Sejarah Islam Dunia: Andalusia

Pembahasan mengenai sejarah islam dunia kali ini akan diawali dari Andalusia. Islam masuk ke Andalusia pada abad ke 8 M, yaitu ketika Thariq bin Ziyad mulai masuk ke daratan Romawi. Hal ini bermula ketika Thariq melakukan ekspansi ke daratan Eropa yang pada saat itu masih dikuasai oleh Romawi.
Kisah tentang ekspansi itu begitu heroik, musuh-musuh takluk dan terbunuh, semua tentara musuh dijadikan tawanan perang. Bahkan pada saat itu, tentara Islam mampu menguasai tiga Negara; Spanyol, Perancis, dan Portugal.
Tawanan perang yang biasanya dibunuh setelah peperangan usai tidak mereka eksekusi, melainkan mereka manfaatkan. Tentara-tentara tawanan perang itu disuruh mengajari tentara Thariq bin Ziyad untuk baca tulis huruf latin ataupun bahasa setempat.
Itulah alasan utama mengapa Islam begitu berkembang sangat pesat di Andalusia. Thariq bin Ziyad kemudian memerintahkan untuk membangun kota dan menata kota sebagaimana yang dilakukan oleh tentara yang sudah merebut daratan musuh.
Bangunan-bangunan lama dihancurkan, barulah kemudian dibangun kota, gedung-gedung berarsitektur megah dengan sentuhan khas Timur Tengah, keindahan arsitektur bangunan-bangunan tua itu yang merupakan implementasi dari pemikiran-pemikiran filosofis pada masa kejayaan Andalusia beberapa abad silam.
Kemudian, Islam melakukan perluasan wilayah ke pelosok-pelosok negeri. Seperti telah disebutkan di atas, akhirnya daratan kekuasaan Andalusia mampu menduduki tiga Negara; Spanyol, Perancis, dan Portugal.
Di masa kejayaannya, banyak sekali pemikir Islam atau pun para filsuf yang kemudian muncul dari Andalusia, di antaranya Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Sab’in, dan lain sebagainya. Bahkan, Ibnu Rusyd (Averroes) diakui sebagai filsuf akademi Athena, tentu saja karena pemikiran beliau dalam bidang paripatetik.
Andalusia saat ini, sangat berbeda dengan masa kejayaannya dahulu kala. Saat ini Andalusia hanyalah sebuah propinsi di daratan selatan Spanyol, kota-kota yang dahulu berada di bawah kekuasaan Andalusia telah lama memisahkan diri dan merdeka, mesjid-mesjid dengan arsitektur megah nan indah kini beralih fungsi menjadi museum, bahkan menjadi gereja.
Peninggalan masa kejayaan memang masih bisa kita nikmati, gedung-gedung tua masih tertata rapi, istana Al-Hamra yang melegenda juga masih utuh keberadaannya, pijar-pijar pemikiran para ilmuwan Andalusia juga bisa sampai pada kita. Namun, sepertinya semua hal tersebut terasa kurang sempurna. Apa pasal?
Andalusia kini telah jauh berbeda dengan masa kejayaannya, gairah keilmuan yang dibangun pada masa lalu seakan tak berbekas (hal ini saya simpulkan karena tidak adanya ilmuwan generasi penerus yang bisa disejajarkan dengan para ilmuwan pada masa kejayaan Andalusia di abad ke delapan masehi), kejayaan Islam di Eropa kini semakin pudar bahkan tenggelam.






