Sejarah Museum Dirgantara di Indonesia
Ilustrasi sejarah museum dirgantara
Perkembangan dunia penerbangan di Indonesia tidak hanya dilihat dari perkembangan kemampuan kedirgantaraan militer, tapi juga sipil. Bukankah Indonesia pernah sangat mengagumi keberadaan perusahaan pembuat kapal terbang yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia? Untuk menelusuri hal tersebutlah maka melakukan napak tilas sejarah museum dirgantara akan sangat menarik apalagi bila melakukan kunjungan ke kedua tempat berikut. Pastinya akan semakin menarik dan menyenangkan.
Sejarah Museum Dirgantara - Museum Dirgantara Mandala
Museum ini terletak di Yogyakarta, tepatnya di sisi utara kabupaten Bantul. Museum ini berbatasan dengan kabupaten Sleman, yakni di kawasan kompleks pangkalan udara TNI AU Adisucipto Yogyakarta. Tak terlalu mengherankan mengapa museum ini didirikan di Yogyakarta. Selain kota Yogyakarta dipandang sebagai kota perjuangan, Akademi AURI juga ada di Yogyakarta. Untuk lebih memberikan pelajaran sejarah kedirgantaraan juga sebagai upaya mewariskan semangat juang kepada generasi yang akan datang.
Inilah salah satu pertimbangan penggabungan dua buah museum AURI - Museum Pusat TNI AU Roesmin Nuryadin di Jakarta yang diresmikan pada tanggal 4 April 1969 dan Museum pendidikan/ karbol Yogyakarta. Penggabungan tersebut setelah KASAU mengeluarkan Surat Keputusan No. Kep/II’IV/1978 tanggal 17 April 1978 yang menetapkan bahwa Museum Pusat AURI yang semula berkedudukan di Jakarta, dipindahkan ke Yogyakarta.
Meskipun letaknya tersembunyi di dalam kompleks TNI AU, museum ini mudah diakses. Dari Jalan utama Janti Yogyakarta, Anda hanya perlu melaju hingga 200 meter. Jalan tersebut juga jalan yang cukup ramai dan dilewati kendaraan umum, sehingga para pengunjung tidak perlu khawatir jika tidak membawa kendaraan pribadi. Dengan area seluas lima hektar dan bangunan seluas 7.600 m2, museum Dirgantara Mandala merupakan museum dirgantara yang paling lengkap di seantero Indonesia.
Sejarah Museum Dirgantara - Koleksi Museum Dirgantara Mandala
Tak mungkin sebuah museum dirgantara tak memiliki koleksi pesawat. Maka bila pengunjung ingin melihat beragam pesawat model lama maupun baru yang berkaitan terutama dengan pesawat militer, datanglah ke ruang koleksi pesawat. Setelah itu, untuk mengetahui lebih jauh tentang sejarah TNI AU, datanglah ke ruang Utama yang banyak menampilkan gambar, lambang-lambang, foto-foto, patung-patung dan informasi yang ditampilkan secara kronologis, dan lain sebagainya.
Selain itu, museum ini juga memiliki koleksi diorama, senjata api, senjata tajam, radar, parasut, dan benda-benda kemiliteran lainnya. Berkunjung ke museum ini baik untuk mengetahui jasa TNI dan memahami sejarah museum dirgantara nusantara. Koleksi benda bersejarah di museum ini diletakkan di ruangan-ruangan berbeda.
Sejarah Museum Dirgantara – Ruangan-Ruangan di Dalam Museum
Secara keseluruhan, gedung museum dirgantara di Yogyakarta ini memiliki 6 ruangan besar. Keenam ruangan tersebut adalah ruang utama, ruang alutsista, ruang kronologi I dan II, ruang diorama, ruang paskhas, dan ruang minat dirgantara. Inilah beberapa di antaranya:
1. Ruang utama
Ruangan ini memiliki beberapa koleksi foto mantan pemimpin TNI AU, seperti Laksamana Udara Suryadi (kepala staf TNI AU di tahun 1946 – 1962), Laksamana Muda Udara Sri Muljono Herlambang (menteri panglima angkatan udara di tahun 1965 – 1966), Laksamana Udara Omar Dani (menteri panglima angkatan udara di tahun 1962 – 1965), Laksamana Muda Udara Roesmin Nurjadin (menteri panglima angkatan udara di tahun 1966 – 1969), Marsekal TNI Saleh Basarah (kepala staf TNI AU di tahun 1973 – 1976).
Tidak hanya koleksi foto para tokoh TNI Angkatan Udara, di ruangan utama ini Anda juga bisa melihat koleksi berbagai lambang dan motto koprs TNI AU. Beberapa di antaranya adalah lambang TNI AU yang disebut “Swa Bhuwana” (artinya “sayap tanah air”), motto Pataka Komando Operasi TNI AU (Koopsai) yang berbunyi “Abhibuti Antarikhse” (artinya “keunggulan di udara adalah tujuan utama”), motto Komando Panduan Tempur Udara (Kopatdara) yang berbunyi “Nitya Smakta Maarwati Sarwabaya” (artinya “senantiasa siaga bertindak terhadap segala ancaman bahaya”), dan motto Pataka Komando Pertahanan Udara (Kohadud) yang berbunyi “Surakhsita Nabhastata” (artinya “udara yang dipertahankan dengan baik”).
2. Ruang kronologi I dan II
Jika ingin melihat-lihat diorama sejarah serta dokumen-dokumen dari masa proklamasi kemerdekaan, pendirian AURI, peristiwa serangan udara pertama di wilayah Semarang – Salatiga – Ambarawa, operasi militer penumpasan PKI di Madiun, operasi lintas udara, pembentukan Skadron AURI di tahun 1950, penumpasan gerakan DI/TII-PRRI, operasi non-militer dari TNI AU, dan operasi-operasi lainnya, masukilah ruangan ini.
3. Ruang alutsista
Sesuai namanya, di ruangan ini Anda bisa melihat-lihat koleksi peralatan tempur milik TNI AU. Beberapa jenis peralatan tempur yang bisa Anda jumpai adalah senjata penangkis serangan udara, rudal anti-pesawat, dan berbagai jenis senapan yang digunakan untuk menumpas penjajah Belanda. Anda juga bisa melihat pesawat-pesawat.
Jika ingin mencoba menaiki pesawat-pesawat tersebut, silakan saja. Setiap pengunjung diperbolehkan duduk di pesawat untuk mengamati lebih dekat teknologi pesawat tempur di masa lalu. Pesawat-pesawat yang berada di museum ini adalah pesawat jenis TU-16, PBY-5A Catalina, UF 1 Albatros IR-0117. Ketiga pesawat tersebut memiliki nilai sejarah tersendiri terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.
4. Ruang diorama
Ruangan diorama dipenuhi berbagai jenis diorama, dari diorama pesawat sampai diorama peristiwa-peristiwa bersejarah. Beberapa diorama yang bisa Anda lihat di ruangan ini adalah diorama peristiwa 29 Juli 1947, diorama penerbangan pertama pesawat merah putih, diorama pasca-penerbangan pesawat merah putih, serta diorama satelit palapa.
Sejarah Museum Dirgantara - Makna lambang dan motto
Menarik untuk mempelajari lambang dan motto yang ada di dunia TNI AU. Selain lambang dan motto tersebut mempunyai makna sakral, bahasa yang dipakai adalah bahasa Sansekerta yang terkesan begitu luhur. Swa Bhuwana Paksa adalah lambang TNI AU yang artinya Sayap Tanah Air. Sedangkan Pataka Komando Operasi TNI AU mempunyai motto ‘Abhibuti Antarikshe’yang artinya keunggulan di udara adalah tujuan di udara. Pataka Komando tempur juga mempunyai motto sendiri, yaitu ‘Nitya Samakta Maawarti Sarwabaya’ yang mengandung arti bahwa TNI AU senantiasa siaga bertindak terhadap segala ancaman bahaya.
Pataka Komando Pertahanan Udara mempunyai motto ‘Suraksita Nabhastala’ yang artinya udara yang dipertahankan dengan baik. Pataka Kodau I mempunyai motto ‘Sonya Gati Gatra Ghuwana’ yang artinya tanpa menghitung untung-rugi, tanpa pamrih dalam menjalankan tugas dan kewajiban pembinaan wilayah. Pataka Kodau III mempunyai motto ‘Wira Dharma Bhakti' yang artinya dengan semangat dan jiwa kepahlawanan kita tunaikan kewajiban kita terhadap negara dan masih ada motto yang lainnya.
Sejarah Museum Dirgantara - Museum Dirgantara Bandung
Sejarah pendirian pendirian Museum Dirgantara Bandung selain terkait dengan keberadaan PT Dirgantara Indonesia juga karena Bandung mempunyai beberapa program pendidikan yang berhubungan dengan penerbangan, di antaranya adalah Jurusan Teknik Penerbangan Fakultas Industri ITB dan Akademi Teknik Aeronautika.
Museum yang didirikan dengan mempertimbangkan interior dan eksterior yang baik ini memuat sejarah perkembangan pesawat sipil dan tentunya sejarah pembentukan pabrik pembuat pesawat terbang, IPTN, hingga berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia. Juga pesawat N-250 yang menjadi bukti bahwa Indonesia cukup mampu dalam penguasaan teknologi. Sejarah penerbangan ini tak lepas dari sang maestro pesawat Indonesia, BJ. Habibie. Sejarah museum dirgantara dan sejarah penerbangan militer Indonesia merupakan salah satu bagian kisah bangsa yang sebaiknya tidak dilupakan begitu saja.

