Mengenal Lebih Jauh Sajak Pagi
Puisi adalah karangan yang berbentuk khas, berbait-bait, berirama (yang ditentukan oleh jumlah suku kata), dan bersajak. Puisi yang baik adalah puisi yang padat namun kaya makna, tanpa menghambur-hamburkan kata yang percuma.
Puisi atau sajak pagi adalah sajak yang berisi tantang metafor atau diksi-diksi yang berhubungan dengan pagi. Seperti misalnya matahari, embun, daun-daun, kokok ayam, awan putih, dan subuh adalah beberapa contoh kata yang berhubungan dengan pagi.
Puisi pagi biasanya berisi tentang keceriaan, rasa bahagia menyambut matahari, optimisme dalam menjalani kehidupan. Tak jarang juga puisi pagi seringkali melambangkan masa kecil atau masa remaja.
Perhatikan puisi pagi di bawah ini:
Rubaiyat Matahari
1
dengan bismilah berdarah di rahim sunyi
kueja namamu di rubaiyat matahari
kau dengar aku menangis sepanjang hari
karena dari november-desember selalu lahir januari
2
engkaulah sepi di jemari hujan
kabar semilir dari degup gelombang
engkaulah api di jemari awan
membakar cintaku hingga degup bintang-gemintang
3
atas sepi perahuku bercahaya
membawa matahari ke jantung madura
atas bara api cintaku menyala
menantang matahari di lubuk semesta
…
(Puisi Jamal D. Rahman, 2002-2003)
Dalam puisi di atas, banyak sekali metafora pagi yang dipakai, dan tampak sekali muatan optimisme dalam puisi tersebut.
Komposisi dalam puisi pagi biasanya menampilkan tentang lanskap yang ramai, suasana yang sejuk, harapan ataupun secercah asa tentang masa depan. Beberapa sajak pagi seringkali memunculkan ketenangan dan kelembutan yang impresif, bagaikan pantulan manik-manik air pada sehelai daun.
Atau dalam puisi yang lain:
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
(Puisi Sapardi Djoko Damono)
Jika hidup ini dipenuhi oleh impian dan kesenangn hidup, maka puisi pagi pun demikian. Puisi pagi menyuguhkan kejutan dan menyihir pembacanya dengan keindahan-keindahan. Sementara itu, undertone puisi pagi adalah keriuhan, yang senantiasa merupakan perbauran dan persahutan antara interior pagi dengan gerak alam: matahari terbit, embun yang menetes dari daun, kokok ayam, dan lain sebagainya.
Setiap penyair ataupun penulis puisi bebas mencari matafor untuk puisinya. Puisi pagi tak harus selamanya menggunakan metafora dan diksi tentang matahari, embun, daun-daun, kokok ayam, awan putih, subuh dan lain sebagainya. Akan tetapi banyak kata-kata lain yang berhubungan dengan pagi atau melambangkan pagi.






