Menanti Kebangkitan Sepak Bola Liga Italia

Sepak bola Liga Italia sempat begitu populer di tanah air pada awal era 1990-an. Apalagi dengan kehadiran stasiun TV swasta, RCTI dan SCTV yang menayangkan Sepakbola liga Italia secara lansgung, semakin membuat pertandingan sepakbola di negeri pizza in,i begitu membius masyarakat kita.
Liga Italia Sang Juara
Waktu itu, siapa tak kenal nama-nama seperti Maradona, Ruud Gullit, Van Basten, Lothar Matheus, yang menjadi pujaan pecinta sepak bola di tanah air? Di era itu, hampir semua pemain sepakbola terbaik dunia bermain di Liga Italia. Iming-iming gaji yang melimpah, atmosfer penonton yang mendukung, dan prestasi klub-klub sepak bola Italia yang merajai kejuaraan sepakbola di Eropa maupun dunia, menjadi magnet bagi mereka.
Pada akhirnya, banyak stasiun televisi di seluruh dunia berlomba-lomba membeli hak siarnya. Iklan dari perusahaan asing berlomba-lomba membiayai liga tersebut.
Tradisi masyarakat Italia yang begitu mencintai sepak bola menjadikan sepak bola ibaratnya agama kedua bagi mereka. Sepak bola menjadi cita-cita utama anak-anak negeri pizza ini. Para pemain top menjadi pujaan mereka, diidolakan melebihi seorang artis tenar bila memenangkan pertandingan.
Pecinta sepak bola di tanah air pun pasti mengenal klub sepakbola mereka, yaitu AC Milan, InterMilan, Juventus, As Roma, Sampdoria. Merekalah klub-klub papan atas di negeri Italia.
Kecintaan para bolamania tanah air kepada mereka begitu besar, bahkan banyak di antara mereka mendirikan klub khusus supporter di tanah air. Lewat berbagai jaringan dan pertemuan di kafe-kafe khusus yang menyiarkan sepakbola tim kesayangan, mereka menunjukkan identitasnya.
Bahkan karena besarnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap mereka, pada tahun 1990-an PSSI mendatangkan klub-klub papan atas seperti Ac Milan, Sampdoria, dan Lazio.
Liga Sepakbola Italia sebenarnya hanya didominasi 5 klub saja yang sering menjadi juara, bahkan bisa mengerucut pada tiga klub saja, yaitu Juventus, AC Milan, InterMilan. Ketimpangan ekonomi yang nyata di Italia (blok miskin di utara dan blok kaya di selatan) menjadikan klub-klub yang tinggal di wilayah ekonomi mapanlah yang sering menjadi juara.
Kemunduran Sepak Bola Liga Italia
Kemunduran Liga Sepak bola Italia sebenarnya bukan hanya karena faktor dalam negeri. Banyak faktor yang menyebabkan Liga Sepak bola Italia tidak segemerlap dahulu. Kebangkitan Liga Inggris yang begitu fenomenal dan Liga Spanyol yang semakin menarik adalah salah satu faktornya.
Banyak pemain top dunia yang akhirnya lebih memilih bermain di negeri Inggris atau Spanyol. Selain gaji yang jauh lebih tinggi, persaingannya pun dianggap jauh lebih menarik.
Selain itu, klub sepak bola dari Italia sering kalah bersaing dengan klub dari Inggris atau Spanyol di kejuaraan Eropa maupun dunia. Akhirnya, banyak stasiun televisi yang tidak lagi menayangkan Liga Italia. Padahal hak siar stasiun televisi adalah salah satu penunjang utama kehidupan klub. Banyak perusahaan besar yang akhirnya enggan juga mensponsori Liga Italia.
Klub Italia juga masih sangat buruk dalam hal manajemen. Kepemilikan klub hanya dimonopoli usaha keluarga, dan banyak digunakan sebagai alat kampanye politik. Sedangkan klub di Liga Inggris atau Liga Spanyol sudah dikelola secara modern. Klub dikelola seperti perseroaan terbatas, saham bisa dimiliki oleh semua orang dan suporter fanatik klub tersebut .
Keadaan sepak bola Liga Italia semakin mengenaskan, ketika skandal Calciopoli melanda hampir semua klub besar. Skandal yang dikenal dengan pengaturan pertandingan oleh klub-klub tertentu menjadikan Liga Italia semakin ditinggal peminatnya. Banyak stadion yang mulai sepi ditinggal penonton yang merasa Sepakbola liga Italia sudah tidak menarik.
Saat ini hal yang sangat menonjol dalam sepak bola Italia adalah kerusuhan antar suporter, yang mirip dengan liga sepakbola Indonesia. Bahkan lesunya liga sepakbola Italia sudah dirasakan di Indonesia. Tahun 2010 ini sudah tidak ada lagi stasiun TV yang menayangkannya.
Namun demikian, sepak bola tidak akan bisa lepas dari negeri Roma. Kebiasaan menonton pertarungan yang mencurahkan segalanya, sudah menjadi darah daging bangsa Italia.






