Renungan Harian Kristen Tentang Persahabatan
Ilustrasi renungan harian kristen
Renungan Harian Kristen memuat banyak kisah sarathikmah. Salah satunya tentang "persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah." (Sindetosca). Lirik lagu itu mengingatkan kita pada firman Tuhan tentang sejumlah kisah.
Renungan Harian Kristen Tentang Persahabatan
Di dalam kitab Markus 2:1-12, menceritakan sebuah kisah yang bisa dijadikan renungan harian Kristen bagi umat Kristen. Di sana dikisahkan seorang yang lumpuh. Ia dan keempat kawannya yang sehat.
Mereka hendak masuk ke sebuah rumah di Kapernaum. Keempatsahabat itu mendengar kabar kedatangan Yesus. Mereka tahu ada sebuah rumah yang di dalamnya ada sang penyembuh, Yesus Kristus.
Akan tetapi rumah itu telah sesak, sebab orang-orang tahu kedatangan Yesus. Tempat itu sesak, dikerumuni banyak orang yang berharap kesembuhan. Bahkan hingga muka pintu pun sesak. Keempat sahabat itu datang dan tak bisa membawa sahabatnya yang lumpuh ke dalam rumah. Tapi, mereka tak kehabisan akal.
Keempat sahabat si lumpuh naik keatap rumah. Menggotong si lumpuh keatap rumah itu dan membuka atap rumah, demi mendengar Firman Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Meski ada keraguan dalam hati si lumpuh, tetapi Yesus menghargai iman para sahabatnya. Yesus pun menyembuhkan si lumpuh.
Yesus melihat kesetiaan sahabat si lumpuh, hingga rela membawa si lumpuh dengan bersusah payah. Keempat sahabat si lumpuh itu berhasil menanggalkan keegoisan mereka. Mereka mampu meniru kasih sayang Tuhan. Maka Tuhan pun menyembuhkan sakit sahabat mereka.
Yesus sangat menghargai persahabatan. Sebab setiap orang tentu mempengaruhi dan dipengaruhi sahabat-sahabat di sekelilingnya. Sampai-sampai sebuah pepatah berkata, "Lihatlah sesorang dari sahabatnya. Jika ia bersahabat dengan tukang minyak wangi, maka ia tentu ikut terciprati wanginya. Tetapi jika ia berteman dengan sampah, maka tentu ia akan terpengaruh bau sampah".
Kisah tersebut sangat indah dan layak dijadikan renungan harian Kristen. Layak jadi pedoman untuk berbagi kasih dengan sahabat. Tetapi, pandai-pandailah memilih sahabat. Lalu siapakah sahabat sejati? Dan bagaimana cara memilihnya? Jika kita membaca AlKitab, kita akan menemukan sejumlah hikmah, selaku umat Kristen, di antaranya adalah sebagai berikut.
- Alkitab mengajarkan, bersahabatlah dengan orang yang penuh kasih sayang. Seperti diungkap dalam kitab Amsal 17:17, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran". Sahabat sejati adalah ia yang mengasihi kita setiap waktu. Saat kita susah ia ada menemani kita. Sahabat bukanlah ia yang ada saat kita senang saja.
- Bersahabatlah dengan orang-orang yang berhati suci. Yang percaya dan menghamba pada Tuhan. Yang tak tunduk pada hawa nafsunya. Kitab II Timotius, seperti banyak diungkap dalam sejumlah renungan harian Kristen, mengajarkan hal itu. "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni," (2 Timotius 2:22).
- Dalam Kitab II Timotius tersebut juga diungkapkan, pilihlah sahabat yang mencintai keadilan. Sebab jika kita bersahabat dengan keadilan, kita akan berusaha berbuat adil. Adil berarti tidak lalim. Dan orang yang adil, tidak lalim, tentu akan menuai kasih sayang semua makhluk Tuhan.
- Dalam kitab II Timotius itu juga disebutkan, bersahabatlah dengan orang-orang yang setia dan cinta damai. Sebab orang yangcinta damai, tak suka berselisih. Perselisihan itu berbuah kebencian. Dan kebencian tentu merusak persahabatan.
- Bersahabatlah dengan orang yang berjiwa sosial dan rendah hati. Bukan dengan orang egois. Kitab Filipi 2:3-4, "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga," (Filipi 2:3-4)
- Sahabat yang baik adalah dia yang menutupi aibkita. Ia tak suka bergosip dan menjelekkan kita. Sebab gosip hanya melahirkan kesalah pahaman. Dan kesalah pahaman adalah awal dari perpecahan sebuah persahabatan. "Gosip memisahkan teman-teman akrab,"(NIV). Ayat dalam Alkitab ini sungguh harus dijadikan pegangan.
- Bersahabatlah dengan kejujuran. "Orang yang curang menimbulkanpertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib," (Amsal 16:28). Bersahabatlah dengan kejujuran, meski terkadang kejujuran itu menyakitkan. "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah," (Amsal 27:6).
- Seorang sahabat, selalu berniat baik, meski ia terlihat menyakiti. Sebaliknya, seorang musuh selalu berniat jahat, meski ia terlihat baik.
Jika kita telah mendapat seorang sahabat yang memiliki tujuhsifat tersebut, maka jagalah ia. Jagalah persahabatan itu dengan baik. Dan berbagilah segala kebaikan dengannya. Camkanlahrenungan harian Kristen tentang persahabatan ini sebagai bekal kita dalam pergaulan.
Sahabat Terbaik yang Patut Jadi Renungan dalam Renungan Harian Kristen Adalah Allah
Sahabat terbaik seperti diceritakan dalam Yohanes 15;15 adalahTuhan. Bisakah Tuhan dijadikan sahabat? Tentu saja bisa. Sebab dalam Alkitab, pun disebutkan, bagaimana Yesus menyebut gembalanya sebagai sahabat. "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku," (Yohanes 15:15).
Bagaimanakah bentuk persahabatan degan Yesus? Seperti persahabatan pada umumnya, dalam sebuah hubungan tentu harus ada saling memberi dan saling mengasihi. Inilah hikmah membaca Alkitab, kita menemukan renungan yang bisa dijadikan pedoman hidup
Mengapa kita harus menjadi sahabat Allah, sebab dengan menjadi sahabat-Nya, kita akan menerima cahaya-Nya. Kita akan mendapat bimbingan-Nya, dan kita akan senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya.
Renungan harian Kristen yang ada dalam kitab-kitab memuat sejumlah persyaratan untuk menjadi sahabat-Nya. Seperti dalam kitab Lukas 10:27 atau Markus 12:30-31, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu dan dengan segenap kekuatanmu."
Mencintai Allah dengan segenap jiwa, berarti kita sepenuhnya mengabdikan diri kepada Allah. Sebagai pecinta, kita tentu akan dengan penuh kerelaan meraih cinta-Nya. Kita akan berusaha membuat-Nya senang. Kita mengabdikan diri kepada Allah dengan sepenuh jiwa dan raga. Dengan segenap kekuatan kita. Dengan pemikiran kita yang bisa dijadikan sebagai renungan.
Mencintai Allah juga diimplementasikan denganmencintai sesama manusia. Sebab Dia Maha Pengasih, maka kita harus berupaya meniru sifat-Nya.
Kita berusaha menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berusaha sekuat tenaga dan dengan sepenuh jiwa. Dengan ikhlas mengikuti ajaran Allah.
Dia telah mengatakan dengan sangat jelas dalam kitab Markus, 12:30 yang bisa dijadikan renungan, "Jika engkau ingin menjadi sahabatKu, engkau harus mengasihi-Ku dengan segala apa yang engkaumiliki."
Dalam firman tersebut, Allah meminta pembuktian cinta kita dengan merelakan segala yang kita miliki untuk kepentingan Cinta-Nya. Percayalah dengan banyak memberi, dengan banyak berbagi, dan meneladani cinta Allah, kita akan memperoleh cinta kasih-Nya. Kita akan mendapat imbalan selayaknya. Begitulah Renungan Harian Kristen mengajarkan kebijaksanaan.
Jika kita percaya Allah maha pengatur, maka kita pun percaya bahwa Allah memberikan rejeki dengan penuh cinta kasih. Apakah seorang sahabat akan menelantarkan sahabatnya? Tentu tidak.
Allah pasti tahu segala kebutuhan kita dan jika kita telah peroleh cinta-Nya, maka segala kebutuhan kita pun akan dipenuhi oleh-Nya. Sebab Ia maha kuasa, maka jadilah sahabat yang baik bagi Tuhan, bagi sesama manusia, bagi semesta raya. Dan bagikanlah renungan ini kepada sahabat-sahabat Anda, sebagai hadiah cinta dari seorang sahabat dan tak akan berguna jika kita sendiri tak melaksanakannya.
Dalam sejarah di perjanjian lama maupun perjanjian baru, kita pun hanya menemukan sedikit kisah tentang manusia teladan kisah yang patut dijadikan renungan harian kristen.
Manusia yang setia pada Tuhannya. Seperti Abraham, misalnya, Daud, Nuh, atau Musa, sebagai sahabat-Nya. Mereka adalah orang terpilih karena setia pada Allah. Setia pada kebajikan dan kebijaksanaan. Kita harus mampu meneladani mereka, jika ingin menjadi sahabat Allah. Mari kita jadikan Renungan Harian kristen menjadi penyemangat untuk beribadah.

