Ratu Mesir Cleopatra yang Ambisius
Menyebut ratu Mesir Cleopatra, akan mengingatkan kita pada legenda kecantikannya. Berkat kecantikannya dia mampu memikat kaisar Romawi, Julius Caesar. Kisah cinta romantisnya dengan Mark Antony yang berujung kematian bak cerita dongeng. Kalau berbicara tentang kecantikan, maka orang akan menganggap bahwa ratu Mesir Cleopatra adalah simbol kecantikan abadi.
Masa Kecil Ratu Mesir Cleopatra
Masa kecil ratu Mesir Cleopatra tidak banyak diketahui ceritanya, tetapi yang pasti ratu Mesir Cleopatra berdarah Ynunani bukan keturunan dari Mesir. Ratu Mesir Cleopatra lahir pada 69 SM awal, anak ketiga dari enam orang yang terlahir di kalangan Dinasti Ptolemaik Yunani. Ratu Mesir Cleopatra memiliki dua orang kakak, seorang adik perempuan, dan dua orang adik laki-laki. Ratu Mesir Cleopatra dilahirkan dan tumbuh dewasa di Kota Alexandria, kota termewah dan terbesar pada zamannya.
Sejak kecil, ratu Mesir Cleopatra sering menyaksikan perselisihan di dalam keluarganya. Misalnya, upaya pembunuhan ayahnya yang terjadi sebanyak dua kali. Pertama, ditemukan ular berbisa di tempat tidur ayahnya dan seorang pelayan yang meninggal setelah mencoba minuman anggur ayah ratu Mesir Cleopatra. Kakak perempuan tertua ratu Mesir Cleopatra, Tryphanea, pun berupaya meracuni sang ratu.
Ratu Mesir Cleopatra menyaksikan keruntuhan kekuasaan ayahnya saat usianya masih belasan tahun. Ayah ratu Mesir Cleopatra dijadikan boneka Kekaisaran Romawi karena beban utang yang sangat tinggi. Namun, ayah ratu Mesir Cleopatra masih berharap Kekaisaran Romawi tidak menaklukkan Mesir.
Ratu Mesir Cleopatra dan Kecantikannya
Cleopatra adalah putri dari raja Ptolemy XI Auletes, seorang raja Mesir. Ayahnya wafat ketika dia berusia 17 tahun. Di Mesir ada tradisi untuk melanggengkan hubungan darah kerajaan, setiap putri raja akan dinikahkan dengan saudara kandungnya.
Maka, kala itu Cleopatra dinikahkan dengan adiknya yang berusia 12 tahun, Ptolemy XII. Mereka berdua mulai memerintah sejak 51 SM. Tetapi Ptolemy yang didorong oleh pengaruh penasehatnya memegang kendali penuh dan mengasingkan saudarinya.
Saat itulah Cleopatra yang cantik bertemu dengan jenderal Romawi, Julius Caesar. Kala itu, Caesar belum menjadi seorang kaisar, masih menjadi Jendral besar. Mereka bertemu di Iskandaria.
Julius terpesona padanya dan memihak Cleopatra, lalu melakukan peperangan demi Cleopatra melawan adiknya. Pertempuran itu membuat Ptolemy terbunuh. Maka Julius pun memaklumatkan Cleopatra sebagai ratu Mesir.
Menyusul pernikahan tradisi yang diharuskan bagi Cleopatra dengan adiknya yang lain yang berusia 11 tahun, Ptolemy XIII, Cleopatra malah memilih untuk bersama Caesar menuju Roma. Dia memerintahkan membangun Patung Emas untuk menghormati Cleopatra dan memberikan wanita cantik tersebut sebuah Villa mewah di dekat sungai Tiber.
Setelahnya Cleopatra pun melahirkan putra dari Julius Caesar, yaitu Caesarion. Ketika Caesar dibunuh oleh Brutus, anak buah kepercayaannya, Cleopatra memutuskan untuk kembali ke Mesir dan meracuni adiknya, lalu menempati tahta dengan menjadikan putranya sebagai penguasa pendampingnya.
Ratu Mesir Cleopatra dan Kisah Cinta Romantisnya
Bila dahulu Cleopatra bertindak benar dengan memikat Julius Caesar, kini dia melakukan kesalahan dalam jatuh cinta. Karena tidak lama setelah dirinya kembali ke Mesir, dia berjumpa dengan Marcus Antonius atau biasa dikenal dengan nama Mark Antony, seorang komandan kerajaan Romawi Timur.
Dia memanggil Cleopatra ke Roma untuk suatu pertemuan. Perjumpaan Antony dengan Cleopatra membuahkan cinta. Antony memilih untuk mengikuti Cleopatra sampai ke Mesir di mana akhirnya keduanya hidup bersama selama beberapa tahun sampai keduanya memiliki anak.
Antony dipanggil pulang kembali ke Roma untuk dinikahkan, tapi dia kembali lagi ke sisi Cleopatra yang membuat Oktavian tidak suka dan memilih memeranginya. Salah satu sebabnya dikarenakan Oktavian takut Cleopatra akan berencana mengambil alih sebagian imperium Romawi dan mengendalikannya. Akhirnya Oktavian menyatakan perang melawan keduanya.
Di dalam pertempuran laut Actium, Cleopatra dan Antony sudah merasakan kekalahan, mereka melarikan diri ke Iskandariah. Namun, karena salah sangka, Antony yang menyangka Cleopatra bunuh diri, memilih menyusul kekasihnya.
Ketika Cleopatra menyadari Antony sudah meninggal dan Oktavian berencana mempermalukan dirinya, dia pun memilih mengakhiri hidupnya. Maka, berakhirlah pesona si cantik Cleopatra.
Ratu Mesir Cleopatra dan Tahta
Ayah Ratu Mesri Cleopatra, Ptolemeus XII meninggal dunia pada Maret 51 SM. Kematian ayahnya itu membuat Ratu Mesir Cleopatra yang saat itu berumur 18 tahun dan Ptolemeus XIII yang saat itu berusai 12 tahun menjadi pemimpin gabungan.
Pada tiga tahun pertama kekuasaan, mereka mengalami kesulitan karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir Sungai Nil, dan konflik politik. Walaupun Ratu Mesir Cleopatra menikai adiknya, dia menunjukkan bahwa dia tidak memiliki keinginan untuk berbagi kekuasaan dengannya.
Pada Agustus 51 SM, hubungan Ratu Mesir Cleopatra dan Ptolemeus XIII mengalami keretakan. Ratu Mesir Cleopatra menurunkan Ptolemeus XIII dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri dalam uang koin yang berada di luar tradisi Ptolemaik. Hat itu mengakibatkan timbulnya kelompok rahasia yang tidak termasuk anggota istana.
Akhirnya, kelompok rahasia yang berada di bawah komando Eunuch Pothinus itu menurunkan Cleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus XIII sebagai pemimpin. Lalu, Cleopatra pun melarikan diri dari Mesri dengan adiknya yang lain bernama Arsinoe.
Saat Ratu Mesir Cleopatra melarikan diri dari Mesir, Pompey, seorang pemimpin militer, melibatkan diri dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur 48 SM, Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar menuju Alexandria. Proses melarikan diri tersebut dilakukan untuk mencari suaka. Saat itu, Ptolemeus XIII yang berusia 15 tahun
Pada 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan pengikutnya yang sekarang bekerja untuk Ptolemaik. Pompey dibunuh di hadapan istri dan anaknya. Ptolemeus berpikir bahwa dengan ia telah memerintahkan kematian Pompey untuk menyenangkan Julius Caesar. Membunuh Pompey adalah sebuah kesalahan besar yang dilakukan Ptolemeus.
Sebuah kesalahan besar karena ketika penggalan kepala Pompey dibawa ke Julius Caesar, Julius Caesar marah. Kemarahan Julius Caesar disebabkan karena meskipun Pompey adalah musuh politik Julius Caesar, Pompey juga adalah konsul Roma dan duda dari anak Julis Caesar, Julia. Lalu, Julius Caesar menguasai ibu kota Mesir dan menjadi wasit dari sengketa antara Ptolemeus dan Cleopatra.
Ratu Mesir Cleopatra mengambil kesempatan ini dan kembali ke istana untuk bertemu dengan Julius Caesar. Kedatangan Ratu Mesir Cleopatra ke istana ini membuat Julius Caesar jatuh hati dan terpesona karena langkah Cleopatra. Lalu, Ratu Mesir Cleopatra pun menjadi kekasih Julius Caesar. Dari hubungan Ratu Mesir Cleopatra dan Julius Caesar, lahirlah seorang bayi.
Julius Caesar berencana untuk menggabungkan Mesir dan mendukung Cleopatra naik tahta. Setelah perang saudara yang berlangsung singkat, Ptolemeus XIII tenggelam di Sungai Nil dan mengambalikan tahta Mesir kepada Cleopatra. Dan, Cleopatra pun mendapatkan gelar Ratu Mesir.
Ratu Mesir Cleopatra dalam Kebudayaan Populer
Cerita mengenai sosok Ratu Mesir Cleopatra sungguh mengagumkan sehingga banyak penulis dan kalangan seniman lainnya yang mencaba mengankat kisah hidup Sang Ratu Mesir Cleopatra dalam ber bagai karya, seperti puisi, novel, lukisan, bahkan film.
William Shakespeare menghasilkan karya drama mengenai kisah Ratu Mesir Cleopatra yang berjudul Anthony dan Cleopatra. Film pertama mengenai Ratu Mesir Cleopatra pun berjudul Anthony dan Cleopatra.
| Beri rating untuk artikel di atas |








