Riwayat Hidup Gus Dur

Riwayat hidup Gusdur mungkin tidak akan pernah selesai diurai. Akan tetapi, dapatlah kita membacanya secara ringkas sebagai berikut.
Cicit Pendiri NU
Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940 dengan nama asli Abdurrahman Addakhil. Akan tetapi, karena nama Addhakhil kurang familiar, namanya diubah menjadi Abdurrahman Wahid. Sejak awal, karena Gus Dur adalah cicit pendiri Nahdhatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asyari, ia sangat dipandang oleh orang-orang pesantren yang kebanyakan warga NU. Kelak, Gus Dur adalah salah satu masinis terbaik NU yang mengubah paradigma kelompok muslim terbesar di dunia itu menjadi lebih progresif tanpa perlu meninggalkan identitas tradisional NU.
Ideologi Pancasila dan NU
Pada 1983, Presiden Soeharto menjadikan Pancasila sebagai ideologi (tunggal) negara. Semua elemen bangsa wajib mematuhi gagasan Soeharto ini, jika tidak ingin ditekan. Oleh karena itu, NU berada dalam keadaan sulit.
Bagaimana pun, basis agama mereka akan dipertanyakan jika mau melebur ke dalam gagasan Soeharto. Akan tetapi, ada pula kekhawatiran jika tidak patuh, nasib mereka akan sama seperti Masyumi, yang tidak pernah diizinkan Soeharto untuk berdiri sebagai organisasi sosial (apalagi politik). Soeharto juga pernah berkata bahwa musuh keduanya setelah komunisme adalah Islam. Gus Dur yang lebih berpikir ke depan, melihat otoritas berlebih Soeharto saat itu, menyatakan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai ideologi negara.
Memberontak Penguasa
Gus Dur terpilih sebagai ketua NU selama tiga periode, yaitu 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999. Selama masa tersebut, Gus Dur cukup dekat dengan penguasa sekaligus mengambil jarak yang cukup signifikan terhadap kebijakan-kebijakan Soeharto yang berat sebelah. Misalnya, ketika Soeharto mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang sebenarnya secara politis ingin merebut simpati para modernis Islam maupun tradisionalis Islam, Gus Dur membuat forum tandingan yang terdiri dari berbagai agama yang disebutnya Fordem (Forum Demokrasi).
Presiden Dua Tahun
Selepas Soeharto lengser, Gus Dur mendapatkan momentum untuk bergerak. Ia mendirikan PKB dan ikut Pemilu 1999 yang secara mengejutkan berhasil menjadi Presiden RI dalam pemilihan oleh MPR. Akan tetapi, karena tersandung oleh Buloggate dan Bruneigate, Gus Dur akhirnya dimakzulkan pada 23 Juli 2001.
Sebelumnya, Gus Dur sempat membuat dekrit presiden (dekrit kedua dalam sejarah Indonesia) yang isinya:
- membubarkan MPR/DPR,
- mengembalikan kedaulatan pada rakyat dengan mempercepat Pemilu dalam setahun, dan
- membekukan Golkar.
Akan tetapi, dekrit tersebut tidak diakui siapa pun.
Akhir Hidup
Setelah tidak menjadi presiden, Gus Dur sempat hendak mengikuti Pemilu 2009. Akan tetapi, kemungkinan saat itu ia digembosi oleh pihak-pihak tertentu yang khawatir Gus Dur akan berhasil meraup dukungan warga NU. Gus Dur meninggal pada Rabu, 30 Desember 2009, setelah beberapa hari menginap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Negara mengumumkan keadaan berkabung selama 7 hari untuk menghormati beliau.






