Ketika Memilih Sekolah dari Rumah

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tapi harus kita bahwa bermain ala mereka adalah sebuah proses pembelajaran. Sebagai orang tua, kita pun hendaknya yakin bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan dasar dari setiap orang.
Proses belajar anak awalnya dilakukan dengan caranya sendiri, sehingga belajar menjadi proses yang menyenangkan. Yang kemudian merusak keadaaan adalah campur tangan dari orang dewasa secara tidak tepat. Muncul banyaknya aturan dan upaya mengontrol yang dirasakan mengganggu kesenangan belajar si anak.
Proses belajar memang mempunyai tujuan yaitu sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Artinya, melalui proses belajar, diharapkan anak dapat mengembangkan potensi dirinya, berkarakter positif dan mempunyai nilai-nilai moral dan keimanan serta memiliki keterampilan untuk bekal hidupnya kelak. Sungguh tujuan yang mulia. Namun pada pelaksaannannya apakah semua hal itu dapat tercapai ?
Kenapa Homeschooling?
Para orang tua mulai melirik pendidikan model sekolah rumah atau homeschooling tentu dengan dasar pemikiran khusus. Diantaranya kekecewaan yang muncul saat melihat kondisi proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah-sekolah pada umumnya.
Anak-anak dipacu sekadar untuk mendapatkan nilai raport yang tinggi. Akibatnya banyak yang berusaha dengan berbagai cara, mencontek misalnya. Artinya, pendidikan moral mereka mulai diabaikan.
Pengembangan potensi anak juga kurang terperhatikan. Yang ada, sekolah terpacu untuk segera menyelesaikan penyampaian bahan ajar sesuai target, entah anak paham atau tidak, apakah anak tertarik atau tidak.
Pihak sekolah tidak sempat lagi memperhatikan faktor internal dalam diri anak. Padahal faktor itu sangat menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Apa artinya belajar jika anak tidak merasa senang? Yang terjadi adalah pemborosan energi dan waktu.
Oleh sebab itu, beberapa orang tua mulai berinisitif menarik anak-anaknya dari sekolah umum menjadi sekolah rumah atau home based learning. Mereka yakin dengan proses belajar sekolah mandiri ini tujuan pendidikan yang sesungguhnya akan dapat tercapai. Kualitas iman, moral dan karakter anak akan terjaga dan terasah tanpa terkontaminasi oleh pihak lain.
Syarat untuk Ber-homeschooling
Mengambil keputusan homeschooling ini tidak bisa sembarangan. Beberapa faktor penting harus ada, yaitu :
1. Totalitas waktu dari orang tua harus benar-benar untuk proses belajar anak di rumah. Ini perlu komitemen yang kuat. Selain orang tua, bisa saja menggunakan tenaga tutor. Tapi, tetap orang tua adalah guru yang utama.
2. Mencari materi bahan ajar. Bisa berbasis pada homeschooler yang ada di luar negeri sehingga diakui sebagai lulusan dari sana, karena standar itu yang diikuti. Meski demikian, di Indonesia pun sudah banyak Homescooler yang hasil ujiannya diakui (program KEJAR paket A, B, atau C). materi bahan ajar bisa dicari lewat internet disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
3. Komitmen yang jelas antara anak dan orang tua, sehingga didapat waktu belajar yang efektif.
4. Wawasan yang luas dari orang tua. Sebab, tanggung jawab pendidikan sepenuhnya di tangan orang tua, berarti orang tua harus mau banyak belajar sebelum mengajarkan pada anak.
5. Kreatif dalam proses pembelajaran seperti mengunjungi perpustakaan, museum, lembaga penelitian, stasiun, taman, panti sosial, rumah sakit, kantor polisi, mal, pabrik, sawah, kebun, dan sarana audiovisual.
6. Aktif mencari dan ikut serta dalam kegiatan sesama homeschooler, sehingga mendapat banyak pengayaan, juga anak akan terbiasa bersosialasi dan bekerja dalam kelompok.
Banyak pro dan kontra tentang homeschooling. Namun, tujuan dari setiap orang tua tentu saja sama yaitu ingin menghantarkan anak-anaknya mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.
Namun sebagai alternatif, jika para orang tua menemukan ketidaknyamanan dalam sebuah sekolah anak-anaknya, mungkin kita bisa mencoba mencari sekolah lain yang lebih nyaman dan menyenangkan (biasanya sekolah swasta) yang sangat peduli dengan pembentukan ahlak, karakter dan nilai-nilai moral pada anak didiknya ketimbang nilai-nilai akademis belaka yang tidak bisa bicara apa-apa.
Sekolah ini semi homeschooling, punya program pembelajaran yang jelas dan sangat menomorsatukan, bahwa sekolah itu harus menyenangkan.






