logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Perilaku Sosial

Ramalan Hidup - Hanya Tuhan dan Diri Sendiri yang Tahu


Ilustrasi ramalan hidup 

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca dua kata tentang ramalan hidup ini? Mungkin sama seperti yang terlintas di dalam pikiran saya atau mungkin juga sangat berbeda. Pikiran yang terlintas di dalam kepala kita itu adalah refleksi kita atau cara pandang kita tentang kehidupan yang sedang kita jalani.

Ada orang yang bergantung pada ramalan hidup sehingga mereka selalu disibukkan dengan berbagai ramalan hidup tersebut. Ada juga orang-orang yang sengaja mencari berbagai ramalan hidup ini dengan mendatangi banyak orang pintar atau pergi ke peramal-peramal terkenal hanya untuk melihat masa depan yang ada di dalam ramalan hidup yang diberikan oleh orang tersebut.

Lalu, apa yang akan kita dapatkan setelah kita sudah mengetahui ramalan hidup kita? Adakah manfaatnya untuk kita? Adakah seseorang di luar sana yang mampu memberikan gambaran ramalan hidup yang tepat untuk kita? Jawabannya, bisa iya dan bisa juga tidak.

Jika jawaban tersebut iya, yaitu bahwa memang pernah ada seseorang yang bisa memberikan gambaran ramalan hidup yang sangat tepat kepada kita, maka bisa dikatakan itu adalah kebetulan dari sekian banyak ramalan hidup yang sudah kita cari dan kita kejar. Intinya kehidupan ini adalah milik Sang Pencipta. Mungkin memang ada seseorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan ramalan hidup pada orang lainnya. Namun, ramalan hidup yang diberikan orang tersebut tidak akan selalu benar.

Ramalan hidup itu akan tetap menjadi ramalan. Tetapi, jika pun terjadi, itu hanyalah sugesti. Bencana alam yang akan datang, musibah yang akan melanda, semua itu tidak perlu diramalkan lagi jika melihat tanda-tanda yang sudah ada. Semua orang pasti akan dapat melihat ramalan hidupnya sendiri jika ia mau dan mampu membuka mata dan hatinya untuk melakukan instropeksi ke dalam dirinya dan melihat keadaan di sekelilingnya.

Contohnya, ketika seseorang bekerja sedemikian kerasnya, bahkan ia bekerja lebih banyak dari orang-orang lain yang ada di sekitarnya. Dan ia tidak hanya bekerja ala kadarnya dan mengandalkan kekuatan ototnya, namun ia bekerja menggunakan akal budi yang sudah diberikan kepadanya. Niscaya ketika ada seseorang yang datang kepadanya dan memberikan ramalan hidup bahwa ia akan sukses suatu saat, maka terjadilah kesuksesan itu di depan matanya. Tetapi, yang harus diingat dan disadari adalah kesuksesan yang akhirnya dicapai oleh orang tersebut bukan karena ramalan hidup yang didapatkannya. Melainkan dari caranya bekerja keras dan caranya menghadapi kehidupan tanpa kenal menyerah.

Atau contoh lain lagi adalah ketika ada seseorang yang sangat malas hidupnya, lalu ia menghidupi dirinya dengan menipu orang-orang yang ada di sekitarnya. Maka tanpa harus ada seorang peramal pun yang datang kepadanya untuk memberikan ramalan hidup kepadanya, kita sendiri sudah tahu akan jadi seperti apakah kehidupan orang yang malas tersebut kelak di kemudian hari.

Tidak akan ada hal baik bagi orang yang menghidupi dirinya dengan menipu orang lain. Tidak juga ada kebaikan hidup kita kehidupan kita isi dengan kebohongan yang satu untuk menutupi kebohongan yang lain. Tidak perlu ada ramalan hidup untuk mengatakan kepada orang tersebut bahwa kehancuran tinggal selangkah lagi berada di hadapannya jika ia tidak segera mengubah dirinya dan mengubah nasibnya sendiri.

Ramalan Hidup - Hidup Adalah Perjuangan

Itulah slogan yang sering kita dengar. Hidup itu adalah perjuangan. Tidak ada orang hidup yang dapat mencapai apa yang diinginkannya tanpa perjuangan. Sejak kecil pun sebenarnya kita sudah diajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan ada banyak pengorbanan yang harus kita lakukan. Semua itu sudah ada yang menentukan. Tanpa harus ada ramalan hidup yang akan memberikan petunjuk pun kita sudah tahu akan jadi apa kita kelak jika kita tidak mau berkorban dan berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut.

Bagaimana dengan perampok atau pencuri? Mereka juga berjuang untuk mendapatkan keinginan mereka. Ada rasa malu dan harga diri yang mereka korban ketika kejahatan mereka itu terbongkar. Itu bisa juga dikatakan sebagai perjuangan untuk mendapatkan yang diinginkan. Namun sekali lagi, ada agama yang seharusnya mampu menyadarkan kita. Bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang berjuang tanpa harus merugikan orang lain. Kehidupan yang diperjuangkan tersebut adalah hidup yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan. Sehingga tanpa ramalan hidup pun setiap orang yang ada dimuka bumi ini sebenarnya sudah tahu apa yang akan mereka dapatkan dan apa yang akan mereka alami.

Seperti kalimat berikut ini: Siapa yang menabur angin, maka ia akan menabur badai. Entah kalimat ini dicetuskan pertama kali oleh siapa, namun dari kalimat ini kita dapat belajar bahwa ramalan hidup itu sebenarnya sudah bisa terbaca dari apa yang kita lakukan saat ini. Siapa yang menaburkan banyak kebaikan, maka akan mendapatkan lebih banyak lagi kebaikan. Dan siapa yang menaburkan kejahatan, maka akan ada kejahatan pula yang akan dialaminya.

Ramalan Hidup Si Peramal

Ada banyak orang yang berprofesi sebagai peramal yang mampu memberikan ramalan hidup bagi orang lain. Ada banyak peramal yang memang memiliki atau memang dianugerahi kemampuan untuk melihat masa depan dan membaca ramalan hidup seseorang. Tapi, berapa banyak orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan untuk memberikan ramalan hidup ini?

Tidak akan ada yang tahu apakah si peramal tersebut memang memiliki kemampuan untuk memberikan dan membaca ramalan hidup seseorang. Ketika satu ramalan hidup yang kebetulan terjadi dan diakui kebenarannya, maka akan ada lebih banyak orang yang datang kepada peramal tersebut untuk meminta ramalan hidupnya. Tapi, pernahkah orang menghitung, berapa banyak ramalan hidup yang diberikan oleh si peramal tersebut ternyata meleset dan sama sekali tidak terjadi? Dan apa gunanya bagi kita ketika kita tahu akan ramalan hidup kita yang sebenarnya?

Tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang mampu mengubah nasib seseorang tanpa usaha orang itu sendiri dan tanpa seijin Tuhan. Ramalan hidup sang peramal pun tidak akan mampu mengubah nasib kita yang buruk karena kelakuan kita sendiri. Bahkan, tidak ada satu orang peramal pun yang mampu mencegah terjadinya bencana alam yang akan menghancurkan bumi ini dalam kondisi bumi ini telah rusak akibat perbuatan manusianya sendiri.

Percaya pada Kehidupan Bukan pada Ramalan Hidup

Karena itulah, sejak kecil, kita sudah diberikan berbagai ilmu agama. Ilmu agama tersebut seharusnya menjadi tameng utama kita dalam menjalani kehidupan kita dengan menjauhi segala laranganNya dan melaksanakan segala perintah-Nya. Ramalan hidup itu adalah rahasia alam. Manusia tidak akan mampu mengungkap lebih banyak lagi tentang ramalan hidup dirinya masing-masing. Yang ada hanyalah kepasrahan dalam menjalani kehidupan sebaik-baiknya dan  bersyukur atas kehidupan yang sudah diberikan kepada kita.

Untuk apa kita mengejar ramalan hidup yang sebenarnya tidak diketahui kebenarannya? Untuk apa kita mengotori pikiran dan hati kita ketika ada ramalan hidup yang menyatakan bahwa kita akan mati terlindas segerombolan gajah yang melintas. Jika memang suratan takdir kita akan mati, mungkin ada baiknya kita tidak mendirikan rumah di sebelah kandang gajah agar kemungkinan kita mati terinjak gerombolan gajah tersebut tidak terjadi.

Ramalan kehidupan itu hanya milik Tuhan. Ia akan mampu memberikannya kepada masing-masing manusia yang langsung meminta kepada-Nya. Dan ramalan hidup yang diberikan langsung kepada kita itulah yang nyata dan kebenarannya ada. Sayangnya, siapakah kita hingga Tuhan mau memberikan ramalan hidup itu langsung kepada kita?

Percaya Ramalan Hidup Berdampak Kemalasan

Ramalan merupakan prediksi mengenai nasib atau jalan hidup seseorang di kehidupan kini dan mendatang. Ramalan selalu berada di balik kata peramal, orang pintar, paranormal, dukun, dan ahli nujum (zaman dahulu).

Ramalan selalu dikaitkan dengan kehidupan yang kuno dan masih menganut kepercayaan animisme (kepercayaan nenek moyang). Namun, hubungan antara ramalan dan kuno tidak lagi berlaku kini.

Zaman sekarang, ramalan telah terang-terangan disajikan dalam bentuk yang lebih modern. Salah satu contohnya adalah maraknya layanan ramalan melalui sms dan internet.

1. Mulanya Sakral

Ramalan pada zaman pramodernisasi merupakan sesuatu yang amat sakral. Prosesnya pun dilakukan secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi. Pada ritualnya, sering disajikan beberapa sesajian, sesajen.

Namun, di era modern, ramalan bukan lagi sesuatu yang sakral. Praktinya ada di mana-mana, bahkan di pinggir-pinggir jalan pun sering ditemui beberapa orang yang bisa memprediksi nasib.

Kini, setiap orang tidak malu lagi untuk diramal. Mereka melakukan ramalan secara terang-terangan. Siapa saja boleh. Apa saja boleh. Di mana saja boleh.

2. Upaya dan Doa

Berkenaan dengan nasib di masa sekarang dan masa depan, kita selalu ingin tahu mengenai gambaran jodoh atau percintaan, rezeki, dan karir. Namun, semua akan kembali bergantung pada upaya dan doa kita untuk meraih keberhasilan dan jalan yang lebih baik di hari kemudian.

Kita semua, agama apa pun, memiliki Tuhan. Setiap agama meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan. Tuhan adalah yang Paling Maha. Dia bisa melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya.

Sejak lahir, setiap orang sudah ditentukan garis nasibnya hingga dia kembali tidak bernyawa. Jadi, yang menentukan perbaikan atau bahkan bencana bagi kehidupan manusia bukanlah ramalan, melainkan Tuhan.

Manusia harus percaya dengan Tuhan. Pepatah Sunda mengatakan bahwa jodo, pati, bagja, cilaka geus aya nu ngatur. Ini berarti bahwa segala yang menimpa kita sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Jodoh, kematian, kebahagiaan, dan kesusahan, semuanya sudah ada yang mengatur.

3. Macam Ramalan

Seseorang bisa diprediksi nasibnya berdasarkan hal-hal yang melingkupinya, seperti melalui nama, tanggal lahir, nomor HP, garis tangan, dan warna kesukaan.

Kembali pada definisi awal bahwa ramalan hanya merupakan sebuah prediksi. Prediksi itu sendiri merupakan perkiraan yang bisa saja benar dan bisa juga meleset. Meskipun, ada beberapa ramalan yang benar, kebanyakan prediksinya meleset.

Sebagai makhluk ber-Tuhan, kita jangan terlalu percaya pada ramalan. Karena, ramalan bisa berpengaruh pada peningkatan kemalasan. Misalnya, seseorang diramalkan karirnya akan naik di akhir tahun 2011.

Dengan adanya ramalan seperti itu, orang tersebut akan malas untuk bekerja karena dia berpikir percuma kerja capek dari sekarang. Toh, akhir 2011 karirnya akan naik juga.

Mending kalau ramalan itu benar, kalau tidak? Kalau ramalan itu meleset, akan ada dua kerugian yang dia alami. Pertama, menduakan Tuhan. Kedua, hidup sengsara akibat bermalas-malasan.

Kita sebaiknya berlaku wajar-wajar saja dalam mengapresiasi sebuah ramalan. Ramalan adalah sesuatu yang hanya berupa perkiraan. Sebagai referensi, kita boleh saja melihat ramalan.

Namun, jangan lantas percaya 100% karena semuanya baru perkiraan yang bisa saja benar maupun sebaliknya. Kita percaya pada Tuhan saja, jangan yang lain-lain!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Teori Penyimpangan Sosial
  • Donor Organ -- Kontroversi Antara Setuju dan Tidak
  • Menguak Asal Muasal Gank XTC Bandung
  • Pengaruh Budaya Hedonisme terhadap Generasi Muda
  • Marah Bukanlah Emosi Dasar Manusia
  • Resiko Orang Cantik, Dipuja dan Dibenci
  • Sisi Kehidupan Malam Kota Jakarta
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA