Dua Tipe Penjelasan Sejarah
Sejarah mungkin tidak asing bagi Anda. Dalam bahasa Indonesia, sejarah dapat diartikan sebagai riwayat kejadian masa lalu yang benar-benar terjadi. Dalam pandangan umum, sejarah seringkali diartikan sebagai sebuah informasi mengenai kejadian-kejadian yang erlangsung di waktu lampau.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, sejarah dipelajari dari sekolah dasar hingga perguruaan tinggi. Dengan mempelajari sejarah berati kita mencoba untuk menerjemahkan informasi dan catatan yan pernah dibuat orang per orang, keluarga, kerajaan, hingga peradaban yang pernah terjadi di masa lampau.
Mempelajari sejarah sangatlah menarik karena cerita yang tersaji di dalamnya kadang membuat penasaran, mengerikan, bahkan terkadang menggelikan. Sebagian sejarah membawa kebaikan, sebagian yang lain menimbulkan polemik yang sukar dijelaskan.
Sejarah ditulis atas sebuah kepentingan. Namun, secara umum sejarah dapat dijelaskan. Ya, banyak kalangan yang sudah berusaha memberikan penjelasan sejarah. Penjelasan sejarah adalah usaha yang dilakukan seseorang dengan tujuan agar satu unit sejarah yang akan diungkap dapat dimengerti secara cerdas.
Penjelasan sejarah tersebut memiliki beberapa kaidah yang sangat penting, di antaranya regularity (keteraturan, keajegan, dan konsistensi), generalisasi (memiliki persamaan karakteristik), inferensi statistik dan metode statistik, pembagian waktu dalam sejarah, dan narrative history (cerita masa lalu).
Dalam penjelasan sejarah, kaidah-kaidah yang disebutkan tadi tidak boleh ada yang terlewat, apalagi dengan sengaja disembunyikan untuk menutupi suatu kepentingan yang mungkin akan terungkap. Selain itu, masih ada cara untuk menjelaskan sejarah, yakni dengan cara memilah informasi sejarahnya. Ada beberapa cara untuk memilah informasi sejarah, yakni berdasarkan hal-hal berikut.
- Kurun waktu (kronologis);
- wilayah (geografis);
- negara (nasional);
- kelompok suku bangsa (etnis); dan
- topik/pokok bahasan (topikal).
Sejarah merupakan ilmu yang terbuka, maka sudah menjadi keharusan bagi setiap sejarawan untuk jujur, tidak menyembunyikan data, dan bertanggung jawab terhadap keabsahan data dari setiap penjelasan sejarah yang coba ia ungkap.
Karena keterbukaannya inilah sejarah pun bisa diungkap melalui dua tipe pendekatan utama, yakni pendekatan Causal Explanation dan pendekatan Moral Judgment. Bagaimana kedua tipe pendekatan ini mampu menjelaskan sejarah? Berikut adalah ulasannya.
Sejarah Berdasarkan Causal Explanation
Causal explanation atau sebab akibat adalah suatu jenis penjelasan yang berusaha memberikan jawaban di dalam sejarah terhadap pertanyaan “why something happened?” Metode penjelasan sejarah ini pada dasanya adalah metode yang digunakan dalam menelaah ilmu kealaman yang berusaha untuk mencari sebab dari sesuatu yang mungkin terjadi.
Lebih dari itu, metode penjelasan sejarah ini bertujuan untuk mencari hukum umum (universal) yang terjadi dengan aktivitas alam semesta. Misalnya, air yang dipanaskan dalam suhu 100 derajat Celcius akan mendidih. Fenomena ini akan berlaku kapan pun dan di mana pun.
Atau, pada siang hari angin di laut bertiup sangat kencang, kemudian peneliti sejarah menyimpulan akan terjadi badai. Proses penyimpulan ini merupakan bentuk pengetahuan yang diperolehnya dari fakta-fakta masa lalu yang serupa.
Dengan pendekatan sejarah tipe causal explanation, manusia diperlakukan sama halnya dengan gejala alam. Mereka yang mempercayai penjelasan ini berpendapat bahwa setiap manusia memiliki gerak yang determinis. Oleh karenanya, perilaku manusia dapat diamati dan diprediksi secara tepat.
Salah satu sejarawan yang mendukung gagasan ini adalah Carl G. Hempel. Menurut Hempel, penjelasan dalam semua bidang ilmu sama. Lebih lanjut dikatakan bahwa kejadian sejarah bukan suatu kebetulan melainkan sudah diharapkan terjadi mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Harapan terjadinya peristiwa bukannya ramalan, tetapi melalui asumsi-asumsi hukum-hukum umum.
Salah satu pandangan sejarah yang bisa kita gunakan sebagai contoh dari causal explanation adalah mengenai keruntuhan kapitalisme yang diprediksi oleh kaum Marxis.
Menurut pendapat Marxisme--khususnya yang berhaluan ortodoks--dengan semakin berkembangnya kapitalisme yang menyebabkan jurang kemiskinan dan perbedaan kelas membesar, maka revolusi tidak akan terelakan. Hal ini akan terjadi tanpa gerakan buruh sekalipun.
Atau, misalanya di dalam sejarah peperangan, salah satu negara kalah karena angkatan daratnya lemah. Maka, ketika ada suatu negara yang kalah dalam berperang, sejarawan tidak melepaskan proposisi awal mengenai lemahnya angkatan darat.
Di dalam tipe penjelasan sejarah causal explanation, moral tidak diberi tempat. Bagi mereka, sejarah bukan untuk melukiskan mengenai moral manusia, tetapi hanya bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau.
Penulisan sejarah dalam hal ini yang ditujukan untuk memberikan metode instrumental dalam menelaah masa lampau sehingga dapat memperoleh kebenaran mengenai masa lampau, dan dalam penulisannya seorang sejarawan tidak memiliki kewajiban dalam melakukan penyimpulan moral
Sejarah Berdasarkan Moral Judgment
Penjelasan sejarah yang kedua ini adalah suatu jenis penjelasan yang berusaha memberikan jawaban terhadap masalah tentang “how to evaluate what happened?”.
Kata “evaluate” pada dasarnya sudah membawa sebuah pesan bahwa dalam fakta sejarah masa lampau ada sesuatu yang harus dinilai. Proses penilaian ini tentu tidak lepas dari subjektivitas si penulis sejarah. Kembali lagi di sini tujuan menjadi patokan utama seseorang dalam melukiskan sejarah.
Collingwood (1889–1943) dalam hal ini menekankan bahwa sejarah bukan hanya unik dan tidak terulang--juga sejarawan tidak perlu menjelaskan gejala alam--melainkan ia harus menjelaskan tindakan manusia bebas yang melakukan tindakan sesuai dengan pikirannya.
Dengan tipe penjelasan sejarah moral judgement, kita bukan hanya mendapatkan informasi mengenai sejarah masa lalu, tetapi kita pun mendapatkan interpretasi sejarah masa lalu itu untuk kepentingan kita masa kini.
Tak lepas juga bahwa dengan penjelasan sejarah ini kita dapat mengetahui apa motif seseorang dalam menulis sejarah. Misalnya, dalam buku-buku sejarah produk Orde Baru, penulisan sejarah perjuangan bangsa Indonesia lebih banyak diisi oleh cerita-cerita pertempuran bersenjata.
Memang, sejarah mengenai perjuangan diplomasi pun dapat kita temukan. Akan tetapi, Orde Baru telihat dominan menekankan sejarah pada cerita pertempuran karena penguasa Orde Baru tidak lain adalah penguasaa yang ditopang oleh kekuatan militer. Sejarah dengan demikian dapat dipandang sebagai alat legitimasi dan pencitraan kekuasaan.
Moral judgment pada intinya tidak ingin melewatkan aspek kemanusiaan di dalam penulisan dan analisis fakta sejarah. Karena sejarah dunia adalah sejarah manusia, maka manfaat penulisan sejarah bagi manusia pun tidak bisa dikesampingkan.
Dalam posisi ini, pendapat Carl G. Hempel yang menyebutkan bahwa sejarah hanya untuk menceritakan fakta masa lalu, dibantah. Apakah kita hanya mendapatkan fakta semata dalam penulisan sejarah? Lalu, apa gunanya fakta itu jika tidak kita nilai?
Atau, apakah kita akan membiarkan begitu saja pembantaian yang dilakukan oleh Hitler terhadap orang Yahudi? Hanya dipandang sebagai fakta masa lampau, lalu diceritakan kembali kepada anak cucu layaknya sebuah dongeng sebelum tidur?
Para penganut moral judgment tidak akan membiarkan fakta begitu saja ditampilkan. Mereka akan melakuan penilaian moral mengenai apa yang terjadi di masa lalu agar kita yang ada di masa sekarang ini bisa mengambil pelajaran dari sejarah yang telah terjadi.







