Ini Bukan Sajak Cinta Romantis
Ada sedikit kata yang ingin kutuang. Ini adalah tentang hidup dan yang mengitari kehidupanku.
Ini bukan sajak cinta romantis ala Gibran. Ini adalah bagian scene skenario hidupku. Medan yang cukup sulit, agak kepayahan menopang tubuh agar tak oleng.
Sebelum aku benar-benar pergi, satu tanyaku hingga kini:
“Mengapa tak kau tawan?”
Bila hanya boleh aku mengenang formulasi emosi, satu ketika punggungku menjauh, dan kau, tetap stagnan. Diam.
Bila hanya jujur kala itu, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkan kalau ini memang sudah usai. Sorot matamu bicara, aku rindu tapi tak kumiliki ketika itu. (Dee: Filosofi Kopi)
Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatku berubah pikiran?
Tidak ada kata ‘jangan’ yang mungkin, bila hanya diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, lalu membuatku menghambur kembali dan batal pergi.
Bila hanya aku jadi tawananmu kala itu, tak banyak ku pikir panjang.
Katakan ‘jangan’. Aku ingin dengar. Aku juga ingin kau kejar.
Bila hanya aku seorang biasa, aku mungkin bukan apa-apa dan siapa-siapa di pola logikamu. Kekurangan, itulah yang masih menjadikanku tetap manusia.
Bila hanya diriku ini seorang manusia biasa dalam ciptaan-Nya yang Mahadaya. Dan bila hanya (aku) seorang manusia.
Egomu. Tidak ada yang salah bila terdapat suatu keinginan dan perasaan bangga terhadap apa yang kau punya. Kemudian kau tunjukkan ia padaku, tentunya lewat caramu yang tak biasa.
Egomu. Itulah keinginan keras membawa aku atau segala hal yang kau temui dalam rangkaian tirani keakuanmu sejati.
Egomu. Terpatri sejatinya dalam alkisah itu tersadur serta tertuturkan kepada setiap mereka yang kau anggap lemah.
Egomu. Hanya milikmu abadi, ia tak mampu terpahami oleh Yang Lain.
Superego tak kuasa kunego. Egomu. Jangan salahpahami ia jika kepadanya kau hakimi kerumitan logika, dan segala kekompleksitasmu.
Sehingga membuatmu urung dan bingung.
Egomu. Tak izinkan mengutip kosakata bersinonim kita. Maka kepadanyalah saja jiwaku patuh kupersembahkan itu.
Egomu. Ya itulah hanya, senantiasa kupahami dan maknai ia sebagai dirimu saja. Meski tak jarang membikin pemberontakan dan serangan Yang Lain.
Egomu. Membuat keliru aorta batin meski tak ingin. Sebab, tatkala hati berpikir dengan logikanya sendiri, maka ia ada, bukan aku Yang Lain.
Mengikat tapi malah penyesat. Kesepian (mungkin) telah banyak mengajari kita tentang kehidupan dan kematian. Dan ketika kehilangan itu datang, kita tahu makna terbesar di baliknya. Ini bukan sajak cinta romantis.






