logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Chairil Anwar

Sajak Putih Chairil Anwar, Romantika


Ilustrasi sajak putih chairil anwar

Coba perhatikan salah satu karya puisi terbaik dari penyair terbaik dan fenomenal, Chairil Anwar. Judul saja di bawah ini adalah Sajak Putih. Romantis sekali kedengarannya, berbeda dengan saja “Aku” yang garang atau sajak lainnya dari Chairil Anwar yang memotret kehidupan, terasa gelap dan kelam, sekalipun selalu menyisakan setitik cahaya.

buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

Siapa yang tidak kenal dengan Chairil Anwar? Namanya sudah demikian lekat dengan dunia sastra Indonesia terutama sastra puisi. Karya-karyanya yang sarat dengan kiasan, telah mencuri hati para penikmat sastra. Sajak putih Chairil Anwar adalah salah satu puisi romantis yang mencuri perhatian banyak kalangan.

Pada sajak Putih tersebut di atas kita bisa merasakan gelora cinta yang membahana di dada namun juga penuh dengan kekhawatiran. Masih seperti dalam sajaknya yang lainm dalam sajak Putih ini Chairil Anwar masih senang menggunakan kiasan dan metafora seperti larik “bersandar pada tali pelangi”, “bertudung sutra senja” dan sebagainya. Metafora tentang pelangi dan senja, tidak saja menguatkan romantisme dirinya sendiri yang sedang dimabuk cinta pada Mirat, melainkan merupakan kiasan bahwa cintanya itu penuh kekhawatiran : senja yang akan segera berakhir ketika malam mulai gelap. Singkat. Mungkin itulah kekhawatiran Charil Anwar sendiri tentang cintanya yang suci, sendu, menggelora namun seperti seolah-olah tidak akan berumur panjang seperti halnya senja yang tak bisa berlama-lama berdiri.

Sajak putih

Sajak putih Chairil anwar adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar yang sarat akan nilai-nilai romantika. Ketulusan, kejujuran dan keikhlasan seorang pujangga dalam romantika cinta tersirat jelas di sini. Puisi ini menggambarkan ungkapan tulus perasaan penulis kepada kekasih yang sangat dipujanya pada pandangan pertama. Tak dijelaskan apakah ini benar-benar cinta pada pandangan pertama, atau cinta kedua dan seterusnya, hanya senja yang telah berhasil mengukuhkan cinta itu. Memang sejauh ini tak banyak para pengamat sastra yang mencoba menggali tentang bagaimana kisah percintaan dan asmara Chairil Anwar yang sering lari dari kehidupan mapan untuk menemukan kesejatian hidup.

Seperti puisi-puisinya yang lain, dalam sajak putih Chairil Anwar ini penulis memilih bersembunyi di balik metafora dan kiasan-kiasan. Coba perhatikan dalam puisi ini, Chairil anwar menggambarkan gelora hati ‘Aku’ terhadap seorang gadis yang mencuri hatinya dengan keindahan sore yang berpelangi. Begitu indah, menyenangkan namun juga mencemaskan karena akan berakhir senja yang sepi dan gelap. Apakah ini merupakan kisah dari percintaan dan asmara Chairil Anwar yang tak bisa panjang seperti juga usianya yang terlampau cepat berakhir, hanya Chairil sendiri yang tahu. Tak banyak teman dekatnya yang mampu mengorek. Tapi itulah Chairil Anwar yang jalang memandang dunia, tapi tetap memiliki satu sisi gelap dalam kehidupannya yang tak sembarang orang bisa merambahnya.

Perasaan cinta dalam sajak putih Chairil Anwar ini juga disembunyikan dalam kiasan indah. Bagaimana Chairil mengilustrasikan keindahan cinta dengan kembang mawar yang diharapkan bertemu dengan ketulusan hati si gadis yang diilustrasikan dengan melati. Sangat indah dan menarik mencari dan menafsirkan teka-teki romantika cinta di balik puisi sajak putih Chairil Anwar ini.

Cinta dan Harapan  

Chairil anwar selalu menyimpan semangat dan optimisme dalam puisinya, termasuk dalam sajak putih ini. Meski di bagian tengah puisi digambarkan bahwa romantika cinta antara ‘Aku’ dan si gadis hanya sebatas kekaguman saat melihat satu sama lain. Tidak ada pembicaraan cinta dan rayuan yang terucap. Tidak ada janji bertemu diberikan, hanya tatapan mata yang menyiratkan kekaguman yang menjadi pegangan. Namun ‘Aku’ tetap optimis bahwa ada masa yang akan mempersatukan mereka dalam kisah cinta yang suci. Sekalipun optimisme itu seperti optimis setengah hati karena bayang-bayang senja yang tak bisa berusia panjang.

Akan ada harapan, demikian ending yang dikiaskan oleh Chairil dalam puisi ini. Hal ini sangat terlihat pada cuplikan kalimat berikut  “Selama matamu bagiku menengadah”.

Begitulah ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar. Selalu melahirkan semangat dan optimisme untuk menggapai harapan. Chairil Anwar seakan berpesan pada pembacanya, bahwa selalu ada harapan selama usaha dan doa bersanding dalam langkah kaki kita. Lalu bagaimana akhir dari kisah asmaranya tersebut ? Chairil Anwar terlalu muda dan terlalu cepat mengakhiri hidupnya di dunia fana ini, setelah penyakit TBC kronis merenggutnya.

Lelaki kerempeng dengan mata tajam ini lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Kemudian putra dari pasangan Toeloes dan Saleha ini meninggal di Jakarta, tepatnya 28 April 1949. Sungguh masih sangat muda, sekalipun telah banyak menghasilkan karya yang layak untuk dikenang. Dan karena karya-karyanya yang istimewa itulah, Chairil Anwar selalu dikenang, sehingga terasa ia masih hidup sampai hari ini. Sebagai penyair, Chairil Anwar termasuk istimewa. Coba saja bagaimana H.B Jassin yang kemudian menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor penyair modern dari Indonesia sekaligus sebagai penyair dan pelopor pujangga angkatan 45 bersama dengan Rivai Apin dan Asrul Sani. Sekalipun mati muda, menurut beberapa pengamat tidak dari 96 karya termasuk di dalamnya tak kurang dari 70 puisi yang berhasil lahir dari tangan Chairil Anwar.

Bagaimanapun Chairil Anwar telah menulis sejarah, karyanya memang berbada untuk jamannya, bahkan dalam pemilihan tema sekalipun sehingga seringkali mengundang multi interpretasi. Chairil Anwar hidup mapan, sekalipun ia tak melakoni kehidupan itu. Padahal kalau mau menuruti garis keluarga, dimana bapaknya seorang bupati di Inderagiri, masih saudara dekat dengan Perdana Menteri I Indonesia yakni Sutan Syahrir, Chairil Anwar tidak harus terserang berbagai penyakit gara-gara pola hidup dan pola makan yang tidak beraturan. Tapi Chairil Anwar memang terkenal keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun yang telah ada dalam genggamannya.

Kemewahan keluarga itulah sebenarnya yang mengantarkan Chairil Anwar berkenalan dengan karya sastra dunia. Chairil Anwar bisa menikmati sekolah terbaik yang bisa dicapai orang pribumi yaitu HIS, kemudian meneruskan ke MULO. Sekalipun pada akhirnya, Chairil Anwar tak berniat melanjutkan sekolahnya dan di luar dugaan mengatakan kepada keluarganya bahwa ia akan menjalani hidup sebagai seorang seniman. Hal itu dilakukan pada saat ia belum genap berusia 18 tahun. Sebuah langkah berani. Tapi dengan keberanian itu pula pada akhirnya Chairil Anwar mulai sering membaca karya-karya Archibald, Hendrik Marsman, Edgar du Perron, Rainer Maria Rilke, Auden, Slaurhoff serta penyair dunia lainnya. 

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Mengenal Puisi Chairil Anwar
  • Ibu sebagai Sumber Kekuatan Hidup dalam Puisi Ibu Chairil Anwar
  • Puisi Chairil Anwar Aku, Simbol Ketabahan dan Kelapangan Hati
  • Apresiasi Puisi Doa Karya Chairil Anwar
  • Chairil Anwar, Pendobrak Sajak Bahasa Indonesia
  • Makna Sahabat dalam Puisi Persahabatan Chairil Anwar
  • Menelusuri Riwayat Hidup Chairil Anwar
  • Pelajaran Penting dari Tiga Puisi Makna Kehidupan
  • Kenali Karya Puisi Beserta Pengarangnya
  • Puisi Karangan Chairil Anwar 1945-1949
  • Mari Menyelenggarakan Kajian Puisi Chairil Anwar
  • Aku: Judul Puisi Chairil Anwar
  • Pengaruh Sajak Chairil Anwar terhadap Penyair Muda
  • Puisi Lama - Karya Sastra Indonesia yang Terikat Oleh Aturan
  • Makna Puisi Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA