logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hobi    Merajut    Cara Merajut atau Merenda

Membuat Rajutan untuk Pemula


Ilustrasi rajutan untuk pemula

Merajut kini banyak digandrungi orang. Pemandangan ibu-ibu atau nenek merajut kini tergantikan dengan wanita-wanita muda yang belajar merajut. Bahkan tidak sedikit kaum pria yang tertarik menggeluti hobi ini.

Kalau Anda seorang pemula yang baru belajar merajut maka pilihlah jenis rajutan untuk pemula. Misalnya dengan menggunakan pola rajutan yang sederhana dan ringkas. Pola sederhana seperti ini biasanya tidak banyak lekukan, tapi didominasi pola lurus.

Selain itu hindari membuat benda-benda rajutan berukuran besar seperti taplak meja. Membuat kerajinan rajut berukuran besar dan berpola rumit bisa menimbulkan kebosanan dan mematikan semangat Anda belajar merajut. Untuk tahap awal rajutan untuk pemula sebaiknya membuat benda-benda kecil seperti bando, gelang atau ikat kepala. 

Sejarah Singkat Rajutan untuk Pemula

Merajut pertama kali dilakukan oleh kaum pria di Jazirah Arab, Timur Tengah. Tujuannya untuk membuat permadani yang diperdagangkan oleh para pedagang Arab. Keterampilan merajut berikut hasil akhirnya yaitu permadani kemudian disebar ke berbagai belahan dunia.

Di Asia mula-mula dikenal di daerah Tibet. Di Eropa mulai dikenal di Spanyol kemudian ke daerah pelabuhan di wilayah Mediterania. Kemudian oleh bangsa Spanyol, keterampilan merajut kemudian menyebar ke wilayah Eropa lainnya. Lambat laun karena ada kolonisasi Eropa di berbagai wilayah dunia, keterampilan ini menyebar hingga ke Amerika, Afrika, dan Asia.

Merajut dan merenda disebarluaskan di Indonesia oleh bangsa Belanda, sehingga lebih sering dikenal dengan istilah hakken (merenda) dan breien (merajut). Saat ini kegiatan merajut, yang tadinya pekerjaan kaum pria, banyak diminati kaum wanita.

Manfaat Merajut

Selain bisa menghasilkan benda bernilai seni dan unik, keterampilan merajut juga memiliki manfaat lain. Merajut dapat melatih kesabaran. Anda bisa membayangkan helaian benang demi benang yang dirajut hingga menghasilkan sesuatu yang unik dan menarik.

Menggunakan barang hasil rajutan sendiri juga mendatangkan kepuasan tersendiri bagi para hobiis rajutan. Demikian pula jika hasil rajutan tersebut dihadiahkan pada kerabat atau keluarga. Tentu rasanya senang melihat orang lain menggunakan hasil rajutan Anda.

Selain itu barang hasil keterampilan rajut juga laku dijual. Itu karena sifatnya yang handmade dan tentu saja sulit menemukan kesamaannya dengan produk yang digunakan orang lain. Bandingkan dengan produk buatan pabrik yang dibuat massal.

Belajar Merajut

Kalau Anda seorang pemula dan ingin belajar rajutan untuk pemula, tentu Anda bertanya dimana tempat untuk belajar merajut. Ada beberapa tempat yang dapat Anda gunakan untuk menggali ilmu merajut.

  • Bertanya pada teman atau kerabat yang bisa merajut. Mereka biasanya akan dengan senang hati mengajarkan cara merajut.
  • Mengikuti kursus ketrampilan merajut baik itu yang berbayar maupun yang gratis. Beberapa majalah wanita atau perkumpulan tertentu sering membuka kelas khusus belajar merajut.
  • Bertanya pada toko benang rajut. Beberapa toko kerajinan yang menjual benang rajut juga akan mengajarkan Anda merajut. Syaratnya Anda harus membeli benang dari toko tersebut.
  • Mengikuti komunitas merajut. Di beberapa kota tertentu, terdapat komunitas merajut. Di Bandung, Tobucil (Toko buku Kecil) menyediakan waktu untuk komunitas merajut berkumpul di tempat mereka. Dari komunitas seperti ini, Anda bisa menambah ilmu rajutan untuk pemula

Salah satu cara belajar rajutan untuk pemula adalah dengan mencari referensi baik di Internet maupun buku. Anda dapat melihat panduan cara merajut dan contoh berbagai pola rajutan.

Kebanyakan buku referensi yang membahas tentang merajut dan merenda ditulis dalam bahasa Inggris, Mandarin atau Jepang. Karena di negara-negara tersebutlah keterampilan merajut dan merenda telah lebih mendarah daging. Selain itu di negara-negara tersebut telah banyak praktisi merajut dan merenda.

Di Indonesia telah terbentuk komunitas penghobi merajut dan merenda. Jika Anda tertarik, Anda dapat bergabung di komunitas tersebut, yang didirikan pada bulan Juni 2006 dan sampai akhir tahun 2008 telah memiliki anggota sekitar 800 orang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, Asia, Australia, Amerika dan Eropa.

Merajut Untung dari Rajutan

Berbicara tentang kerajinan memang tidak akan pernah ada habisnya. Hampir setiap hari muncul ide kreasi baru dari para pengrajin, dengan berbagai bentuk dan bahan yang digunakan. Dari mulai bahan yang murah dan mudah didapatkan hingga bahan yang tergolong mahal pun dapat dikreasikan menjadi kerajinan baru yang menarik.

Salah satu kerajinan yang menggunakan bahan murah dan mudah ditemukan di sekitar kita adalah kerajinan rajut. Kerajinan ini hanya membutuhkan ketrampilan, benang rajut serta jarum rajut yang biasa disebut hakken.

Kerajinan rajut biasanya digemari oleh para wanita, khususnya para ibu-ibu. Padahal sebenarnya menurut sejarahnya, budaya kerajinan rajut pada awalnya dilakukan oleh para pria di Timur Tengah (tepatnya dari Jazirah Arab).

Namun kerajinan rajut yang ada di Indonesia dikenalkan oleh orang-orang Belanda, karena kerajinan rajut tersebar lebih dulu ke kawasan Eropa sebelum masuk ke Asia. Di Negara Indonesia, kerajinan ini banyak diminati kaum wanita. Maka tak heran jika kini banyak wanita yang telah sukses membuka usaha kerajinan rajut, hanya bermula dari hoby mereka.

Kerajinan rajut cenderung digemari oleh para wanita, khususnya ibu-ibu. Namun seiring dengan perkembangan mode saat ini, kerajinan rajut juga mulai digemari para remaja putri, bahkan saat ini produk untuk anak-anak dan para pria pun banyak yang terbuat dari kerajinan rajut.

Inspirasi Sukses Pengrajin Rajutan

Siapa sangka bila tas rajut dengan merek “Dowa” buatan Godean, Yogyakarta berhasil menembus pasar internasional hingga daratan Eropa dan Amerika. Seorang wanita bernama Delia Murwihartini adalah sosok dibalik kesuksesan tas lokal ini masuk ke pasar global.

Memulai usahanya pada tahun 1989, ibu dua anak ini hanya bermodalkan gunting, jarum, dan mesin jahit untuk memproduksi tas rajut. Setiap minggunya kurang lebih 10 hingga 15 tas berhasil diproduksi Delia, dan dipasarkannya secara langsung dari satu wisma ke wisma lainnya di sekitar kampung Prawirotaman, Yogyakarta.

Melihat produk buatan Delia yang sangat unik dan asli buatan tangan, respon para konsumen khususnya turis dari luar negeri pun cukup bagus. Bahkan ada salah seorang turis asing dari Swedia yang memesan tas hingga US$ 6000 dalam sebulan, dan Delia mendapatkan keuntungan 40% dari harga jual tas yang ditawarkan. Momentum inilah yang membuat alumni lulusan UGM ini semakin yakin bila produk buatannya cukup potensial untuk dipasarkan di pasar internasional.

Setelah berhasil mengerjakan pesanan tas dari turis Swedia, pada tahun 1990 Delia mencoba masuk ke pasar Eropa dengan mendatangi Departemen Perdagangan untuk memperoleh data calon konsumen yang dapat Ia bidik. Bermodalkan data calon konsumen yang Ia peroleh, Delia mulai menjaring konsumen dengan cara mengirimkan katalog produknya atau datang langsung ke calon konsumen yang ada di Eropa untuk mempresentasikan produk tas buatannya.

Kerja keras wanita kelahiran 18 Mei 1961 ini ternyata tidak sia-sia, sepulangnya Delia ke Indonesia banyak orderan yang mulai berdatangan. Hingga akhirnya pada tahun 1994 Ia mendirikan sebuah pabrik guna memenuhi semua permintaan konsumen.

Keberhasilan Delia memasarkan produk tas buatannya di pasar Eropa ternyata belum membuat wanita cantik ini merasa puas. Selanjutnya dengan cara yang sama Ia mulai mencoba masuk di pasar Amerika, dan ternyata respon konsumen sangatlah bagus.

Bahkan Delia mendapatkan partner bisnis di Amerika, dan memutuskan untuk mematenkan produk tas buatannya dengan merek The Sak pada tahun 1998. Tidak berhenti disitu saja, pada tahun yang sama Delia juga mematenkan produk tasnya di pasar Eropa dengan merek The Read’s.

Sedangkan untuk pasar dalam negeri, Delia mematenkan produk tasnya dengan merek Dowa yang diambil dari bahasa Sansekerta dan memiliki arti doa. Karena berkat doalah, Delia mampu melewati segala kesulitan dalam membangun bisnis hingga berhasil mencapai puncak kesuksesannya.

Kini dengan merek The Sak, produk tas Delia berhasil terpajang di Fifth Avenue, New York, dan beredar luas di pasaran Eropa di bawah bendera The Read’s. Berkat doa dan kerja keras Delia yang merintis usahanya dari nol, kini tas Dowa asli Godean bisa eksis di pasar internasional dengan beragam merek yang telah dipatenkan.

Semoga kisah sukses tas dowa menembus pasar internasional ini, dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca bahwa segala sesuatu yang dimulai dari nol bukan berarti hasilnya juga nol. Kisah pengusaha yang sukses seperti Delia menjadi salah satu bukti nyata bahwa kesuksesan dapat dimulai dari yang paling kecil, dimulai dari yang paling mudah, dan dimulai dari sekarang.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Cara Belajar Membuat Rajutan Tangan
  • Menangkap Peluang Bisnis Kerajinan Rajutan
  • Tampil Gaya dengan Sepatu Rajut
  • Belajar Cara Merajut untuk Pemula
  • Belajar Kerajinan Rajut untuk Anak-Anak
  • Mempelajari Cara Merajut Untuk Pemula
  • Baju Rajutan, Hangat dan Seksi
  • Tampil Cantik dengan Sandal Rajut
  • Menulis Buku Teknik Merajut untuk Pemula
  • Tampil Gaul dengan Topi Rajut
  • Membuat Tas Rajut Kualitas Ekspor
  • Cantiknya Rajutan Bunga
  • Seni Rajut, Tradisi Global yang Tak Pernah Mati
  • Mesin Rajut vs Rajut Tangan
  • Syal Rajut, Pelengkap Penampilan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA