logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Kesehatan    Macam-Macam Penyakit    Artikel Umum Macam-Macam Penyakit    Rumah Autis

Rumah Autis, Secercah Cahaya di Tengah Derita

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Kepedulian mereka terhadap penderita autis, memunculkan ide dari sepasang suami istri terapis autis, Deka dan Ulfi, untuk membuat Rumah Autis. Idenya, Rumah Autis adalah tempat terapi yang memberikan subsidi silang dari anggotanya. Untuk setiap anak dari keluarga mampu dikenakan biaya, tetapi untuk anak yang tidak mampu menerima pembebasan biaya.

Rumah Autis berdiri di bawah yayasan atau LSM nirlaba YCKK (sekarang yayasan CAGAR) pada 2004, di Bekasi. Hingga 2010, Rumah Autis telah memiliki 7 cabang di Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, dan Karawang. Jumlah anak yang ditangani berkembang pesat, dari semula hanya 8 orang menjadi ratusan orang.

Fasilitas di Rumah Autis

Rumah autis memberikan penanganan multiterapi. Selain memberikan terapi di tempat, diajarkan juga tentang diet yang harus diberikan pada penderita autis. Hal ini karena autis disebabkan oleh keracunan sel dan mutasi gen yang diakibatkan oleh paparan logam berat ke dalam tubuh, karena makanan, minuman, polusi, atau zat kimia. Ketidaknormalan sistem saraf dan otak inilah yang menyebabkan penderita autis intoleran terhadap sejumlah zat makanan seperti gluten (ada pada tepung) dan susu atau kacang.

Para penderita autis harus tidak mengkonsumsi makanan-makanan atau minuman yang mengandung tepung, susu, atau kacang, bergantung pada tingkat intolerannya. Untuk mengetahui tingkatan intoleran anak autis terhadap makanan ini, diperlukan tes darah yang tidak murah. Namun, bisa diketahui dari hasilnya. Bila anak autis memakan roti, biskuit atau sereal yang tidak bebas gluten, biasanya ia akan lebih sering mengamuk bila dibandingkan dengan diberikan makanan yang tidak mengandung gluten.

Terapi yang diberikan di rumah autis menggunakan teori ABA (applied behavioral analysis) dengan metode IEP (individual education program). Di rumah autis, pembelajaran berlangsung dengan metode sekolah. Ada anak yang menerima terapi wicara, terapi sensori integrasi seperti bermain bola, atau terapi perilaku. Ada juga yang diberi remedial pelajaran sekolah, untuk anak yang autisnya tidak berat dan bersekolah di sekolah biasa.

Terapi berlangsung selama satu jam untuk tiap anak. Setelah selesai satu sesi terapi, orangtua bisa mendapatkan laporan terapi untuk hari itu, yang dibuat sendiri oleh sang terapis. Biasanya dalam bentuk buku catatan. Dalam seminggu, ada 3 kali terapi yang diberikan berkelanjutan. Terapis untuk anak autis sebaiknya tetap, tidak berganti-ganti. Hal ini karena anak autis sulit menyesuaikan diri dan sulit menerima perubahan sekecil apa pun. Biasanya anak akan mengamuk atau mogok bila berganti terapis.

Terapi untuk autis, walaupun terlihat mudah, membutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang mendalam, serta pelatihan khusus. Akan sangat baik apabila orangtua bisa menerapkan metode yang diajarkan dalam terapi dalam keseharian anak di rumah. Dengan kesabaran dari orangtua, anak bisa mengalami perbaikan yang pesat.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Waspadai Sakit Perut Bagian Bawah
  • Penyakit Amandel pada Anak
  • Hati-Hati Jika Sering Sakit Perut Kanan Bawah
  • Sakit Amandel, Sakit yang Harus Diwaspadai
  • Kanker Tulang, Salah Satu Penyakit Tulang Berbahaya
  • Berbagai Jenis Penyakit Sendi
  • Penyakit Kepala: Tips Mengatasi Sakit Kepala
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA