permainan terbuka (open play).
Tendangan bebas dan tendangan sudut yang mewakili prosesi gol melalui set piece kerap mengancam pertahanan lawan. Posisi pengambilan tendangan yang dekat dengan kotak penalti memperbesar peluang terciptanya gol.
Namun fakta membuktikan bahwa open play lebih berandil sebesar 66% dari gol yang menghadirkan gelar juara bagi tim yang mencetaknya. Setiap klub sepak bola tentunya memiliki resep sukses sendiri.
Hal terpenting adalah usaha keras dan dukungan penuh dari semua elemen yang terkait. Sesungguhnya tropi hanyalah bagian kecil sebuah kesuksesan yang diraih dan menjunjung sportivitas akan menyempurnakannya.
Liga Champions dari tahun ke tahun menampilkan persaingan yang sengit antar kontestan sehingga semakin sulit untuk didominasi oleh tim manapun.
Terbukti sejak tahun 1992, tidak ada klub sepak bola yang mampu mempertahankan gelar dua kali berturut-turut. Klub sepak bola asal Spanyol, Barcelona yang menjadi juara tahun 2010 tidak kuasa mempertahankan titel Liga Champions tetap di markasnya.
Berbekal rahasia kesuksesan mereka berupa taktik Tiki Taka yang menggemparkan dunia, kenyataannya mereka harus tersingkir pada babak semifinal pada ajang yang sama tahun berikutnya.
Jika melihat data statistik, ada dua rahasia sukses untuk dapat mengangkat tropi Liga Champions Eropa. Pertama, klub sepak bola yang ingin berjaya di partai final harus memiliki ambisi yang tinggi.
Mungkin hal ini juga yang melatarbelakangi klub Barcelona gagal mengulangi juara untuk kedua kalinya akibat hasrat pemain menurun untuk menjadi juara dibanding saat mereka berjuang memenanginya.
Masih terkait dengan ambisi klub. Liga Champions harus dicanangkan sebagai prioritas utama oleh pemain dan pelatih selain menjuarai gelar domestik. Faktanya, jumlah klub yang meraih tropi Liga Champions dan Liga lokal terus meningkat.
Sebelum diberlakukannya format Liga Champions terhitung hanya 25% tim juara yang menggondol juara lain pada tahun yang sama. Prosentasenya semakin meningkat pada interval tahun 1993 hingga tahun 2003 yaitu sebesar 36% yang menjadi kampiun Eropa dan Lokal.
Pada interval tahun 2004 sampai 2011 angkanya meningkat drastis menjadi 75%. Rahasia sukses kedua apabila dilihat dari segi teknis di lapangan adalah menyodorkan fakta bahwa bukan hanya urusan mental tetapi taktik sangat menunjang.
Sejak tahun 2005, tim juara Liga Champions selalu menggunakan formasi yang mengandalkan penyerang tunggal dan tridente. Meskipun konsep tridente menggunakan tiga pemain didepan yang bertugas menyerang pertahanan lawan.
Namun, sejatinya satu pos di lini depan diisi oleh seorang penyerang tunggal yang beroperasi didalam kotak penalti dan didukung oleh dua penyerang sayap yang lebih cenderung menyerang dari sisi lapangan.
Sebagai pembuktian, Liverpool menggunakan formasi 4-4-1-1 saat juara tahun 2005, sedangkan Barcelona meraih juara menggunakan formasi 4-3-3 untuk meraih titel 2006, 2009, dan 2011.
Formasi 4-3-2-1 yang diterapkan oleh AC Milan tahun 2007 dan skema permainan 4-2-3-1 yang dipegang erat oleh pelatih Inter Milan tahun 2010, juga mengantarkan pada raihan titel prestisius bagi kedua klub yang bermarkas di kota Milan.
Masih soal urusan teknis, peranan pemain khususnya pemain bertahan juga tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Meskipun tugas pemain bertahan adalah menjaga pertahanan dan mempertahankan gawang dari serangan lawan.
Fakta menunjukkan bahwa kemenangan Olympique Marseille di partai final ditentukan oleh Basile Boli yang berposisi sebagai pemain belakang, sedangkan bek kanan asal Barcelona, Juliano Belletti mencetak gol kedua pada pertandingan yang berakhir dengan skor 2-1. Hal ini berarti pemain belakang yang bermain maksimal pada partai final akan menguntungkan timnya.

