Senter
Bila Anda sering bepergian ke berbagai kota menggunakan angkutan bus ataupun kereta api, Anda tentu pernah bertemu dengan pedagang yang menjajakan berbagai produk perlengkapan. Seperti mainan anak, atlas, kalkulator, hingga senter. Kadang dengan uang sepuluh ribu rupiah kita akan mendapatkan beberapa barang tersebut yang telah terbungkus dalam satu paket.
Ragam Bentuk
Senter atau sentolop merupakan salah satu perlengkapan yang terbilang banyak dibutuhkan orang. Apalagi saat malam hari dimana belakangan listrik di rumah sering mengalami giliran alias mati secara bergantian, menjadikan alat ini sering dibutuhkan dan menjadi alat penting yang mesti ada dalam setiap rumah tangga.
Bahkan hanya gara-gara alat ini berpindah tempat atau habis baterenya, tak jarang membuat orang tua marah dan uring-uringan terhadap anaknya yang suka memainkannya. Karena itulah produk jenis alat penerangan ini sangat banyak ragam bentuk dan ukurannya. Bahkan begitu penting dan dibutuhkanya alat ini, mendorong produsen berkreasi menghasilkan berbagai bentuk, ukuran, dan fungsi yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan konsumennya.
Ada yang berbentuk kecil dengan kemampuan menyorotkan sinar yang terbatas. Ada pula yang berbentuk besar dengan ukuran dop senter besar pula sehingga mampu menghasilkan cahaya yang lebih terang dan jelas. Ada yang menggunakan batere biasa dan habis buang, dan ada pula bentuk sentolop yang baterenya bisa diisi ulang atau recharge.
Anda tentu pernah mengenal bentuk senter atau sentolop standar berwarna silver yang sering kita jumpai dan banyak digunakan oleh para orang tua dan kakek. Bentuk sentolop seperti ini juga jamak kita temukan dan banyak digunakan oleh masyarakat di pedesaan yang saat itu jauh dari penerangan listrik.
Fitur Ponsel
Teknologi lampu senter yang menggunakan batere sebagai energi cadangan, belakangan juga mendorong lahirnya berbagai bentuk lampu penerang yang lebih fungsional. Diantaranya kita tentu mengenal lampu neon yang justru menyala bila tenaga dari listrik mati. Begitu juga ada bentuk lampu petromak yang untuk menyalakannya bukan dengan sarung lampu yang dipompa melainkan dengan batere penyimpanan.
Besarnya manfaat senter dalam kehidupan kita dan besarnya permintaan pasar terhadap alat kelengkapan ini ternyata juga ditangkap para produsen telepon genggam atau handphone. Anda tentu tahu atau bahkan pernah membeli handphone yang dilengkapi dengan fasilitas alat penerang ini di dalamnya. Bahkan salah satu jenis handphone terbaru yang diproduksi merek terkenal semacam Nokia juga dilengkapi dengan fasilitas tersebut.
Begitu juga sejumlah telepon seluler atau ponsel buatan China yang banyak membanjiri pasar dalam negeri, ada juga yang dilengkapi dengan fasilitas senter. Tampaknya fasilitas lampu penerang ini terbilang vital dan setara kegunaannya dengan fitur lainnya yang banyak dibenamkan dalam ponsel, seperti radio, mp3, kamera, video, dan sebagainya.
Sejarah Lahirnya Senter
Sebelum senter ditemukan, sebelumnya sudah ada alat lain yang fungsinya sama, yaitu sebagai penerang. Tahukah Anda bagaimana sejarah terciptanya senter? Apabila Anda belum tahu dan ingin tahu, silahkan baca sejarahnya di bawah ini.
Sebelum adanya senter, sumber cahaya yang pertama kali ditemukan dan digunakan adalah lilin dan obor. Setelah itu, fungsi kedua benda tersebut digantikan oleh lentera. Kemudian sejarah berkembang hingga abad ke-19 saat listrik mulai mengganti peran lilin, obor, serta lentera.
Bisa dibilang banyak sekali kaitan penemuan senter dengan penemuan-penemuan sebelumnya. Penemuan yang dimaksud adalah lampu dan baterai sel kering. Baterai sel kering pertama kali dikenalkan pada tahun 1898 oleh National Carbon Company.
Baterai jenis baru ini menggunakan elektrolit berbentuk pasta, berbeda dengan baterai sebelumnya yang berbentuk cairan. Sebelum baterai ditemukan, seorang ilmuwan terkenal, Thomas Alva Edison menemukan lampu pijar pada tahun 1879. Nah, dua penemuan itulah yang menjadi awal ide pembuatan senter yang juga terdiri atas gabungan lampu dan baterai.
Senter pertama kali diperkenalkan dan dijual pada tahun 1898. Perusahaan yang menjualnya adalah perusahaan yang dimiliki oleh Conrad Hubert. Oleh karena potensinya sangat bagus dalam mengembangkan salahs atu alat teknologi ini, dia memekerjakan penemu yang berasal dari Inggris.
Penemu yang bernama David Misell tersebut sebelumnya memiliki hak paten atas penemuan lampu elektonik portabel serta lampu untuk sepeda. Berkat bakatnya itu, David menemukan banyak kemajuan pada alat pencahayaan. Senter pertama kali dipatenkan olehnya pada tanggal 10 Januari 1899.
Senter yang pertama diciptakan tersebut adalah buatan tangan. Bahan yang digunakan adalah kertas merah, tabung serat, lampu bohlam, dan reflektor kuningan kasar. Akhirnya mereka berdua membuat senter berbentuk tabung dan membagi-bagikannya kepada polisi di New York. Ternyata usaha mereka mendapat apresiasi yang baik dair para polisi.
Setelah David Misell mematenkan senter pertama, Hubert juga mendapat hak paten untuk senter pada tahun 1905. Senter ini lebih modern karena dilengkapi dengan saklar on/off dan berbentuk silindris yang di dalamnya ada komponen lampu dan beterai. Nah, itulah senter yang kita kenal hingga sekarang. Oh iya, senter tersebut dipamerkan pertama kali di Madison Square Garden dalam pameran elektrik.
Desain senter sekarang paling umum adalah senter berbentuk tabung tadi namun ditambah pegangan. Lampu tersebut digunakan untuk keperluan rumah tangga, pegangan tersebut ditempelkan di rakitan yang berguna untuk menutupi bohlam.
Selain senter yang sederhana, untuk keperluan khusus materialnya pasti berbeda. Perbedaannya ada pada meteri yang lebih tahan lama, lebih berat, dan cahaya yang dihasilkan lebih terang. Desain lainnya adalah menggunakan lampu LED untuk mengganti lampu bohlam.
Kelebihan dari senter dengan lampu LED adalah energi yang dihasilkan lebih rendah sehingga dapat bertahan lebih lama. Sementara itu kekurangannya adalah cahaya yang dihasilkan tidak seterang lampu pijar konvensional.
Dalam memilih senter, ada beberapa faktor yang harus Anda pertimbangkan. Pertimbangan tersebut antara lain daya tahan, pancaran cahaya yang dihasilkan, dan kemampuannya untuk beroperasi di lingkungan khusus.
Proses Manufaktur Senter
Plastik adalah komponen dasar dalam membuat rangka atau badan senter. Plastik yang digunakan adalah yang menggunakan polisterina serta polimer jenis lainnya. kemudian pellet plastic dicampur dengan pewarna plastisasi serta agen-agen.
Campuran itu kemudian dicairkan dengan alat pemanas, kemudian diinjeksikan ke dalam cetakan. Untuk memastikan cetakan terisi penuh maka diberi tekanan tinggi, yaitu sebesar 2500 ton untuk cetakan dengan kecepatan tinggi.
Apabila sudah selesai, plastik yang sudah tercetak didinginkan menggunakan air yang melalui saluran di cetakan. Saat didinginkan, plastik akan mengeras sehingga tekanan akan dilepaskan.
Lanjut ke tahap berikutnya, dua bagian dari cetakan dipisahkan kemudian untuk menyelesaikannya, bagian plastik dipindahkan. Nah, polimer plastik yang digunakan adalah termoplastik atau bahan yang bisa dicairkan berkali-kali. Dengan begitu sisa-sisa potongan bisa dibuat kembali tanpa menghasilkan limbah. Selanjutnya, lapisan plastik akan disemir, dipotong, dan tentunya sampai tahap akhir.
Setelah plastik untuk rangkanya jadi, bohlam pijar dijadikan sebagai “isinya” dengan melalui beberapa sukses. Bohlam terdiri atas filamen logam yang tertutupi kaca. Apabila filamen ini terkena arus listrik, hambatan yang ada dalam kawat bisa menyebabkan energi panas yang akan menghasilkan cahaya. Cahaya itu menjadi panjang gelombang yang mampu tertangkap oleh mata.
Filamen itu dilas menjadi dua kawat yang disambungkan ke luban dalam manik kaca yang merupakan bentuk dasar dari lampu bohlam. Filamen itu ditempatkan di fitting serta amplop kaca berbentuk silindris yang satu sisinya tertutup.
Sementara itu, sisi yang terbuka dari amplop diletakkan di manik kaca. Struktur ini kemudian disimpan dalam ruang vakum untuk membuat amplop kaca itu tersegel. Untuk bohlam, dipasangan di depan reflektor aluminium yang bisa membantu memokuskan cahaya.
Itulah bahasan mengenai senter, cara kerja, sejarah, dan komponen-komponennya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

