Rensesi Buku dan Syarat Menjadi Resentator
Ilustrasi resensi buku
Resensi buku adalah salah rubrik yang menghiasi surat kabar. Rubrik ini memang berbeda dengan rubrik opini. Rubrik ini hanya muncul sekali dalam seminggu dan hanya beberapa surat kabar yang memunculkan rubrik resensi dua kali dalam seminggu. Tentu, persaingan untuk bisa menembusnya juga membutuhkan kecerdasan resentator dan kemampuannya dalam meresensi buku.
Resensi Buku
Harus paham dulu hakikat resensi buku itu apa saja. Meresensi buku bukanlah sekedar untuk memuji isi buku. Tapi, ia berperan untuk mengkritisi isi buku atau memperkuat isi buku. Inilah yang sering diklaim kebanyakan orang bahwa resensi adalah timbangan buku. Selain itu, resensi buku juga dianggap diskusi buku. Karena resentator harus bisa menjadi penalaah buku. Ia harus membaca buku secara detail sehingga bisa meneliti dan menyelidik keunggulan dan kekurangan buku.
Rensesi Buku - Syarat-syarat Resentator
Resentator adalah sebutan untuk peresensi. Dalam buku "Panduan Membuat Karya Tulis", O. Setiawan Djauhari menyatakan ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh resentator:
- Harus Betul-Betul Objektif. Resentator harus menjadi orang pemberani. Berani untuk menilai apakah buku itu memiliki kekurangan atau tidak. Jika ada yang ditemukan tidak menarik, jangan sungkan untuk mengungkapkannya. Tentu, harus diiringi dengan penjelasan atau alasan yang logis dan dipaparkan secara bertanggungjawab.
- Jangan Salah Interpretasi. Tugas utama resentator adalah menilai buku, terutama isinya. Resentator tidak boleh salah dalam menangkap ide penulis buku. Untuk menjauhinya dari kesalahan, bisa dilakukan dengan membaca kata pengantar atau sinopsis buku yang ada di cover belakang buku.
- Memiliki Wawasan yang Luas. Resentator dalam melakukan resensi buku harus memiliki pengetahuan yang banyak tentang buku dan topik buku. Harus memahami sistematika penulisan, tata bahasa, lay out, dunia penerbitan hingga perangkat bahasa.
- Berani Membandingkannya dengan Karya Orang Lain. Resentator tak hanya membaca buku yang ingin diresensi saja. Ia harus membaca buku lain yang memiliki tema sejenis. Di sinilah nanti kemudahan resentator untuk mengungkap keungguan dan kekurangan isi buku
- Komentar dengan Acuan yang Jelas. Resentator dalam melakukan resensi buku juga boleh memberikan komentar dan penilaian terhadap buku. Namun, dengan tetap memperkuatnya dengan data, rumusan dan teori yang tepat.
Intinya, resensi buku adalah penjabaran tentang buku yang ingin dikupas. Untuk menjadi resentator, syarat yang paling utama adalah hobi membaca. Jika sudah hobi membaca, meresensi buku akan dengan mudah dilakukan. Menemukan ide penulis, kelebihan dan kekurangan buku serta mencari buku pembandingpun akan dengan mudah dilakukan.
***
Jika Anda pernah menulis resensi buku, lalu tulisan itu terbit di sebuah media cetak, apa yang akan Anda lakukan? Sebagian orang hanya cukup bergembira lalu mengambil atau menunggu transfer honornya dari kantor media yang telah memuat tulisan Anda.
Jarang yang kemudian menyalin tulisan tersebut lengkap dengan nama media dan tanggal terbit lalu dikirimkan kepada penerbit yang bukunya kita resensi tersebut. Padahal jika itu dilakukan, Anda biasanya akan mendapatkan bingkisan menarik berupa buku baru sebagai ungkapan terima kasih. Biasanya, penerbit akan meminta Anda untuk meresensi kembali buku baru itu.
Resensi Buku adalah Jasa
Apa yang Anda lakukan dalam meresensi buku tersebut adalah bernilai jasa yang seharusnya bisa dikemas agar lebih bisa menghasilkan uang. Mungkin Anda masih sedikit bingung. Sederhananya, tulisan resensi Anda yang dimuat di media cetak tersebut akan dibaca orang.
Biasanya dalam tiap tulisan resensi buku, akan dicantumkan nama penerbit buku tersebut. Inilah yang menjadi alasan kenapa penerbit mau memberikan bingkisan dan semacam "ketagihan" agar Anda kembali meresensinya. Tulisan resensi Anda itu adalah ujung tombak paling runcing yang berada di wilayah penerbitan khususnya bagian marketing. Secara tidak sadar Anda sudah membantu promo bagi penerbit tersebut.
Makanya, jika Anda sering melihat artikel resensi yang dimuat di surat kabar terkadang disebutkan nama penerbit. Atau bahkan, Anda sendiri pun terkadang menulis resensi buku seperti itu tanpa Anda sadari. Inilah nilai promo Anda.
Cara ini bisa menjadi daya pikat yang Anda lakukan terhadap penerbit. Caranya cukup mudah, Anda deteksi saja sudah berapa banyak penerbit menerbit jenis buku yang Anda resensi. Lalu sebutkan. Jika sudah banyak, Anda bisa bandingkan kualitas terbitan yang lain dengan terbitan buku yang diresensi. Cara ini menjadi pertimbangan bagi penerbit tentang kualitas cetakan atau lay-outnya.
Atau, jika bukunya masih perdana, Anda bisa memberikan saran-saran positif sehingga ke depan penerbit bisa melakukan langkah-langkah yang disarankan atau melakukan langkah penerbitan yang lebih baik. Pasalnya, Anda adalah peresensi yang sudah sering merensi tentunya memiliki pengalaman yang banyak dalam melihat buku-buku yang asyik dinikmati.
Anda tidak usah bingung di mana meletakkan penilaian tersebut. Anda bisa memulainya sebagai lead artikel. Pasalnya, jika penerbit yang sudah terkenal dengan namanya terpampang di depan, maka akan menarik perhatian pembaca. Apalagi, Anda menyebutkan sudah berapa kali penerbit menerbitkan buku yang sejenis. Jika banyak, maka menunjukkan bahwa penerbit memang memiliki kualifikasi dalam hal penerbitan tersebut.
Jika penerbit baru, penulis menyarankan untuk menempatkannya di body artikel resensi. Sehingga yang menjadi daya tarik redaktur dan pembaca pada tema yang dikupas pada buku tersebut.
Menampilkan nama penerbit memang menjadi jasa. Selain jasa pemasaran, juga menjadi jasa informasi untuk para penulis buku yang ingin menawarkan naskahnya diterbitkan. Sehingga ia bisa mengirimkan draf buku yang ingin diterbitkan atau ia bisa memahami seperti apa karakter penerbit yang bisa meloloskan tulisannya untuk diterbitkan.
Resensi Buku - Inilah Ide Bisnis Baru Jarang Dipikirkan
Jika untuk satu buku saja Anda sudah menghasilkan bingkisan menarik dan tawaran kerjasama untuk meresensi kembali, bagaimana jika banyak buku yang diresensi? Anda tentu akan mendapatkan bertumpuk-tumpuk bingkisan buku. Bisa dari satu penerbit atau juga banyak penerbit. Itu tergantung Anda.
Nah, persoalannya adalah, Anda mau atau tidak mengembangkan peluang ini agar Anda tidak hanya mendapatkan bingkisan buku, tetapi juga mendapatkan uang? Kenapa tidak Anda mengorganisir teman-teman Anda yang sama-sama mencintai buku lalu mengajak mereka sebagai satu kesatuan tim peresensi buku.
Kerena mustahil Anda melakukan sendiri karena pekerjaan meresensi adalah pekerjaan lanjutan setelah membaca buku dengan cermat dan penuh penghayatan. Bersama teman-teman Anda itulah Anda dapat membuat konsep bagaimana agar bisa menerbitkan resensi itu di media-media sehingga bingkisan yang didapat semakin banyak, dan Anda pun mendapatkan upah berupa uang?
Karena Anda yang sudah punya nama di mata redaktur maka nama yang tercantum tetap nama Anda. Meski yang meresensi bukan Anda. Anda cukup mengedit dan memperhalus bahasa. Bagaimana dengan honornya? Anda cukup mengambil sekitar 5 persen saja.
Sedangkan buku yang diresensi bisa dibincangkan bersama. Apakah menjadi milik yang meresensi atau tetap menjadi milik Anda? Atau, apakah buku tersebut dijadikan buku untuk membuka taman bacaan milik bersama? Di taman bacaan nantinya bisa banyak yang bisa dilakukan.
Anda beserta rekan-rekan Anda bisa membuat pelatihan meresensi dengan anggota yang terbatas, namun pembelajaran dilakukan intensif. Atau, bisa juga dengan membuat sanggar resensi yang isinya pembahasan tentang buku-buku yang dibedah. Sehingga, ketika nanti ada kiriman buku yang diminta diresensi bisa dilakukan diskusi bersama dulu, lalu diberikan tugas kepada Anda, teman-teman atau anggota sanggar yang dilatih untuk menjadi peresensi.
Tentu saja ini bentuk ide yang luar biasa. Anda memiliki tim solid yang bisa menjadi jalan untuk membentuk kerjasama yang kuat dengan penerbit dan kerjasama dengan surat kabar. Sehingga jika ada buku baru akan selalu kebagian jatah untuk meresensi dan surat kabar pun tak akan pernah kosong rubrik resensinya
Meski tak selamanya rubrik resensi surat kabar tersebut bakal diisi oleh anggota sanggar Anda, tapi paling tidak karena membawa nama sanggar akan menjadi pertimbangan kuat bagi para redaktur surat kabar. Apalagi, jika para redaktur surat kabar tahu ada pendiskusian terlebih dahulu terhadap buku yang diresensi.
Inilah cara di dunia nyata atau offline yang bisa Anda lakukan. Yakinlah usaha bisa dilakukan untuk membuat ide baru. Ide ini tak hanya bermanfaat untuk Anda, tapi juga untuk orang lain. Bahkan bermanfaat untuk komunitas sanggar yang digagas.
Aktivitas sanggar resensi buku memang belum begitu banyak dibentuk. Meski menghasilkan, tetap saja tak sedikit para penulis resensi ingin bermain sendiri. Padahal, jika dibentuk atas nama tim bakal mendatang rezeki yang boleh dikatakan lebih menjanjikan bila dilakukan bersama.
Anda pasti sudah bisa menebak kenapa dikatakan bakal mendatang rezeki yang menjanjikan. Karena koneksitas sanggar dengan penerbit tak diragukan lagi demikian juga koneksi sanggar dengan surat kabar. Hanya sekarang, tinggal Anda saja. Maukah membuat sanggar resensi bersama teman-teman Anda?
Rensesi Buku - Inilah yang Harus Dilakukan, Jika Bergerak di Dunia Maya
Cobalah Anda melakukan penelusuran di internet, lalu cari situs yang khusus menyediakan jasa resensi. Pasti sangat jarang karena memang sedikit orang yang mampu menulis resensi buku. Dunia sudah datar kini karena semua orang nyaris mengakses internet. Maka kenapa Anda tidak mencoba membuat situs khusus yang menawarakan kerja sama dengan seluruh penebit di Indonesia?
Caranya, dengan mengajukan konsep detail resensi buku, tim kerja yang solid dan teruji, dan penawaran-penawaran harga dan jumlah teks resensi yang disodorkan, dan tentunya tampilan situs yang memukau. Sudah Anda pahami, bukan? Nah, problemnya adalah bagaimana kemudian Anda memulai menawarkan jasa Anda via internet.
Untuk membangun keefektivitasan, Anda dan tim mesti buat perkumpulan di dunia maya atau yang biasa disebut dengan milis. Atau, Anda juga bisa membuat perkumpulannya dengan membuat grup di facebook. Banyak cara yang bisa dilakukan agar tim yang dibangun kian kokoh dan benar-benar bersinergi untuk mendatangkan hasil yang bermanfaat untuk tim secara khusus.
Jika benar-benar peresensi murni, maka mereka tak akan begitu terlalu memperdulikan honor yang didapat. Karena yang dipikirkan bukan lagi honor, tapi mengasah kemampuan dalam meresensi. Kalau website atau situs yang dibentuk bisa saja tutup, tapi kemampuan dalam meresensi tak akan pernah ada habisnya hingga nyawa dicabut oleh sang Maha Kuasa.
Karena itu, Anda tak perlu lagi untuk membuka komunitas online tentang resensi buku. Banyak penulis yang siap dikader untuk mahir dalam meresensi. Tinggal memberikan pembelajaran sedikit saja, maka Anda dan teman-teman Anda yang bergerak di dunia resensi melalui situs yang dibangun bakal meraih kesuksesan. Hanya tinggal buat website khusus resensi dan menemukan orang-orang yang siap bersama membangunnya keberhasilan akan hadir di depan mata. Masih bingung juga?
Tak ada salahnya Anda bergabung dengan www.asianbrain.com, di sini Anda akan mempelajari mulai dari membuat situs pribadi hingga trik internet marketing, yang pasti sangat bermanfaat untuk kemajuan bisnis Anda. Selamat mencoba!
Pedoman Meresensi Buku
Resensi berasal dari bahasa Latin, resensere, artinya melihat kembali. Dalam bahasa Inggris resensi dikenal dengan kata review. Secara garis besar, meresensi buku adalah memberikan penilaian, mengulas kembali, membahas isi buku dari berbagai sudut pandang, dan mengkritik buku.
Sesuatu yang dapat diresensi tidak melulu buku. Pementasan seni, film, drama, sinetron, puisi, pameran lukisan, kaset, konser musik, dan sebagainya dapat pula diresensi. Untuk hasil resensi buku yang sempurna, ikutilah pedoman-pedoman dalam meresensi buku.
Dasar-dasar dan Bahasa Resensi Buku
Sebelum meresensi buku, peresensi perlu memahami dasar-dasar meresensi buku. Apa saja dasar-dasar meresensi buku?
- Peresensi harus memahami tujuan penulis buku tersebut. Bacalah kata pengantar dan pendahuluan untuk menangkap tujuan penulis dalam menuliskan buku tersebut.
Dalam kata pengantar biasanya dicantumkan juga sasaran pembaca buku. Misalnya bukunya berjudul "Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi: Teori dan Praktik Menulis", pastinya penulis buku menjelaskan bahwa sasaran target pembaca adalah mahasiswa. Selain itu, konsentrasinya dalam tulisan karya tulis ilmiah.
- Pahami tujuan Anda dalam meresensi buku tersebut. Tujuan Anda meresensi mesti bergerak dalam penilaian terhadap buku yang dibaca. Apakah bukunya bermanfaat dibaca pembaca atau tidak. Peresensi harus benar-benar objektif. Artinya, tidak ada ‘pesanan’ atau promosi dari pihak manapun.
Langkah ini bertujuan, jika memang terdapat kesalahan pada buku yang diresensi maka hendaknya dijelaskan. Jangan gara-gara mendapat buku gratis dari penerbit, peresensi hanya mengulas sisi keunggulan buku. Ini jelas tindakan salah dalam meresensi.
- Pahami latar belakang pembaca yang akan membaca hasil resensi buku tersebut. Langkah ini juga penting Anda perhatikan. Jika pembaca media tempat meresensi buku orang-orang umum, maka ulaslah buku yang umum. Namun jika media yang dijadikan target untuk meresensi buku hanya memuat berita dan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi, maka pilihlah buku yang bertemakan ekonomi.
Pemilihan bahasa resensi harus disesuaikan dengan karakter calon pembaca dan media yang akan memuat hasil resensi tersebut. Tulisan resensi bersifat padat, singkat, tidak bertele-tele, mudah ditangkap, menarik, enak dibaca oleh editor dan calon pembaca resensi.
Langkah-langkah Resensi Buku
Langkah-langkah merensi buku adalah sebagai berikut.
- Tentukan tema buku dan deskripsi umum isi buku.
- Cantumkan penerbit buku, tanggal dan tahun terbit, jumlah halaman dan bab, serta harga buku
- Ketahui pula siapa penulis buku, latar belakang pendidikannya, buku apa saja yang pernah ia tulis, dan motivasi penulis menuliskan buni tersebut.
- Baca buku yang akan diresensi secara teliti, menyeluruh, dan tangkap pesan yang ingin disampaikan penulis kepada calon pembacanya.
- Tandai bagian-bagian yang Anda anggap menarik.
Unsur-unsur Resensi Buku
Inilah unsur-unsur yang membangun sebuah resensi buku. Unsur-unsur tersebut adalah:
- Buat judul resensi yang menarik.
- Menyusun data buku berupa: judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, cetakan ke berapa, tebal buku dan jumlah bab, serta harga buku.
- Membuat pembukaan. Perkenalkan nama penulisnya, apa saja karya-karya penulis buku ini sebelumnya, dan bandingkan dengan buku sejenis.
- Pernyataan isi buku berupa: keunggulan buku, kelemahan buku, kesalahan ejaan, dan kesalahan cetak.
- Paparkan kelemahan buku.
- Kesan Anda setelah membaca buku tersebut.
- Penutup, berisi sasaran pembaca yang akan diraih oleh buku tersebut secara tepat.
Pada akhirnya meresensi buku adalah menuliskan kembali pesan dan kesan yang Anda peroleh setelah membaca buku tersebut. Tergugah, bosan, menjemukan, terharu, atau terinspirasi. Dengan meresensi, Anda meminjamkan mata Anda sebelum calon pembaca buku tersebut membaca secara utuh buku yang telah Anda resensi.
Usai membaca dan menuliskan resensi, Anda dan calon pembaca akan memperoleh sudut pandang baru terhadap buku yang diresensi.
Tips Membuat Lead Resensi
Setelah mengupas secara sederhana mengenai resensi. Rasanya, penting juga penulis menguraikan tentang cara membuat lead yang umum dilakukan oleh para peresensi.
- Memperkenalkan Pengarang Buku
Untuk mengawali resensi buku, Anda bisa mengenalkan siapa pengarang buku. Pasalnya, terkadang ada pembaca yang tertarik membeli buku ketika telah mengetahui reputasi penulis bukunya. Apakah memang menguasai bidang garapan bukunya atau tidak? Apakah penulisnya memang ahli dibidang tersebut atau tidak?
Misalnya:
Untuk Sumatera Utara, Ali Murthado adalah salah satu wartawan yang rajin menerbitkan buku. Di tengah kesibukannya menjadi wartawan dan dosen di beberpa universitas, ia masih menyempatkan diri untuk menulis buku. Buku ajar Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi: Teori dan Praktik Menulis.
- Tema Buku
Tema buku juga bisa dijadikan cara untuk mengawali tulisan resensi. Prolog resensi seperti ini dimaksudkan agar pembaca tertarik dengan ide utama apa yang ditulis oleh penulis buku.
Misalnya:
Istilah paragraf memang sudah biasa terdengar. Tapi bagaimana syarat dan cara mengembangkannya tak banyak yang mengetahuinya. Buku "Bahasa Indoensia untuk Perguruan Tinggi: Teori dan Praktik Menulis Karya Ilmiah" ini menjalaskan bahwa untuk syarat paragraf yang baik harus bisa menempatkan kata ganti dan kata kunci yang tepat. Sedangkan untuk mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan memberikan contoh, alasan-alasan dan bercerita.
Sejatinya masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk mengawali tulisan resensi. Semuanya bisa Anda baca di buku-buku panduan penulisan resensi.
Tips Menulis Body Resensi Buku
Setelah mempelajari tentang penulisan lead resensi, penulis ingin mengupas tentang penulisan Bodynya. Tips ini penting agar tulisan yang dibuat benar-benar minat pembaca untuk membeli buku.
- Memaparkan Isi buku
Untuk membuat tubuh resensi, Anda bisa melakukan dengan menjelaskan secara ringkas tentang pokok utama yang dikupas di dalam buku. Intinya, Anda memaparkan gambaran secara umum ihwal apa yang dikupas di dalam tubuh resensi.
- Menceritakan keunggulan buku
Anda juga bisa mengembangkan tubuh resensi dengan menceritakan keunggulan buku. Di sinilah nantinya pembaca melihat titik penting kenapa harus ikut membaca buku yang dikupas oleh peresensi. Sehingga, jika mereka tak memiliki waktu yang panjang untuk membaca, mereka bisa membaca khusus yang peresensi jelaskan.
- Kelemahan Buku
Anda juga bisa mengembangkan tubuh resensi dengan menjelaskan kelemahan. Kelemahan di sini bukan untuk menjelek-jelekkan isi buku, tapi memberikan gambaran bahwa buku tersebut akan lebih bila ditambahkan berdasarkan pengamatan Anda.
Tentu saja, ini tidak boleh dilakukan hanya sekedar menghakimi buku tersebut, tapi mesti dilakukan dengan saran-saran untuk perbaikannya. Sekiranya buku tersebut diterbitkan di edisi selanjutnya, kekurangan isi buku bisa disempurnakan.
Tips Menulis Penutup Resensi Buku
Ibarat orang berpidato, terkadang bingung bagaimana mengakhiri pidato yang baik dan tetap disukai pendengar. Terkadang, ketika menulis resensi juga timbul kebingungan bagaimana mengakhiri resensi yang dapat tetap membuat pembaca senang membacanya.
- Ajakan Untuk Memiliki Buku
Ini adalah cara umum. Biasanya, para peresensi mengajak para pembacanya untuk membeli buku tersebut dengan alasan-alasan yang logis. Tentu saja, alasan-alasan tersebut memang mengena dengan isi buku.
Umumnya, para perensi akan mengggunakan kata, "saya merekomendasikan", "saya menganjurkan", "saya mengajak ", dan sebagainya.
- Menyempurnakan dengan buku yang lain
Sebagai peresensi, barangkali kita menilai ada buku yang cocok disandingkan dengan buku yang diresensi, karena memiliki ketertaitan atau memang bisa menjadi pengembang bahasan yang ada di dalam buku tersebut.
Cara ini, secara tidak langsung bisa membantu pembaca untuk mendapatkan informasi dalam satu resensi. Pembaca yang memang hobi membaca atau tengah membahas materi yang ditulis peresensi akan mencari kedua buku tersebut.
- Sasaran Pembaca
Anda juga bisa mengakhiri resensi dengan memfokuskan pada sasaran pembaca. Ini semakin khusus kelihatannya. Anda tak hanya mengajak, tapi menjelaskan siapa semestinya yang layak membaca buku ini.
Keuntungan Menjadi Peresensi Buku
Dari cara membuat lead, body dan ending resensi, sudah tentu Anda menjadi tahu apa keuntungan atau kenikmatan menjadi peresensi. Anda menjadi orang yang memiliki wawasan yang kaya dan Anda pun menjadi orang yang senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Selain mengajak pembaca membaca buku, Anda juga memberikan masukan kepada penulis, bila ada yang kurang dari sisi bukunya.
Namun tahukah Anda masih ada kenikmatan yang lain? Dengan Anda meresensi buku lalu dimuat di surat kabar atau majalah, maka Anda kirimkan copy-an dari artikel resensi Anda, maka penerbit biasanya akan mengirimkan buku terbaru.
Penerbit berharap Anda meresensinya, namun bukan untuk mempromosikannya.Anda diminta penerbit untuk menilai hasil karya yang ditulis oleh penulis buku atau hasil dari cetakan bukunya. Anda dianggap pakar oleh penerbit, dalam hal menilai buku dan memberikan solusi.
Nah, begitu nikmat sekali menjadi penulis resensi buku. Anda menulis dan dikirim ke media, bukan hanya uang yang dapat tapi buku baru juga dapat.

