logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hobi    Menulis    Fiksi

Resensi Perempuan Berkalung Sorban


Ilustrasi resensi perempuan berkalung sorban
Novel yang cukup sarat dengan kritik terhadap sesuatu yang sangat sensitif di tengah masyarakat. Novel ini sebenarnya tidak terlalu terkenal sebelum ada filmnya yang menuai begitu banyak pro dan kontra. Walaupun akhirnya film ini membuat banyak sekali kritikan, keberhasilan para pemain memerankan karakternya masing-masing harus diacungi jempol. Ada beberapa nominasi penghargaan yang diraihnya. Meskipun novel (2001) dan filmnya (2009) sudah cukup lama, resensi Perempuan Berkalung Sorban masih bisa menjadi satu telaah yang cukup mendalam tentang kisah yang cukup menarik tersebut.

Bidikan yang Tepat

Resensi Perempuan Berkalung Sorban (PBS) tidak hanya bertutur tentang sinopsis novel atau film yang berkisah tentang kedudukan wanita di dalam Islam, resensi ini juga mengupas kritikan yang ditujukan kepada novel dan filmnya. Kritikan yang tajam itu bahkan hampir saja membuat filmnya ditarik dari peredaran. Bagi orang-orang yang sangat konservatif, film ini tentu saja cukup keras dalam menyoroti kehidupan pesantren yang dipandang cukup sakral.

Namun, bagi yang berpandangan sedikit lebih netral, mereka bisa memahami kegelisahan yang dialami oleh Annisa, karakter wanita dalam cerita tersebut. Bisa dipahami dalam artian adalah bahwa begitu kebanyakan cara orang Indonesia memahami wanita. Wanita diharapkan menjadi sosok yang sangat baik. Sedangkan laki-laki terserah mau jadi apa dan mereka mempunyai kebebasan yang lebih termasuk dalam melakukan hal-hal yang melanggar etika walau tidak melanggar hukum agama.

Misalnya, tentang kehidupan poligami. Laki-laki yang mendapatkan hak mempunyai istri lebih sari satu, terkadang memanfaatkan hukum ini untuk menikahi banyak wanita tanpa memberinya nafkah lahir. Bahkan ketika sang wanita hamil, ia akan meninggalkan wanita itu. Yang lebih menyedihkan adalah ia meninggalkan wanita itu untuk menikah dengan wanita lainnya. Ibaratnya ia memetik keperawanan wanita secara halus lewat jalur agama. Namun apa yang dilakukannya selanjutnya sangat menyakitkan.

Kejadian ini tidak sedikit di dunia nyata. Kejadian yang menimpah Fany, seorang gadis yang dinikahi oleh seorang bupati, adalah salah satu contoh nyata. Disinyalir bahwa Fany bukan satu-satunya wanita yang diperlakukan seperti itu oleh seorang oknum bupati tersebut. Mungkin ada 7 orang wanita lagi yang dengan mudahnya diceraikan oleh sang oknum bupati. Selanjutnya ia menikah lagi dan lagi. Ia seolah ingin mencicipi semua wanita. Pernikahan yang sakral dilindas oleh hawa nafsu.

Sang bupati dengan seenaknya mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menikahi wanita-wanita itu tidak murah. Kalau sudah begini, benarnya bahwa pemerintah membuat peraturan untuk melindungi para wanita. Namun, ada kelemahannya juga. Pernikahan yang resmi kadang malah membuat wanita semakin menderita kalau pernikahannya tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya. Ketika ia menikah dengan seorang laki-laki yang memanfaatkan kekayaannya, maka ketika bercerai, sang mantan suami mengambil semua hartanya.

Laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan hanya ingin hidup enak, sangat senang menangguhkan perceraiannya. Setelah sang istri mengurusi semua hal yang berhubungan dengan perceraian yang artinya sang suami tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk perceraiannya, barulah sang suami muncul mengambil surat cerai. Tidak lama setelah bercerai, sang mantan suami menikah lagi. Inilah sosok laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan hanya menfaatkan haukum yang sekiranya cocok dengan keadaannya.

Kalau ia memang jantan, ia akan menceraikan istrinya dengan baik-baik dan akan mengembalikan semua harta sang istri tanpa tersisa. Ia tahu hukum bahwa suami tidak boelh makan harta istri dan bahwa harta istrinya adalah hak istrinya. Sayangnya, kedudukan laki-laki yang mulia itu dikotori oleh para laki-laki yang katanya tahu dengan hukum. Inilah yang menjadi salah satu hal yang mengusik batin sang penulis novel Perempuan Berkalung Sorban.

Wanita banyak sekali dituntut agar bisa ini dan itu. Sedangkan laki-laki banyak yang tidak bertanggungjawab karena memang mereka dididik dengan peraturan yang lebih longgar. Ketika ada perzinaan, yang disalahkan wanita. Padahal, hukumannya di hadapan Tuhan sama saja. Laki-laki yang jahat dan tidak bertanggungjawab itu tidak perlu ada sebenarnya aklau mereka dididik dengan baik sebaik didikan kepada wanita. Tidak adil ketika wanita harus baik, tetapi laki-laki tidak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.

Ajaran islam itu pasti adil. Ketika seorang wanita yang tahu hukum sampai ingin diceraikan oleh suaminya, pasti ada sesuatu yang membuatnya melakukan hal itu. Bagaimanapun, lebih baik mempunyai suami daripada tidak bersuami. Wanita bisa saja bertahan dengan suaminya yang sangat pelit dan tidak baik dalam kurun waktu yang lama. Namun, ketika ia sudah tidak tahan lagi, depresi dan frustasi telah menghinggapinya, terutama ketika nafakah batin pun tidak memuaskannya, maka wanita ini bisa berbuat nekad.

Ia akan mencari keadilan yang telah dijanjikan oleh Islam. Ia tahu bahwa Islam tidak menempatkan wanita pada kelas dua di manapun, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itulah, kini banyak sekali terjadi perceraian. Wanita tidak mau lagi dijajah oelh kaum laki-laki. Sesungguhnya, wanita tidak keberatan tidak mendapatkan nafkah lahir secara penuh asalkan sang suami memang laki-laki yang pantas mendapatkan kesetiaan tanpa batas.

Laki-laki ini adalah laki-laki yang giat bekerja dan tidak akan menyembunyikan uangnya walaupun sedikit. Ia akan memberikan apa yang dibutuhkan oleh istrinya walaupun tidak memenuhi apa yang diharapkan sang istri. Wanita akan melihat kegigihan ini sebagai bentuk cinta yang dalam dari sang suami dan sang wanita rela memberikan hartanya kepada sang suami yang taat dan beretika seperti itu.

Emansipasi Wanita

Kisah Perempuan Berkalung Sorban ini menawarkan dinamika perjuangan seorang wanita di tengah lingkungannya yang kental dan kuat akan ajaran agama Islam.  Novel ini menuai banyak kontroversi dan ada pula yang mengecam karena dianggap sebagai kritik keras terhadap ajaran agama, tapi tidak sedikit juga yang memuji novel ini karena keberanian penulisnya dalam mengusung keinginan dari wanita muslimah.

Novel Perempuan Berkalung Sorban ini lebih dikenal sejak dibuat versi layar lebar.  Melalui sutradara Hanung Bramantyo, kisah dalam novel ini dibuat menarik dan mengundang banyak perbincangan.  Kisah yang diceritakan dalam film layar lebar ini oleh sebagian orang dianggap melenceng dari ajaran agama Islam dan juga dari isi novelnya.

Terlepas dari pro dan kontra, dari resensi Perempuan Berkalung Sorban ini tetap banyak yang ingin membacanya.  Penulis novel ini adalah Abidah El Khalieqy yang lahir di Jombang, Jawa Timur.  Beliau adalah seorang penulis novel dan pernah meraih penghargaan dari pemerintah daerah Yogyakarta juga penghargaan dari IKAPI dan Balai Bahasa.

Tidak hanya novel Perempuan Berkalung Sorban yang dibuatnya dengan kisah tentang kedudukan wanita dalam ajaran Islam, Ia juga menulis novel lainnya yang juga menceritakan tentang perjuangan wanita dalam mengangkat kedudukannya seperti Geni Jora terbitan Mizan Grup.

Dari resensi novel Perempuan Berkalung Sorban ini, Abidah mencurahkan perasaan dan kritikannya terhadap keberadaan wanita di dalam masyarakat khusunya di dalam lingkungan pesantren yang kental dengan ajaran Islam.  Lewat novelnya, Abidah ingin menyampaikan pesan moral bahwa wanita juga ingin mendapatkan kedudukan yang sama, kemandirian dan menuntut ilmu.

Isi Resensi Perempuan Berkalung Sorban

Menyimak dari resensi novel Perempuan Berkalung Sorban ini, dikisahkan seorang wanita muslimah anak seorang Kyai yang memiliki pesantren di tanah Jawa.  Annisa, sang tokoh utama, adalah seorang wanita yang berpendirian teguh, cerdas dan juga cantik.

Annisa yang merasa apa yang telah diajarkan pada dirinya tentang kehidupan seorang wanita dalam ajaran agama Islam jauh dari apa yang diinginkannya.  Menurut Annisa, kedudukan yang diterimanya sebagai seorang wanita lebih rendah dibandingkan dengan kaum laki-laki.  Annisa kecil sudah sering berontak kepada Ibunya.  Namun, ia tak kunjung mendapatkannya.

Konflik demi konflik yang dirasakan Annisa membuatnya berontak.  Keinginannya untuk kuliah lagi ditolak oleh ayahnya.  Annisa dinikahkan dengan seorang pemuda yang juga anak seorang kyai besar.  Pernikahan ini tidak berjalan mulus karena sifat dan perlakuan Samsudin, suami Annisa yang sering memperlakukannya dengan tidak baik.

Dari isi resensi Perempuan Berkalung Sorban ini, juga mengisahkan perjuangan Annisa dalam menemukan cintanya pada Khudori, laki-laki yang dicintainya.  Hanya saja, banyak pembaca dan penonton film yang menyayangkan sikap Annisa yang meminta Khudori untuk menzinahinya agar ia dapat bercerai dengan Samsudin suaminya.  Seharusnya, jika Annisa wanita muslimah yang mengerti akan ajaran agama, tidak akan melakukan hal seperti ini.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Contoh Resensi Novel Fiksi
  • Pelajaran Dari Lomba Menulis Puisi 2009
  • Membuat Resensi Karya Sastra
  • Menjadi Penulis Novel
  • Resensi Buku : The Lost Arabian Women
  • Belajar Menulis dari Sekolah Menulis Online
  • Beberapa Nama Penulis Terkenal di Dunia
  • Resensi Buku Dealova
  • Nama-nama Penulis Terkenal dan Karyanya
  • Produktif Menulis dengan Komunitas Penulis
  • Menjadi Pemenang Lomba Menulis Cerpen
  • Kiat Sukses Menjadi Penulis Buku Anak
  • Sebuah Contoh Resensi Cerpen
  • Beberapa Penulis Novel Indonesia
  • Hakikat Menulis: Mengapa Anda Menulis?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA