Sejarah Thailand, Negeri yang Tak Pernah Dijajah
Thailand adalah penamaan Inggris untuk sebuah negara kerajaan di Asia Tenggara yang berbatasan langsung dengan Laos, Kamboja, Malaysia, dan Myanmar. Menurut bahasa aslinya, namanya Muang Thai. Negara ini juga pernah dinamakan Siam. Ibu kotanya Bangkok.
Penduduknya pada 2010 diperkirakan sekitar 70 juta jiwa, dengan luas daratannya lebih dari setengah juta kilometer persegi. Rajanya bernama Bhumibol Adulyadej, yang berkuasa sejak 9 Juni 1946.
Ayutthaya
Kawasan Thailand sudah dihuni manusia sejak zaman paleolitikum, yaitu sekitar 10 ribu tahun lalu. Seperti negara lain di Asia Tenggara, Thailand menerima pengaruh kuat dari budaya dan agama di India, yang masuk ke Thailand sejak zaman Kerajaan Funan pada abad pertama Masehi.
Setelah kejatuhan Kerajaan Khmer pada abad ke-13, berbagai negara tumbuh di sana, sebut saja di antaranya Tai, Mon, dan Melayu, seperti bisa dilihat dari situs-situs arkeologi dan artefak yang bertebaran di sana.
Namun negara pertama yang dianggap sebagai cikal bakal Thailand adalah Sukhothai, sebuah negara Buddha yang berdiri pada 1238. Namun, satu abad kemudian, kekuasaan Sukhothai meredup dan muncul Kerajaan Ayutthaya sebagai negara terkuat di kawasan itu.
Kekuasaan Kerajaan Ayutthaya berpusat di Menam, sedangkan di lembah utara Kerajaan Lanna dan sejumlah kerajaan-kota kecil lainnya menguasai wilayah itu. Pada 1431, Khmer meninggalkan Angkor setelah kekuatan Ayutthaya menyerang kota itu.
Ayutthaya menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia dengan menjalin kerja sama niaga dengan Cina, India, Persia, dan Arab. Para pedagang Eropa tiba di kawasan itu pada abad ke-16, dimulai dengan Portugis, diikuti Prancis, Belanda, dan Inggris.
Buffer
Setelah kejatuhan Ayutthaya pada 1767 di tangan Burma, Raja Taksin yang Agung memindahkan ibu kota Thailand ke Thonburi selama 15 tahun. Era Rattanakosin pun dimulai pada 1782, mengikuti mantapnya Bangkok sebagai ibu kota Dinasti Chakri di bawah kekuasaan Raja Rama I yang Agung. Seperempat sampai sepertiga penduduk di wilayah Thailand adalah budak.
Meski mendapat tekanan terus dari bangsa Eropa, Thailand adalah satu-satunya bangsa di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Ada dua alasan mengapa Thailand tetap merdeka.
Pertama, Thailand memiliki sistem suksesi yang mantap pada abad ke-19. Kedua, Thailand mampu mengeksploitasi persaingan dan ketegangan antara Indocina Prancis dan Kerajaan Inggris. Hasilnya, Thailand menjadi negara buffer antara berbagai negara di Asia Tenggara yang dijajah dua kekuatan, Inggris dan Prancis.
Meski begitu, akibat berbagai kesepakatan menjelang akhir abad ke-19, lama-lama wilayah kekuasaan Thailand digerogoti juga. Sisi timur Mekong jatuh ke tangan Prancis, sedangkan Shan (sekarang Burma) dan Semenanjung Malaya jatuh ke tangan Inggris.
Kudeta
Pada 1932, sebuah revolusi tak berdarah oleh kelompok militer dan para pejabat sipil yang dipimpin Khana Ratsadon menghasilkan transisi kekuasaan, yakni Raja Prajadhipok dipaksa mengabulkan keinginan rakyat Siam untuk membuat konstitusi, yang mengakhiri monarki absolut selama berabad-abad.
Pada Perang Dunia II, Thailand “membantu” Jepang melawan sekutu. Tapi seusai perang, Thailand menjadi sekutu Amerika Serikat. Seperti kebanyakan negara berkembang lainnya selama Perang Dingin, Thailand selalu dirongrong oleh ketidakstabilan politik yang ditandai kudeta demi kudeta oleh militer. Hal itu bahkan masih berlangsung hingga tahun-tahun terakhir.






