Sepak Bola Liga Indonesia, Pro atau Amatir
Ilustrasi sepak bola liga indonesia
Sepak bola liga Indonesia sudah berumur panjang. Apalagi jika dilihat dari sejarah sejak era Galatama atau jaman perserikatan, bisa dikatakan kancah kompetisi Indonesia sudah memasuki usia puluhan tahun. Namun dari kondisi yang ada, kualitas liga yang digelar nampaknya masih jauh dari yang diharapkan.
Selama ini masalah utama yang menggelayuti sepak bola Liga Indonesia adalah masalah dana bagi klub. Sebagian besar klub sepak bola di Indonesia masih menggantungkan harapan masalah pendanaan kepada jatah alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD.
Padahal penggunaan dana APBD untuk sebuah klub sepak bola sudah dilarang. Pelarangan ini tertuang dalam aturan yang dikeluarkan Menteri Dalam Negeri tentang aturan penggunaan dana APBD. Namun, peraturan ini belum sepenuhnya bisa dipenuhi. Masih banyak klub yang memanfaatkan dana pembangunan tersebut melalui berbagai macam dalih.
Pro atau Amatir
Dengan kenyataan ini, bisa dipertanyakan mengenai status para klub sepak bola Indonesia. Di satu sisi mereka menyatakan diri sebagai klub profesional. Namun pada sisi lainnya, pendanaan klub tersebut bukan berasal dari hasil usaha profesional mereka. Namun masih mengandalkan hasil hibah atau pemberian yang berasal dari pemerintah melalui dana APBD.
Seharusnya, jika sudah berani menggunakan nama profesional sebuah klub harus berani untuk lepas dari ketergantungan pada dana pemerintah apapun bentuknya. Sebuah klub harus bisa menggali dana sebagai sumber penghidupannya secara mandiri. Baik itu melalui sistem pembentukan badan usaha, atau melalui kerjasama dengan berbagai perusahaan.
Hal ini salah satunya sudah dilakukan oleh Arema Indonesia. Sebagai klub sepak bola profesional, manajemen Arema sudah melepaskan diri dari keterkaitan dengan dunia birokrasi. Hal ini ditandai dengan masuknya PT. Bentoel Internasional sebagai pemilik klub sepak bola berjuluk Singo Edan ini.
Selain Arema, Persib Bandung juga berusaha bangkit menuju sepak bola profesional. Mereka membentuk PT. Bandung Bermartabat, yang bertugas menjual segala macam potensi yang dimiliki Persib Bandung guna menghasilkan dana untuk membiayai perjalanan klub berjuluk Maung Bandung tersebut.
Langkah kedua klub sepak bola Indonesia tersebut merupakan sebuah langkah awal dan contoh bagi klub sepak bola Indonesia lainnya. Khususnya dalam proses manajemen profesional yang murni dari keterkaitan dengan birokrasi dan dana pemerintah. Dengan demikian nantinya klub sepak bola Indonesia bisa benar-benar menepuk dada sebagai klub profesional sejati.
Bukan hanya sekadar profesional dalam hal menggaji pemain, namun berantakan dalam pengelolaan dana dan masih mengandalkan dana pembangunan sebagai modal menjalankan manajemen sepak bola profesional yang amatiran.

