logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Definisi Sosial

Filosofi Sapu Lidi


Ilustrasi sapu lidi

Sapu lidi, siapakah di antara Anda yang tidak memilikinya di rumah? Sapu jenis lidi merupakan salah satu item yang sangat berguna bagi kebutuhan rumah tangga anda. Sapu ini menembus perbedaan status dan ekonomi, Anda bisa lihat dari kehidupan orang-orang miskin, atau orang kelas menengah, bahkan lihat saja rumah orang-orang kaya. Mereka semua mempunyai sapu jenis lidi.

Sapu lidi umumnya digunakan untuk menyapu pekarangan, membersihkan debu di kasur yang sedang dijemur, dan masih banyak lagi kegunaannya. Sekarang mari kita bahas sedikit demi sedikit untuk menambah pengetahuan kita. 

Pertama-tama, apakah sapu lidi itu? Secara singkat dapat saya jelaskan bahwa sapu lidi adalah kumpulan dari lidi-lidi yang didapat dari batang daun kelapa kering dan dihimpun satu sama lainnya lalu ujungnya diikat sehingga menghasilkan sabuah sapu lidi. Sapu lidi tergantung ukurannya, bisa terdiri dari 100-500 batang lidi.

Sapu lidi umumnya diproduksi di desa-desa yang banyak ditumbuhi pohon kelapa, hal ini wajar karena dari pohon kelapa lah sapu jenis lidi berasal. Jika berbicara mengenai sapu, sebenarnya tidak cuma sapu lidi yang dikenal dipasaran, karena banyak sekali sapu-sapu lain berdasarkan jenis dan kegunaannya sendiri-sendiri. Berikut beberapa jenisnya:

  • Sapu Jenis Lidi

Ada dua jenis sapu jenis lidi yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Yakni sapu jenis lidi untuk membersihkan kasur dan sapu jenis lidi untuk membersihkan halaman. 

Yang membedakan adalah jenis lidi dan pegangannya. Sapu jenis lidi untuk kasur, lidinya halus karena permukaan kasur yang cukup lembut sehingga jika kita menggunakan sapu yang lidinya kasar makan kemungkinan kasur menjadi berbulu sangat besar.

Selain itu, gagangnya pendek demi memudahkan dalam proses penggunaannya. Sedangkan, sapu jenis lidi yang yang digunakan untuk luar ruangan seperti pekarangan rumah, bahan lidinya lebih kasar dan tebal agar tidak mudah patah dan agar kotoran tidak terlewat ketika disapu. 

Dan, umumnya gagangnya lebih panjang dari pada sapu jenis lidi untuk kasur karena kita akan menggunakannya saat berdiri sedangkan kotoran-kotoran pastinya berada di sekitar kaki kita. 

  • Sapu Jenis Ijuk

Sapu jenis ijuk paling banyak digunakan masyarakat Indonesia sebagai pembersih lantai rumah. Jika sapu jenis lidi dipakai di luar ruangan, maka sapu jenis ijuk ini umumnya dipakai di dalam ruangan untuk membersihkan lantai rumah dan teras.

Sapu jenis ini digemari karena harganya yang lebih murah jika dibandingakan dengan saingannya yaitu sapu plastik. Walau sama- sama berasal dari pohon kelapa, sapu ijuk ini proses pembuatannya lebih rumit dari sapu jenis lidi karena sapu jenis ijuk ini dibuat dari serabut kelapa.

Mungkin ketika di pasar kita pernah melhat sapu ijuk yang mempunyai gagang yang terbuat dari bambu dan sangat panjang, hal itu karena sapu jenis ijuk itu akan digunakan untuk membersihkan langit-langit rumah.

Mengapa tidak menggunakan sapu jenis lidi untuk membersihkan langit-langit rumah? Karena, sapu jenis ijuk tingkat kerapatannya lebih daripada sapu jenis lidi sehingga lebih efisien dalam membersihkan kotoran seperti sarang laba-laba.

  • Sapu Jenis Plastik

Sapu jenis plastik sering digunakan sebagai pengganti sapu ijuk. Berbeda dengan sapu jenis ijuk yang kadang ijuknya patah saat digunakan, sapu ini dibuat dari ijuk sintetis yang terbuat dari plastik sehingga tidak mungkin patah.

Sapu jenis ini selain untuk membersihkan teras dan lantai rumah, sapu plastik dapat digunakan untuk membersihkan karpet anda. Walau harga sapu jenis plastik lebih mahal karena selain terbuat dari ijuk sintetis, gagangnya pun terbuat dari alumunium, tapi sapu jenis ini tetap banyak dicari karena lebih ringan bobotnya dan lebih mudah dibersihkan dari kotoran yang menempel setelah menyapu.

Tahukah Anda bahwa sapu jenis lidi umumnya dibuat oleh kaum ibu sebagai pekejaan sampingan. Tapi tidak menutup kemungkinan profesi ini dijalani sebagai pekerjaan tetap seperti yang dilakukan oleh sebagian orang. Seperti yang kita tahu bahan bakunya adalah dari daun kelapa yang telah mengering.

Orang-orang di pedesaan umumnya mempunyai pohon kelapa sendiri-sendiri di pekarangan mereka sehingga tidak menyulitkan mereka dalam mendapatkan bahan baku sapu lidi. Lain ceritanya jika para pembuat tidak mempunyai pohon kelapa sendiri sehingga mengharuskan mereka untuk membelinya dari pemilik pohon dengan harga tertentu.

Setiap batang daun kelapa kering jika dibuat menjadi sapu lidi, dapat menghasilkan kurang lebih 3 buah sapu lidi. Tentu ada tips-tips tertentu agar mereka dapat menghasilkan sapu lidi yang lidinya kuat.

Salah satunya adalah sebelum dibuat menjadi sapu, batang-batang daun kelapa yang akan diproses direndam dulu di sungai selama beberapa hari agar lidinya lebih kuat dan lebih lentur.

Setelah proses perendaman selesai, maka batang yang direndam tadi dijemur sampai kering di bawah sinar matahari. Karena produksi sapu jenis lidi ini di kampung-kampung, maka semua prosesnya secara tradisional, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau belajar.

Kembali ke proses pembuatannya, setelah kering, maka proses selanjutnya adalah memisahkan daun dan lidinya. Sampai disini cukup mudah, bukan? Tapi, proses pemisahan ini juga butuh kemampuan khusus jika tidak tangan si pekerja bisa terluka karena kena pisau maupun kena daunnya. Dengan sedikit berlatih maka hal ini dapat dihindari.

Setelah lidi-lidinya terkumpul, maka anda dapat mulai mengikat 100-150 lidi tadi untuk dijadikan sebuah sapu. Jika dikerjakan oleh 5-10 orang, maka dapat diproduksi sekitar 50-100 buah sapu dalam satu hari. Harga jual sapu lidi pun beragam sesuai bentuknya.

Jika sapu ukuran kecil tanpa gagang maka harganya sekitar Rp3000. Semakin besar sapunya, makin tinggi harganya. Sapu-sapu ini umumnya dijual kepada para pedagang perantara (tengkulak) yang datang. Tapi, tidak menutup kemungkinan sapu-sapu ini dijual sendiri sehingga para penjual dapat menaikan harga sehingga terjadi tawar-menawar dengan calon pembeli, daripada dijual kepada para tengkulak dengan harga rendah dan tidak dapat ditawar.

Sapu jenis lidi ini selain digunakan untuk menyapu pekarangan dan membersihkan kasur, ternyata mempunyai nilai filosofis yang tinggi. Sapu ini erat kaitannya dengan filosofi persatuan. Anda dapat membayangkan jika satu batang lidi harus dipakai untuk membersihkan sebuah pekarangan yang penuh dengan kotoran.

Pastilah hal ini akan sangat sulit dilakukan, selain itu tentunya juga akan membuang-buang waktu dan tenaga. Tapi jika lidi-lidi disatukan sehingga membentuk sabuah sapu, maka hal yang tadinya mustahil, dapat Anda kerjakan sekarang. Sehingga saya sangat setuju jika sapu lidi adalah simbol persatuan dan kekuatan komunitas.

Seperti pepatah kuno yang berkata “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Pepatah ini terealisasi dengan menggunakan filosofi sapu lidi. Seikat sapu lidi, adalah bentuk persatuan. Generasi penerus bangsa harus dipahamkan, bahwa perjuangan mencapai tujuan, tidaklah mampu dilakukan seorang diri. Ini pelajaran hidup yang bisa dilakukan oleh kita semua dengan berkaca pada perjuangan nenek moyang kita dalam merebut kemerdekaan.

Tanpa persatuan, mungkin saat ini kita belum merdeka dan masih ada dibawah penjajahan bangsa lain. Tidak hanya itu, kita sebagai manusia sosial, tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Baik secara tidak langsung maupun secara langsung, kita selalu membutuhkan orang lain agar kita bisa menghadapi dan menjalani hidup.

Jika Anda tidak percaya, bayangkan jika tidak ada petani, maka Anda tidak bisa menikmati nasi Anda saat anda sedang duduk di meja makan Anda. Bahkan di beberapa adat perkawinan di Indonesia seperti contohnya pernikahan adat Sunda, terdapat acara pembakaran lidi.

Sifat lelaki yang keras dan pemarah disimbolkan seperti nyala lidi yang dibakar. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa sifat-sifat pemarah dan keras kepala lelaki yang akan menjadi kepala keluarga harus dihilangkan (dibakar) sebelum memasuki kehidupan rumah tangga bersama istrinya.

Sungguh suatu filosofi yang indah dan tepat sasaran. Karena kehidupan berumah tangga sangat berbeda dengan kehidupan bujangan yang bebas dan penuh dengan emosi pribadi, sehingga sifat keras kepala dan mudah emosi harus dihilangkan sebelum berkeluarga.

Bahkan dari segi mistis, sapu lidi merupakan salah satu benda yang dipercaya memiliki tuah untuk mengusir makhluk gaib, bahkan ada juga mitos mengatakan bahwa sapu jenis lidi yang biasa digunakan untuk menyapu pekarangan juga dapat dijadikan sarana mendatangkan ilham/wangsit dengan cara tidur di lantai dan menggunakan sapu lidi sebagai bantal agar mimpi lebih terarah. Tentunya semua tergantung kepercayaan Anda.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Mengenal Konsep dan Definisi Masyarakat
  • Interaksi Sosial dalam Masyarakat Kota
  • Pengertian Sosial Budaya dari Para Ahli
  • Pengertian dan Berbagai Bentuk Penyimpangan Sosial di Masyarakat
  • Serba-serbi United Nations
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA