Seleksi Karyawan: Belum Kerja Sudah Melelahkan

Sumber daya manusia berkualitas merupakan jaminan keberhasilan sebuah perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan sering mengadakan seleksi karyawan sebagai sarana menjaring tenaga kerja baru. Setiap perusahaan tentu memiliki standar kompetensi tersendiri dalam melakukan tahap seleksi.
Seleksi karyawan merupakan syarat mutlak yang harus dilalui seorang pencari kerja. Hal ini dilakukan sebagai ajang pembuktian kelayakan seseorang untuk menjadi bagian dari perusahaan. Seorang calon tenaga kerja yang lolos seleksi karena dianggap memiliki keahlian sesuai bidang yang dibutuhkan akan diterima menjadi karyawan.
Benarkah Kompetensi Masih Berlaku?
Kegiatan seleksi karyawan tidak selamanya menghasilkan tenaga kerja berkualitas. Tidak jarang perusahaan yang mendapati kegagalan dalam proses seleksi karyawannya. Kegagalan ini bisa ditentukan ketika seorang karyawan baru memiliki kinerja di bawah standar kompetensi yang ditetapkan perusahaan.
Hal itu diduga akibat adanya sebuah kesalahan dalam proses seleksi. Kesalahan tersebut tentu saja bermacam-macam. Berikut ini merupakan tiga hal yang mengakibatkan kegagalan seleksi karyawan.
- Seleksi tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau perusahaan, misalnya menyesuaikan dengan strategi maupun tujuan perusahaan, rancangan pekerjaan, serta penilaian kinerja karyawan bersangkutan.
- Seleksi dilakukan dengan cara parsial. Keputusan untuk menerima seorang karyawan tidak berdasarkan standar kompetensi yang dibutuhkan, tetapi berdasarkan insting maupun persepsi pihak penyeleksi. Bahkan, bukan hal tidak mungkin keputusan hasil seleksi dilakukan berdasarkan besarnya uang pelicin serta adanya hubungan kekeluargaan dengan pihak penyeleksi, nepotisme.
- Seleksi dilakukan tanpa perencanaan matang dan mengarah pada sasaran yang dimaksud perusahaan. Oleh sebab itu, seleksi karyawan harus benar-benar dilakukan berdasarkan tingkat kompetensi calon karyawan. Dengan demikian, karyawan berkompetensi akan menjunjung tinggi profesionalisme kerja.
Susahnya Jadi Karyawan
Menjadi karyawan sebuah perusahaan bukanlah hal mudah yang dapat diprediksi dan dilakukan berdasarkan suka atau tidak suka. Semuanya adalah soal seleksi alam dan tentu saja faktor keberuntungan yang menyertai seseorang. Setiap perusahaan biasanya menentukan syarat-syarat khusus bagi calon karyawannya.
Menyesuaikan kemampuan dan bidang ilmu yang dikuasai dengan syarat-syarat perusahaan saja bukanlah hal gampang. Terlebih, mencari pekerjaan kini sama susahnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sebelum menemukan jarum itu, pencari sudah kepalang lelah. Bahkan, jika sedang sial, bisa-bisa “tertusuk” jarum.
Candradimuka Dunia Kerja
Dalam sebuah proses yang dinamakan “seleksi karyawan” ini, seseorang dituntut mempersiapkan segala kekuatan terbaiknya untuk menghadapi berbagai tahap yang harus dilalui. Proses ini menguras segala hal yang tentu melelahkan, tenaga, otak, emosi, dan yang selalu jadi nomor wahid tentu saja materi. UANG.
Ya. Zaman sekarang, mencari uang harus dengan uang. Memancing ikan harus pakai ikan. Sistem jemput bola tengah gencar beredar. Aneh memang, namun itulah faktanya. Selain melewati berbagai tahap seleksi, urusan uang selalu jadi tokoh sentral. Kesampingkan masalah “suap”. Ini menyangkut proses seleksi normal saja.
Untuk melakukan serangkaian tahap seleksi, tentu saja seseorang harus bolak-balik mengunjungi tempat seleksi dengan sejumlah uang yang dipakai untuk ongkos jalan atau transportasi. Belum lagi, uang harus dikeluarkan untuk membeli seperangkat pakaian dan sepatu ”seleksi” yang biasanya ditentukan perusahaan.
Biasanya, seleksi dimulai dengan tes tertulis tahap satu, tahap dua. Bahkan, tahap tiga. Kemudian, tahap psikotes, wawancara, tes kesehatan, dan sebagainya. Serangkaian tahap itu belum menjamin seseorang akan diterima kerja. Dengan demikian, seleksi karyawan sama lelahnya dengan seleksi militer. Belum kerja saja sudah melelahkan.






