Rhoma Irama, Raja Musik Kendang Kendut Alias Dangdut
Raden Oma Irama adalah fenomena unik di tengah dominasi perkembangan musik barat di Indonesia. Di masa kelahiran Soneta, kelompok musik yang digawanginya, muncul sosok kelompok musik rock dunia seperti Deep Purple, Led Zeppelin, dan generasi bunga mewabahi budaya dan perilaku anak muda.
Rambut gondrong adalah entitas dari anti kemapanan. Bercinta, pengunaan obat-obatan dan ganja seperti kaum rasta seolah menjadi aktivitas utama ketimbang diskursus tentang realita sosial.
Sejak 1973, pria yang disapa Bang Haji ini seolah menjadi cerminan tersendiri. Kuat dengan visi jauh ke depan yang akan dijalaninya kelak bersama kelompok musiknya, Soneta, meski Bang Haji tidak menampik pengaruh rock mancanegara seperti Deep Purple pada masa rintisan awal ketika meramu identitas bermusik.
Mengedepankan perpaduan nada dan dakwah dengan unsur distorsi rock dan harmoni instrumen kendang yang bersuara dang juga dut, maka lahirlah sebuah akronim untuk menyebut genre musik tersebut, dangdut.
Andrew N. Weintraub, seorang profesor dari Universitas Pittsburg yang akhirnya menulis perjuangan iman si raja musik dangdut ini ke dalam sebuah buku berjudul Dangdut Stories menyatakan,"Dangdut itu musik soul, semua yang mendengarkannya pasti bergoyang."
Berkat konsistensi menekuni dunia kesenimanan dengan bermusik ditambah booming-nya popularitas film Nada dan Dakwah yang dibintanginya, sosok Bang Haji menjadi maskot partai politik religius Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan anggota dewan utusan golongan pada zaman Soeharto.
Kabar teranyar Rhoma Irama, 64 tahun, baru-baru ini adalah rilisnya single lagu Azza, di Mesir. Dengan latar belakang tiga negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Mesir lagu baru tersebut menjadi pertanda eksistensi Bang Haji dalam kancah musik nasional.
Azza adalah single baru bernuansa religi yang berasal dari kata Allah azza wa jalla, dengan syair kontemplatif, dan gerakan tari yang disimbolkan dari asmaul husna.
"Musik dan dakwah adalah satu kesatuan. Dalam musik saya juga berdakwah," ujar Rhoma Irama kepada Tempo.
Tapi perjalanan Rhoma untuk mencapai titik kesetimbangan sekarang, penuh liku. Sebelumnya, sosok ini dilanda pro kontra tentang kegeramannya kepada pedangdut lainnya seperti Inul Daratista. Menurutnya, Inul sudah melanggar etika dengan memberikan goyangan ngebor erotis yang tidak layak untuk publik dan menodai cira musik dangdut yang telah diperjuangkannya berpuluh-puluh tahun lalu.
Guna menjernihkan persoalan antara Rhoma dan Inul agar tidak berat sebelah dan menjadi konflik personal-horizontal itu pun ia harus diajak berkonsultasi dengan mantan Presiden Republik Indonesia, Bapak Pluralisme, Abdurrahman Wahid yang dianggapnya dapat membantu menengahi.
Sang raja musik dangdut tersebut datang dengan tasbih di tangan, hadir di antaranya juga Addie M. Massardi, Ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi, dan Eggi Sujana sebagai pemrakarsa pertemuan. Yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan damai dari kedua belah pihak.






