Santun Berbahasa, Komunikasi Lancar
Sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan manusia lain. Homo homini socius. Manusia adalah kawan bagi manusia lain. Kebutuhan ini mendorong manusia menjalin komunikasi dengan sesamanya.
Untuk menjalankan komunikasi ini mutlak diperlukan bahasa. Kelancaran komunikasi dan hubungan sosial banyak ditentukan oleh bagaimana individu santun berbahasa.
Tidak ada manusia yang senang diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain. Semua manusia pasti ingin diperlakukan secara baik, santun, dan manusiawi. Nilai-nilai etika yang dipegang oleh individu-individu dalam masyarakat sangat berperan dalam hal ini.
Filosof Jack Odell mengatakan bahwa sebuah masyarakat yang tidak memiliki etika adalah masyarakat yang sedang menjelang kehancuran. Jack Odell juga berpendapat bahwa prinsip-prinsip etika merupakan prasyarat wajib bagi keberadaan sebuah komunitas sosial.
Jika tidak ada prinsip-prinsip etika, manusia tidak mungkin dapat hidup secara harmonis. Tanpa prinsip-prinsip etika, manusia akan hidup dalam ketakutan, kecemasan, keputusasaan, kekecewaan, dan ketidakpastian.
Salah satu wujud individu yang beretika adalah individu tersebut santun berbahasa. Santun berbahasa di sini tak sekadar pada nada suara yang digunakan ketika berbahasa, namun juga pada pemilihan kata-kata yang digunakan.
Pentingnya Santun Berbahasa
Mengapa seseorang harus membiasakan dirinya santun berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan kepada orang lain? Ada beberapa alasan, antara lain:
- Penghormatan kepada orang lain
Dengan menggunakan bahasa yang santun, berarti seseorang telah menunjukkan sikap penghargaannya kepada orang lain serta memperlakukan manusia sebagaimana seharusnya manusia.
- Harmonis
Kehidupan yang harmonis antarindividu dalam masyarakat akan sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak memiliki etika dan sopan santun berbahasa. Kasus-kasus perkelahian antarindividu (one by one), antarkelompok, atau bahkan antarkampung sering terjadi karena ketidaksantunan dalam berbahasa.
Saling ejek, saling melontarkan kata-kata kasar, menghina, dan merendahkan lawan bicara dapat memancing emosi yang berujung pada perkelahian. Jangankan kata-kata yang yang memang kasar dan bermuatan penghinaan, kata-kata yang awalnya dimaksudkan untuk bercanda saja pun dapat mengundang datangnya pertengkaran jika disampaikan pada orang dan saat yang tidak tepat.
- Saling pengertian
Santun berbahasa juga dapat menghindarkan terjadinya kesalahpahaman antara orang-orang yang melakukan kegiatan komunikasi tersebut.
Santun Berbahasa di Kalangan Remaja
Sebagai anggota masyarakat, sudah selayaknya jika remaja pun melatih diri untuk santun berbahasa. Dalam keseharian, remaja bersosialisasi tak hanya dengan teman sebaya namun juga dengan orang-orang yang lebih tua.
Banyak ditemukan kasus terjadinya ketidakhamonisan dan kesalahpahaman antara remaja dengan orang di sekitarnya, terutama yang lebih tua, karena masalah berbahasa ini. Ketidakharmonisan dan kesalahpahaman ini tak hanya terjadi dalam penggunaan bahasa lisan, namun juga tulisan.
Dalam bahasa lisan, seorang remaja bisa dinilai tidak santun berbahasa jika menggunakan intonasi yang keras pada lawan bicara yang lebih tua, menggunakan pilihan kata yang tidak tepat (misalnya menggunakan kata “kamu” pada orang yang secara usia atau kedudukan lebih tinggi), atau menggunakan kata-kata slank.
Dalam bahasa tulisan, remaja bisa dinilai tidak santun berbahasa gara-gara menggunakan bahasa alay. Bahasa alay ini adalah bahasa gaul yang sering digunakan oleh remaja pada sesama mereka. Bahasa ini melanggaran semua aturan penggunaan huruf besar dan kecil, mencampuradukkan penggunaan huruf dan angka dalam penulisan kata, dan menyingkat-nyingkat kata tanpa memperhatikan kelaziman.
Komunikasi antar individu baru akan disebut berhasil jika tercapai saling pengertian antarindividu yang terlibat. Saling perngertian itu bisa diperoleh melalui perilaku santun berbahasa.






