Sate Ayam - Meroket Keliling Dunia
Ilustrasi sate ayam
Masih ingatkah Anda dengan gurauan lucu bapak Presiden Amerika Barrack Obama ketika berkunjung ke Indonesia? Betapa menggelitik ketika dalam pidato kedatangannya, Obama berteriak lantang, “Te Sateee!”.
Ya, sate, siapa yang tidak kenal dengan panganan sederhana nan menarik khas Indonesia ini? Sate ayam, sate kambing, sate sapi, dan sate dari hewan lainnya merupakan hidangan asli Indonesia yang lahir dari budaya beternak masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Meski telah menjadi warisan budaya turun temurun dan telah dikenal di mancanegara, Anda masih boleh berterima kasih kepada si tukang sate paling berpengaruh di dunia, yakni bapak Presiden Amerika, Barrack Obama.
Berkat ulasannya tentang kenangan masa kecilnya di Menteng dan tentang para penjual yang berkeliling di depan rumahnya setiap hari termasuk si tukang sate ini. Sate, termasuk sate ayam menjadi salah satu makanan dari Asia yang paling populer bersanding dengan ketenaran nasi goreng dan rendang di dunia internasional.
Namun jangan salah, terkenalnya sate ke penjuru-penjuru dunia bukan melulu disebabkan oleh salah seorang yang berpengaruh di dunia. Namun di balik terkenalnya sate, ada sosok-sosok yang bahkan tak dikenal, turut membawa warisan budaya ini ke negara-negara nun jauh. Meskipun memiliki tampilan dan resep nan sederhana, namun cita rasa sate ayam dan teman-temannya ini dapat dikategorikan luar biasa menggoyang lidah.
Dengan aroma bakar yang menggoda selera, sate ayam dan sate lainnya cukup untuk memuaskan dahaga para pecinta kuliner Indonesia, bahkan para pecinta kuliner dari mancanegara. Dengan kesederhanaannya itu, sate justru memiliki potensi untuk dikenang. Tampilan boleh biasa namun rasanya tetap luar biasa.
Sate Ayam dan Teman-Temannya
Sate yang Anda kenal di Indonesia tentunya sangat beragam. Setiap daerah sepertinya memiliki sate khas tersendiri, dengan racikan bumbu yang serupa namun tak sama. Selain dibedakan dari daerahnya, keragaman sate juga diperoleh dari daging yang menjadi bahan dasar panganan tersebut. Sepertinya hampir semua hewan berdaging di Indonesia bisa diolah menjadi sate.
Dari bahan dasar yang terdengar lazim seperti sate ayam, sate sapi, dan sate kambing, kemudian dari hewan tunggangan seperti sate kerbau dan sate kuda, hingga yang tak biasa untuk dikonsumsi sehari-hari seperti sate biawak, sate kalong, sate belalang, sate kecoa, sate ular, bahkan sate buaya.
Banyak sate lahir di dunia luar dengan nama yang original namun disajikan setelah bumbu-bumbunya diberi sentuhan dari rempah-rempah yang berasal dari daerah mereka sendiri.
Geliat sate tak kalah dengan steak dan burger khas Amerika di penjuru mancanegara. Bahkan di benua tersebut pun sate dihidangkan pada acara-acara keluarga, misalnya pada saat diadakannya pesta barbekyu.
Tuan rumah bersama tamunya seringkali membuat sate, karena tampaknya cara untuk memasak sate ini lebih mudah daripada memasak steak yang memerlukan keahlian khusus untuk memastikan steak matang dengan sempurna. Pada setiap tusuk sate, disisipkan paprika atau tomat. Masih dengan nama sate, makanan tersebut disajikan dalam bentuk penyajian serupa steak.
Sate (di beberapa tempat disebut sebagai satay) merupakan makanan khas Indonesia dengan penyajian berupa susunan daging yang dipotong kecil-kecil, dengan menggunakan susuk khusus yang dibuat dari sebilah bambu yang dipotong tipis, namun cukup kuat untuk dibakar pada saat proses pematangan sate.
Setelah matang, sate disajikan dengan bumbu kacang (pada umumnya), acar bawang, cabai rawit, mentimun, dan wortel. Karena cita rasanya yang sederhana namun mampu mengundang selera dan dapat memberikan kenangan tersendiri di lidah pecinta kuliner, sate pun turut mengalami perkembangan yang pesat di mancanegara.
Hal tersebut menandakan ada bukti adaptasi dalam mengaplikasikan makanan sate ini ke lidah orang asing. Sebagai makanan asli Indonesia, geliat dunia persatean juga tak kalah berkembang dengan negara-negara lain yang perkembangannya hanya mengadaptasi konsep kuliner sate sebagai daging yang ditusuk kecil-keci dan dibakar menggunakan bara ini. Di Indonesia, panganan sederhana sekelas sate ini tetap tampil apa adanya, namun perkembangannya luar biasa.
Oleh karena itu, para pecinta kuliner memiliki rasa penasaran yang luar biasa akan banyak ragam sate yang dibuat di Indonesia. Hal itu menyebabkan munculnya menu-menu baru varian sate yang semakin memperkaya warisan budaya kuliner Indonesia. Sate berkembang di beberapa kota dan daerah di Indonesia sebagai kekhasan tersendiri.
Banyak kota di Indonesia mengkreasikan satenya sendiri, dan menamakan sate tersebut dengan nama kotanya. Sepertinya, sate-sate ini terdiri atas bahan dasar yang biasa dijual di pasar-pasar tradisional atau dijajakan di pinggir jalan, namun pasti memiliki racikan tersendiri yang berbeda dengan sate dari daerah lainnya. Berikut ini beberapa nama sate yang ada di Indonesia.
| Nama Sate yang Ada Di Indonesia |
| Sate Madura, adalah sate yang mungkin Anda tahu karena telah banyak dijajakan di sekitar Anda. |
| Sate Padang juga telah banyak dijajakan di sekitar Anda sehingga tak perlu dijelaskan lebih lanjut. |
| Sate Ponorogo, sate ini merupakan jenis sate berbahan dasar daging ayam (sate ayam), dengan bumbu yang kaya akan rempah, yang terdiri dari kunyit, bawang putih, bawang merah, ketumbar, jahe, serai, dan garam yang dihaluskan dan ditumis dengan sedikit minyak. Setelah matang dengan sempurna, hidangkan sate lengkap dengan sambel kecap dan lontong. |
| Sate Blora, sate ini merupakan jenis sate berbahan dasar daging ayam. Bahan dasar sate ayam Blora ini sebelum memasuki proses lebih lanjut, terlebih dahulu dibaluri dan diungkeb selama satu jam dengan campuran kecap manis, air jeruk nipis, dan margarin yang dilelehkan. Setelah itu haluskan bumbu berupa bawang putih, ketumbar bubuk, jahe, kaldu ayam bubuk, dan buat sambal dari bahan cabai merah, cabai rawit (yang telah direbus) sesuai selera, petis udang, bawang putih, tomat (yang telah direbus), garam, gula pasir, dan margarin. Setelah matang, sajikan dengan sambal yang telah dihaluskan. |
| Sate Banjar, sate ini berbahan dasar daging sapi yang kemudian diungkeb dengan menggunakan garam, merica bubuk, dan minyak goreng. Lalu setelah matang, sajikan sate dengan bumbu cabai merah, bawang putih, saus tomat, garam, gula pasir, dan kecap manis. |
Selain itu, ada pula nama-nama jenis sate sate lilit (Bali), sate jebred (Jawa Barat), sate buntel (Solo), dan sate maranggi (Cianjur, Purwakarta) Terakhir, ini adalah jenis-jenis sate yang dinamakan sesuai dengan nama hewan yang menjadi bahan dasar utama pembuatannya.
Sebagian hewan ialah hewan yang memang lazim (dalam artian, seringkali di makan sebagai hidangan biasa), namun sebagian lainnya ialah hewan yang tak pernah kita dengar sebagai makanan yang biasa di hidangkan di meja makan. Sate-sate tersebut adalah sebagai berikut.
| Your Content Title Here |
| 1. Sate kambing (Jawa) |
| 2. Sate kerbau (Kudus) |
| 3. Sate kelinci (Lembang, Malang, Yogya) |
| 4. Sate ayam dan burung (Jawa) |
| 5. Sate bandeng (Banten) |
| 6. Sate belut (Lombok) |
| 7. Sate kuda (Yogya) |
| 8. Sate bulus (Yogya) |
| 9. Sate ular (Surabaya, Pontianak) |
| 10. Sate biawak (Yogya) |
| 11. Sate buaya (Yogya, Samarinda) |
| 12. Sate rusa (Samarind |
Warisan Kuliner Indonesia yang Mendunia
Sate mulai dikenalkan oleh orang-orang Jawa yang kemudian menyebar ke kota-kota besar sejak awal abad ke-19. Budaya kuliner sate diperkirakan lahir karena pada masa itu, Jawa bagian tengah dan timur (juga daerah sekitarnya seperti Madura, Bali, dan Lombok) merupakan pusat kebudayaan beternak di Nusantara.
Dalam sejarahnya, ternyata budaya kuliner sate ini dipengaruhi oleh budaya kuliner yang dibawa oleh bangsa Tamil. Bangsa Tamil ialah bangsa yang datang dari dataran India dan Arab ke Indonesia untuk kepentingan perdagangan.
Teori ini muncul pertama kali karena kemunculan sate di awal abad ke- 19 merupakan awal domestifikasi domba (dari Arab) dan sapi (dari India) ke daerah Jawa untuk komoditi perdagangan. Kala itu pula budaya beternak mulai dikenal. Selain itu, sate pada masa tersebut berbahan dasar kambing dan sapi, dimana bahan dasar tersebut sering dipergunakan oleh orang-orang dari bangsa Tamil untuk keperluan makan.
Namun perkembangan sate selanjutnya diprakarsai oleh masyarakat pribumi. Salah satunya ialah kemunculan sate ayam yang juga menjadi primadona kuliner. Itu menandakan bahwa sate ayam merupakan makanan asli yang berkembang dalam budaya kuliner nusantara.
Kemudian, tersebarnya sate ke penjuru-penjuru dunia dimulai pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, juga di abad yang sama. Pada saat itu, banyak orang dari Indonesia yang dikumpulkan dan dibawa ke negara-negara kolonial yang mereka duduki seperti ke Amerika, Afrika Selatan (bekerja sama dengan Inggris), serta ke Belanda sendiri untuk dimasukkan ke dalam koloni perbudakan.
Pada saat itulah budaya sate diperkirakan turut dibawa bersama dengan perginya mereka ke wilayah-wilayah tersebut. Yang membuat sate ayam dan sate lainnya terkenal sampai ke penjuru-penjuru dunia adalah orang-orang Indonesia dan keturunannya yang tidak mau kehilangan cita rasa Indonesia di lidah mereka meskipun telah jauh dari kampung halamannya.
Selain itu, cita rasa sate meskipun dengan tampilan yang sederhana, sanggup menyihir lidah pecinta kuliner dengan ketakjuban. Baik di lidah orang Indonesia sendiri, maupun lidah masyarakat dunia.

