Sawah - Sumber Mata Pencaharian dan Ekosistem Buatan
Ilustrasi sawah
Sawah di Indonesia yang terlihat hijau bagai permadani memang sangat enak dipandang mata. Masih ingat lagu anak-anak berikut yang ada hubungannya dengan keindahan sawah yang hijau?
memandang alam dari atas bukit
sejauh pandang kulepaskan
sungai tampak berliku
sawah hijau membentang
bagai permadani di kaki langit
gunung menjulang berpayung awan
oh…indah pemandangan
Itulah salah satu gambaran keindahan alam negeri Indonesia. Sawah hijau membentang bagai permadani di kaki langit. Sawah tidak saja menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat, tapi juga bagian dari keindahan alam tropis. Di daerah tertentu, sawah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari harga diri.
Semakin luas sawah yang dimiliki, semakin tinggi pula derajat di mata masyarakat. Dari pemahaman ini pula secara sosial menjadi ada jurang yang menganga antara pemilik sawah dan buruh sawah. Namun secara ilmiah, sawah merupakan lahan atau tempat usaha pertanian yang memiliki ciri-ciri permukaannya rata, dibatasi pematang dan tentu saja lahan tersebut bisa ditanami padi dan aneka palawija.
Sawah sebagai tempat bercocok tanam padi, harus memenuhi persyaratan tertentu, di antaranya mampu mempertahankan genangan air. Genangan air ini sangat penting bagi pertumbuhan padi. Terkait dengan kemampuan mempertahankan genangan air ini, akan pula menentukan harga petakan sawah.
Sementara untuk memenuhi persyaratan agar terjadi genangan air pada tanah sawah, petani telah menemukan cara, yaitu bagaimana mengatur irigasi yang baik. Sumber air yang mengisi irigasi ini bisa dari sungai, sumber mata air atau juga menampung air hujan.
Lahan untuk sawah yang ideal tentu saja yang permukaannya rata sehingga akan optimal dalam hal menahan genangan air. Namun demikian, pada kemiringan pun tetap bisa dipergunakan untuk menanam padi, asal sebelumnya dibuat teras-teras. Fungsi teras-teras pada lahan sawah dengan kemiringan tertentu ini, yaitu untuk menahan laju air agar tidak terjadi erosi sehingga bisa mempertahankan genangan. Di beberapa derah di Jawa dan Bali, cukup mudah menemukan sawah dengan sistem terasering ini, terutama yang lahannya terletak di lereng-lereng gunung.
Sawah sebagai bagian dari lingkungan makhluk hidup yang juga melakukan hubungan timbal balik harmonis dengan makhluk hidup lain, merupakan sebuah ekosistem. Dalam ilmu ekologi, dikenal ada tiga jenis ekosistem, yaitu ekosistem darat, air, dan ekosistem buatan. Sawah merupakan contoh dari sebuah ekosistem buatan.
Sawah sebagai Ekosistem Buatan
Sawah dikatakan sebagai ekosistem buatan karena ekosistem ini secara sengaja dan kesadaran penuh diciptakan oleh tangan-tangan manusia, sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan hidup. Energi yang mempengaruhi ekosistem buatan ini berasal dari tanaman, hewan peliharaan dan sumber energi lain.
Sebagai sebuah ekosistem yang dibuat dengan sengaja oleh tangan-tangan manusia, pengaruh paling besar dalam tatanan ekosistem buatan ini tentu saja manusia itu sendiri dengan segala karakter dan kebiasaannya. Sebagai sebuah ekosistem buatan, sawah memiliki keanekaragaman yang rendah, tidak seperti ekosistem air atau darat yang terjadi secara alami seperti sungai dan hutan.
Selain sawah, ada beberapa contoh ekosistem buatan lain, yaitu hutan tanaman produksi yang menanam pohon jati atau yang sejenisnya untuk kepentingan produksi industri, lalu bendungan yang dibuat untuk berbagai kepentingan juga merupakan sebuah ekosistem buatan. Sawah tadah hujan, pemukiman dan ruang angkasa merupakan ekosistem buatan.
Sifat dan Ciri Tanah Sawah
Kalau dilihat dari sifat dan ciri-ciri tanah, sawah yang sudah dipergunakan selama ratusan tahun, pada akhirnya telah menyimpang dari ciri dan karakter tanah sebelumnya. Salah satu sifat tanah sawah yang telah dipergunakan selama ratusan tahun tersebut memperlihatkan strukturnya yang bisa dikatakan hampir kedap air. Hal ini terjadi karena tanah sawah setiap selesai ditanah selalu dibajak sehingga terjadi pemutaran tanah secara terus-menerus.
Daerah yang kedap air pada tanah sawah biasanya terjadi pada kedalaman 10-15 cm dari permukaan tanah. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan sehingga bisa menahan resapan air. Dengan demikian akan terjadi genangan air yang diperlukan untuk pertumbuhan padi.
Di bawah lapisan tanah yang hampir kedap air tersebut terdapat lapisan besi dan mangan dengan ketebalan bisa mencapai 5cm. Lapisan ini juga menjadi sangat bermanfaat karena tidak bisa ditembus oleh akar tanaman semusim seperti padi. Dengan demikian, ketika saat panen selesai, tanaman padi tidak susah untuk dirobohkan dan tanah kemudian dibajak kembali.
Morfologi tanah sawah menurut Hardjowigeno terlihat berwarna pucat tidak seperti tanah darat. Warna pucat ini tak lain karena reduksi logam besi dan mangan sebagai akibat dari selama semusim tanah tersebut tergenang air sawah secara konstan. Dengan demikian, pada lapisan bawah akan terjadi tanah padas sebagai akibat dari reaksi kedua logam tadi. Di bawah lapisan padas adalah lapisan tanah yang sama dengan lapisan tanah di darat yang tidak terpengaruh dengan genangan air sawah selama waktu tertentu.
Kenapa tanah sawah yang tergenangi air dalam waktu tertentu kemudian membentuk lapisan yang kedap air? Menurut Ponnamperuma, dampak dari air tanah sawah yang tergenangi air akan menyebabkan kadar oksigen dalam tanah turun.
Pada saat tanah sawah tergenangi air dalam waktu tertentu, air mulai masuk ke dalam pori-pori tanah mendorong oksigen untuk keluar. Oksigen yang keluar tersebut kemudian digantikan oleh mikroorganisme dan beberapa senyawa metabolit. Dari sinilah kemudian tanah sawah mulai tereduksi dan bila berlangsung dalam kurun waktu lama dan terjadi terus-menerus, maka akan terbentuk lapisan yang kedap air.
Selain penurunan kadar oksigen, pada tanah sawah yang tergenangi air secara terus-menerus, juga akan menyebabkan terjadinya perubahan pH tanah. Perubahan pH ini terjadi karena unsur besi dalam tanah yang tadinya mengandung Fe 3+ berubah menjadi Fe 2+. Kemudian terjadi perubahan asam sulfat menjadi sulfit dan CO2 berubah menjadi gas methan.
Genangan air yang terjadi pada tanah sawah akibat terhalang oleh pematang maupun lapisan bawah tanah yang kedap air, ini sebenarnya sangat menguntungkan. Dengan terjadinya genangan air pada lahan sawah tersebut, secara alamiah akan terjadi perubahan sifat kimia dan biologis tanah.
Tanah sawah yang tergenang juga bermanfaat agar kondisi tanah tidak menjadi cenderung asam akibat terjadinya perubahan kimiawi dan biologis tanah tadi. Akibat genangan air di tanah sawah juga akan mengikat unsur fospor menjadi ferro-fospat yang sangat bermanfaat untuk tanaman baik padi maupun palawija. Akibat genangan air di tanah sawah juga akan terbentuk gas H2S yang bermanfaat untuk menyerap unsur hara tanaman serta mempercepat perkembangan akar tanaman.
Dilihat dari jenis tanah, kebanyakan tanah sawah yang ada di Indonesia merupakan tanah inceptisol, grumosol, entisol dan latosol. Dan hanya sebagian kecil tanah sawah di Indonesia yang merupakan jenis mediteran dan andosol. Dengan memperhatikan morfologi tanah dan adanya perubahan unsur hara tanah akibat genangan air dan perlakuan ketika proses panen, untuk mengembalikan unsur hara tanah yang sangat diperlukan tanaman, pemberian pupuk kandang sangat dianjurkan.
Ada beberapa keistimewaan pemberian pupuk kandang pada tanah sawah. Keistimewaan pertama dari pupuk kandang yaitu mengandung unsur hara makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Untuk jangka waktu lama, pupuk kandung bisa diibaratkan sebagai gudang makanan, sehingga seiring dengan bertambahnya waktu, persediaan itu akan dikeluarkan pada saat tanaman membutuhkannya.
Telah banyak penelitian, penggunaan pupuk kandang untuk lahan sawah? sangat dianjurkan karena pupuk kandang memiliki kemampuan dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga akan semakin baik. Selain itu, dengan sering menggunakan pupuk kandang, tanah pun akan memiliki kemampuan menyimpan air yang terus meningkat. Bahkan menurut Souri, pupuk kandang terbukti memiliki hormon tertentu yang dapat memacu tanaman untuk tumbuh secara sempurna.

