logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Pasti    Kedokteran

Mengenal Bahaya dan Metode Pembuangan Sampah Medis


Ilustrasi sampah medis

Terbiasa melihat sampah menggunung? Jika Anda berjalan-jalan ke pasar tradisonal, hal itu mungkin sudah lumrah. Banyak orang berlalu-lalang dengan santainya. Keberadaan sampah hasil sisa pasar itu, dianggap tidak terlalu membahayakan. Tapi tidak jika sampah itu adalah sampah medis.

Mengapa? Karena sampah medis tergolong sampah berbahaya. Hampir sama dengan sampah radioaktif dalam takaran yang lebih kecil. Penanganannya harus ekstra hati-hati dengan prosedur yang jelas. Tak boleh dibuang atau diperlakukan sembarangan. Apalagi, ditangani secara sembrono.

Sampah Medis

Sampah medis merupakan sampah hasil limbah dari aktivitas suatu rumah sakit, klinik, atau unit pelayanan kesehatan yang membahayakan dan dapat menimbulkan gangguan kesehataan bagi masyarakat, pengunjung, dan petugas yang menanganinya. Sampah jenis ini berpotensi besar menjadi sumber penyakit dan pencemaran lingkungan tingkat tinggi karena sifat biologis yang dimiliki.

Jenis sampah medis dapat berupa limbah benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia, radioaktif, dan limbah plastik. Berbagai sampah ini biasanya bersumber dari pelayanan medis, veterinary, perawatan gigi, farmasi atau yang sejenisnya. Termasuk juga limbah yang dihasilkan rumah sakit saat melakukan pengobatan, perawatan, atau penelitian.

Rumah Sakit menghasilkan sampah medis dalam jumlah yang besar, beberapa diantaranya membahayakan kesehatan dilingkungannya. Di negara maju, jumlahnya diperkirakan 0,5-0,6 kg per tempat tidur rumah sakit perhari. Pembuangan limbah yang berjumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan memilah-milah limbah kedalam kategori untuk masing-masing jenis kategori diterapkan cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah rumah sakit adalah sejauh mungkin menghindari resiko kontaminasi antrauma atau Injuri.

Dari keseluruhan sampah medis, sekitar 10 sampai 15 persen diantaranya merupakan limbah infeksius yang mengandung logam berat, antara lain mercuri (Hg). Sebanyak 40 persen lainnya adalah limbah organik yang berasal dari makanan dan sisa makan, baik dari pasien dan keluarga pasien maupun dapur gizi. Selanjutnya, sisanya merupakan limbah anorganik dalam bentuk botol bekas infus dan plastik.

Jenis-Jenis Sampah Medis

Berdasarkan potensi bahaya yang ditimbulkannya sampah medis klinis dapat digolongkan dalam limbah benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia, radio aktif dan limbah plastik. Berikut penjabaran apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis sampah medis:

1. Limbah Benda Tajam
Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit. Misalnya : jarum hipodermik, perlengkapan intervena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Selain itu meliputi benda-benda tajam yang terbuang yang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radio aktif.

2. Limbah Infeksius
Limbah infeksius meliputi sampah medis yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit menular. Yang termasuk limbah jenis ini antara lain : sampah mikrobiologis, produk sarah manusia, benda tajam, bangkai binatang terkontaminasi, bagian tubuh, sprei, limbah raung isolasi, limbah pembedahan, limbah unit dialisis dan peralatan terkontaminasi (medical waste).

3. Limbah Jaringan Tubuh
Limbah jaringan tubuh meliputi jaringan tubuh, organ, anggota badan, placenta, darah dan cairan tubuh lain yang dibuang saat pembedahan dan autopsi. Limbah jaringan tubuh tidak memerlukan pengesahan penguburan dan hendaknya dikemas khusus, diberi label dan dibuang ke incinerator.

4. Limbah Jaringan Tubuh
Limbah jaringan tubuh meliputi jaringan tubuh, organ, anggota badan, placenta, darah dan cairan tubuh lain yang dibuang saat pembedahan dan autopsi. Limbah jaringan tubuh tidak memerlukan pengesahan penguburan dan hendaknya dikemas khusus, diberi label dan dibuang ke incinerator.

5. Limbah Citotoksik
Limbah citotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat citotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik. Limbah yang terdapat limbah citotoksik didalamnya harus dibakar dalam incinerator dengan suhu diatas 1000oc.

6. Limbah Farmasi
Limbah farmasi berasal dari obat-obatan kadaluwarsa, obat-obatan yang terbuang karena batch tidak memenuhi spesifikasi atau telah terkontaminasi, obat-obatan yang terbuang atau dikembalikan oleh pasien, obat-obatan yang sudah tidak dipakai lagi karena tidak diperlukan dan limbah hasil produksi obat-obatan.

7. Limbah Kimia
Limbah kimia dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, vetenary, laboratorium, proses sterilisasi dan riset. Limbah kimia juga meliputi limbah farmasi dan limbah citotoksik

8. Limbah Radio Aktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida. Asal limbah ini antara lain dari tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay dan bakteriologis yang daapt berupa padat, cair dan gas.

9. Limbah Plastik
Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang terbuat dari plastik dan juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis.

Metode Pembuangan Sampah Medis

Ada beberapa metode pembuangan sampah medis, yaitu penimbunan darat, pembakaran/pengkremasian, daur ulang, pengkomposan, pemulihan energi, dan metode penghindaran dan pengurangan sampah. Setiap metode/cara disesuaikan dengan sifat dan jenis sampah.

Contoh, sampah organik seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, umumnya diolah dengan menggunakan metode pengkomposan. Tak hanya menghilangkan sampah, dengan cara ini juga dapat dihasilkan pupuk dan gas metana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

Contoh lain, sampah hasil olahan pabrik seperti kaleng minum aluminum, kaleng baja makanan/minuman, botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, kardus, dan berbagai barang berbahan plastik. Sampah seperti ini menggunakan metode daur ulang untuk pembuangannya. Setiap jenis sampah dipilah-pilah dan diproses kembali menjadi bahan yang bermanfaat. 

Adapun untuk sampah medis, metode yang jamak dilakukan adalah pembakaran/pengkremasian. Cara ini dipilih karena karakteristik sampah medis yang umumnya berbentuk padat, cair atau gas. Cocok jika menggunakan metode pembakaran. Apalagi, sifat berbahaya dari sampah medis sebagai sumber penyakit, mengharuskan jenis sampah ini segera dimusnahkan. Pembakaran jelas merupakan cara efektif dan praktis untuk tujuan itu. 

Pengelolaan sampah medis akan memiliki penerapan pelaksanaan yang berbeda-beda antar fasilitas-fasilitas kesehatan, yang umumnya terdiri dari penimbulan, penampungan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. Bisa kita lihat penjabarannya sebagai berikut:

1. Penimbulan (Pemisahan Dan Pengurangan)
Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang kontinyu yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan : kelancaran penanganan dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan perlakuan pemisahan limbah B3 dan non B3 serta menghindari penggunaan bahan kimia B3, pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis sampah untuk efisiensi biaya, petugas dan pembuangan.

2. Penampungan
Penampungan sampah ini wadah yang memiliki sifat kuat, tidak mudah bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup dan tidak overload. Penampungan dalam pengelolaan sampah medis dilakukan perlakuan standarisasi kantong dan kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang bermacam warna seperti telah ditetapkan dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992 dimana kantong berwarna kuning dengan lambang biohazard untuk sampah infeksius, kantong berwarna ungu dengan simbol citotoksik untuk limbah citotoksik, kantong berwarna merah dengan simbol radioaktif untuk limbah radioaktif dan kantong berwarna hitam dengan tulisan “domestik”

3. Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat pembuangan atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong sebagai yang sudah diberi label, dan dibersihkan secara berkala serta petugas pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja khusus.

4. Pengolahan dan Pembuangan
Metoda yang digunakan untuk megolah dan membuang sampah medis tergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi yang berkaitan dengan peraturan yang berlaku dan aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap masyarakat.

Incinerasi

Pembakaran atau pengkremasian melibatkan temperatur tinggi. Mengubah sampah menjadi panas, gas, uap, dan abu. Sehingga berpotensi menghasilkan polusi udara, jika tidak dikelola dengan baik. Untuk sampah medis biasanya menggunakan incinerator. Alat pembakaran menggunakan tungku khusus bersuhu tinggi agar kuman penyakit yang terkandung dalam sampah medis dapat segera musnah.

Hanya saja, ada hal-hal yang perlu diperhatikan jika menggunakan incinerator. Yaitu desain, ukuran, kapasitas incinerator harus sesuai dengan volume sampah medis yang akan dibakar.

Selain itu, harus sesuai pula dengan pengaturan pengendalian pencemaran udara, penempatan lokasi dalam kompleks rumah sakit serta jalur pembuangan abu, dan keamanan incinerator dari kemungkinan bahaya kebakaran. Jika hal-hal ini diperhatikan dengan saksama, kiranya akibat negatif dari pemakaian incinerator dapat ditekan seminimal mungkin.

Selain dengan pembakaran menggunakan incinerator (incinerasi), masih ada lagi metode yang biasa diterapkan dalam pembuangan sampah medis. Yaitu sterilisasi dengan uap panas/autoclaving, sterilisasi dengan gas, desinfeksi zat kimia dengan proses grinding, inaktivasi suhu tinggi, radiasi, microwave treatment, grinding dan shredding, serta pemampatan/pemadatan volume sampah.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Penanganan Khusus bagi Limbah Medis
  • Anatomi Fisiologi Sistem Endokrin
  • Percayakan Kesehatan Peliharaan pada Dokter Hewan
  • Anatomi Fisiologi Sistem Integumen
  • Video Melahirkan – Momen Terindah di Saat yang Mendebarkan
  • Memahami Anatomi Fisiologi Telinga
  • 7 Standar Kompetensi Dokter Indonesia
  • Pentingnya Jaringan Saraf
  • Dokter Bedah Plastik, Solusi Tampil Cantik?
  • Mengulas Anatomi, Sejarah Dan Klasifikasinya
  • Dokter Kulit - Mengatasi Jerawat Tanpa Masalah?
  • Anatomi Fisiologi Kulit Manusia
  • Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan Pada Manusia
  • Mengenal Lebih dalam Golongan Darah pada Manusia
  • Selusin Istilah Medis untuk Obat-Obatan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA