Resensi Film Laskar Pelangi dan Pendidikan

Sekilas Wajah Pendidikan Tanah Air
Jika Anda seorang pendidik, tentunya cukup mengerti dan memahami bagaimana kondisi real kualitas pendidikan tanah air saat ini. Dengan standar kelulusan siswa yang masih menyisakan pekerjaan rumah panjang untuk pemerintah, rasanya para elit bangsa ini perlu sedikit mempertebal kaca mata mereka untuk menyorot sistem dan kualitas pendidikan.
Sebab bagaimana pun, hendaknya pantas berkaca pada kebangkitan negara Jepang usai tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Jepang mengambil strategi cerdas, bahwa kebangkitan sebuah negara ternyata asal muasal yang menjadi dasarnya ialah soal kualitas pendidikan. Dan saat ini dapat disaksikan, langkah tepat yang dilakukan Jepang telah mengantarkan negara yang juga pernah dilanda penyakit minamata ini pada sebuah kebangkitan besar.
Di Indonesia para remaja begitu bangga bergonta ganti handphone baru, sementara di Jepang, para remajanya telah mampu menciptakan teknologi ini. Ada banyak hal yang tentunya harus dibenahi oleh bangsa ini, mulai dari anggaran pendidikan sampai pada sistem pendidikan itu sendiri. Jangan sampai para peneliti negeri lebih memilih hijrah ke Malaysia, hanya karena alasan anggaran penelitian dalam negeri sangat kecil dibandingkan anggaran yang diberikan Malaysia.
Nah, kalau sudah begini persoalannya akan semakin runyam, belum selesai persoalan maritim dan kebudayaan dengan Malaysia, sains pun terancam kecolongan.
Laskar Pelangi dan Kualitas Pendidikan
Inilah sebuah resensi film Laskar Pelangi. Anda tentu sudah tak asing lagi dengan sebuah film yang menceritakan profil pendidikan daerah di tanah air yang masih cukup memprihatinkan. Laskar Pelangi, sebuah film pendidikan yang diangkat dari buah pena seorang Andrea Hirata. Andrea sukses dengan genre sastra edukasi yang menginspirasi banyak kalangan pendidik untuk terus berjuang memajukan mutu pendidikan di tanah air.
Film ini secara detail mengisahkan perjalanan seorang Ikal dan teman-temannya dalam mengarungi kerasnya alur kehidupan, terutama tantangan untuk mendapatkan hak pendidikan yang layak bagi setiap warga negara.
Ikal cilik yang dibintangi oleh aktor baru Zulfanny melalui film Laskar Pelangi sukses meraih IMA 2009 (Indonesian Movie Awards) untuk kategori pendatang baru pria terfavorit. Akting polos yang dimilikinya telah berhasil menggaet hati para peminat film layar lebar.
Apa sebenarnya yang menarik dari sebuah film Laskar Pelangi? Paling tidak, Laskar Pelangi memberi spirit baru pada industri perfilman tanah air untuk melahirkan film-film pencerahan yang dapat memberikan nilai pendidikan non formal bagi masyarakat. Laskar Pelangi juga sekaligus memberi celah kepada para penulis novel-novel bestseller untuk dapat memvisualisasikan karya-karya terbaik mereka ke layar lebar.
Sebab pada saat hanya berbentuk teks di sebuah buku, masyarakat kecil yang kurang mampu akan kurang merasakan sentuhan pesan yang dituliskan seorang Andrea. Ekonomi masyarakat masih terbilang sulit. Jangankan untuk membeli buku dengan harga puluhan ribu, pendapatan sehari-hari mereka terkadang juga tidak mencukupi untuk biaya hidup.
Kehadiran sebuah film tentu akan memberi solusi permasalahan ini. Orang dapat secara gratis menikmati film ini, hingga pesan pendidikan yang ada di dalamnya dapat lebih dinikmati masyarakat luas.
Dari sebuah film Laskar Pelangi dapat disimpulkan, film ini sangat layak menjadi tontonan para elit kebijakan pendidikan tanah air, para aktivis pendidik, orang tua, juga kepada anak-anak. Film ini secara transparan memberikan pesan tentang kegigihan seorang untuk bisa memperoleh pendidikan.
Fasilitas dan sarana bukanlah jaminan bagi seseorang untuk menjadi sukses, tapi modal yang jauh lebih besar adalah tekad dan keinginan. Melalui kisah nyata yang dialaminya, Andrea Hirata memesankan hal ini kepada penonton semua.






