Resensi Film Catatan Akhir Sekolah, Berpeluang Membuat Tren!
Sudah membaca resensi film Catatan Akhir Sekolah (CAS)? Atau Anda juga sudah pernah menontonnya? Menonton film ini bisa dibilang ringan dan sangat remaja. Tentu definisi “sangat remaja” ini bisa mengingatkan kita pada warna yang diusung film Cintapuccino (Rudi Soedjarwo, 2007), Me vs High Heels (Pingkan Utari, 2005) atau Eiffel I’m in Love (Rocky Soraya, 2003).
Namun, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini memilik warna yang berbeda dengan film remaja kebanyakan. Bahkan tidak berlebihan bila ada sedikit harapan kalau film ini bisa memunculkan suatu trendsetter bagi remaja, seperti film Ada Apa Dengan Cinta (Rudi Soedjarwo, 2002) yang mendadak memunculkan tren membaca buku AKU dan menaikkan pamor ekskul mading di beberapa SMA.
CAS memiliki peluang untuk memunculkan tren membuat film sekolah sebagai salah satu menu acara perpisahan, dan ini bukan sesuatu yang biasa ada di Indonesia. Dengan lihai, Hanung menggiring penonton mengikuti perilaku Agni (Ramon Y. Tungka), Alde (Marcel Chandrawinata), dan Arian (Vino Bastian) dalam menyiapkan sebuah film tentang sekolah mereka secara sembunyi-sembunyi.
Berbagai unsur komedi, ketegangan, dan cinta hadir dengan tambahan beberapa tokoh. Tapi tetap saja unsur cerita utama, yaitu pembuatan film dokumenter tidak dihilangkan. Malah rasanya berbagai perjuangan mereka makin diperkuat lagi dengan film dokumenter tersebut, yang pada ending diputar di acara perpisahan.
Pada adegan pemutaran film tersebut, tanpa sadar penonton diberi semacam repetisi (pengulangan materi), sehingga apa-apa yang mereka lihat seolah disajikan dua kali dan itu membuatnya makin dalam tertanam di memori.
Film, Ikut Mengubah Remaja
Dalam hal ini, CAS sebenarnya juga menanamkan semacam acuan khusus bagi para pembuat film remaja berikutnya. Lewat film-film ringan seperti ini, sebenarnya seorang pembuat film bisa membuat andil terciptanya perubahan gaya hidup remaja ke arah yang positif—bahkan negatif, tapi mari bicara ke arah yang positif saja—dari waktu ke waktu.
Misalnya, mungkin setelah menonton film CAS, seorang remaja SMA merasa perlu ikut ekskul film di sekolah, atau mendirikan ekskul film, atau ikut-ikutan membuat film dokumenter sekolah. Akhirnya, tanpa sadar remaja itu sudah membangun semacam “kesukaan” pada dirinya, yaitu suka terlibat di dunia film.
Tidak tertutup kemungkinan dari sebuah kesukaan ini bisa menjadi awal karir dia kedepannya.Maksudnya, jangan sampai sebuah film remaja hanya menonjolkan trend hura-hura, clubbing, anak band main skateboard, atau bahkan pacaran dengan seks bebas.
Kenapa tidak dicoba menonjolkan sesuatu yang beda, seperti ekskul mading (AADC) atau ekskul film seperti ada dalam film Catatan Akhir Sekolah ini. Pasti film itu akan lebih mengena, dan lebih berguna bagi generasi muda.






