Pentingnya Seragam Kerja
Ilustrasi seragam kerja
Seragam kerja biasanya disyaratkan sebuah perusahaan besar untuk para pegawainya. Hal ini dilakukan karena sangat pentingnya arti sebuah seragam kerja dalam sebuah perusahaan.
Dengan melihat seragam kerja yang dipakai oleh seseorang, maka orang akan tahu bahwa orang yang mengenakannya pernah atau masih bekerja di perusahaan yang sedang dikenakannya. Selain itu, dengan mengenakan seragam kerja juga merupakan sarana promosi yang ampuh.
Perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya promosi, karena sudah dipromosikan pegawainya sewaktu di luar. Ketika pegawai berangkat kantor sedang mengenakan seragam, saat inilah promosi berlangsung. Hemat dan tepat bukan?
Seragam Kerja Adalah Identitas
Identitas atau jati diri adalah suatu hal yang sangat penting. Dianggap penting karena dengan adanya identitas kita bisa membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.
Kita tidak lagi akan mengalami kesulitan ketika harus membedakan satu hal dengan hal yang lainnya. Antara yang hitam dengan yang putih. Antara yang terang dan gelap. Semua bisa dibedakan karena semuanya memiliki identitas masing-masing.
Hal yang dipandang remeh ternyata memiliki peran yang sangat penting. Peran yang mampu memberi sebuah warna dalam kehidupan ini. Dunia tidak lagi hitam dan putih layaknya film ataup foto pada era dulu. Dengan adanya identitas ini maka dunia lebih beragam dan berwarna.
Seperti itulah fungsi seragam kerja dalam dunia bisnis. Selain mewakili bendera perusahaan yang dibawanya, juga sebagai identitas si pemakai seragam tadi. Dengan mengenakan seragam, kita tidak canggung lagi ketika bertemu dengan perusahaan lain yang ingin bertemu dengan perusahaan kita. Cukup melihat seragam kerja saja mereka pasti sudah tahu bahwa kita mewakili perusahaan yang ingin ditemui.
Efek Seragam Kerja
Bagi pengguna seragam, tentunya memiliki efek tersendiri. Ada yang merasa bangga dengan seragam yang dimiliki, namun tidak jarang juga ada yang merasa malu atau minder. Perasaan setiap orang sangat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Setiap orang punya penilaiannya masing-masing.
Perasaan bangga yang dimiliki seseorang ketika mengenakan seragam kerja biasa dirasakan oleh seseorang jika dia bekerja pada sebuah perusahaan yang besar dan terkenal. Tentu sangat wajar jika si pemakai akan merasa bangga, karena telah mampu berkarir di sebuah perusahaan yang besar.
Lain halnya dengan seseorang yang hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil dengan reputasi yang tidak begitu baik. Biasanya si pemakai akan merasa minder atau sedikit malu ketika bertemu dengan perusahaan lainnya yang lebih bonafit.
Perasaan rendah hati dan minder akan langsung muncul. Biasanya inilah yang dialami oleh si pemakai. Efek perasaan seseorang dalam memakai seragam akan sangat memengaruhi kinerja seseorang dalam sebuah perusahaan.
Oleh karena itu, biasanya sebuah perusahaan akan berusaha menanamkan perasaan bangga pada karyawannya yang memakai seragam. Semakin bangga dia akan seragamnya, maka kinerjanya juga akan semakin bagus.
Lain halnya dengan sikap minder. Jika memakai seragam saja minder, bagaimana dengan kinerjanya? Sudah bisa dipastikan bahwa hasil kerjanya tentu tidak akan maksimal.
Sikap minder dengan efek kinerja yang tidak maksimal tentu akan memberikan dampak buruk bagi perusahaan. Perusahaan menggaji seseorang agar perusahaan mendapatkan untung yang banyak, bukannya malah merugi. Perusahaan manakah yang ingin usahanya merugi?
Tentu tidak ada. Biasanya sebuah perusahaan akan mengadakan pelatihan-pelatihan dan pengembangan potensi diri untuk karyawannya.
Pengembangan potensi diri berupa seminar atau training yang biasa diadakan sebuah perusahaan, tidak lain agar kinerja dari karyawannya bisa maksimal. Jika karyawan kerja dengan maksimal tentunya profit atau keuntungan yang diraih juga bisa maksimal.
Tentunya pemilik sebuah perusahaan ingin karyawannya bangga saat mengenakan seragamnya. Hal ini juga dimaksudkan agar konsumen juga akan merasa bangga bisa memakai atau menggunakan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.
Jika karyawannya saja tidak bangga dengan perusahaan tersebut, bagaimana konsumen bisa bangga dengan produk dari perusahaan tersebut?
Arti Sebuah Seragam Kerja
Selain sebagai sebuah identitas atau jati diri perusahaan, seragam juga memiliki arti yang lain. Arti atau makna dari seragam biasanya mewakili visi dan misi sebuah perusahaan. Visi dan misi perusahaan itu biasanya digambarkan lewat warna dari seragam yang digunakan oleh karyawannya.
Penggunaan warna, corak, dan motif yang biasa digunakan dalam sebuah seragam tidak dibuat dengan iseng saja. Semuanya memiliki makna yang mendalam yang biasanya dimengerti oleh perusahaan tersebut. Pemilihan warnanya pun tidak asal pilih saja. Melainkan dengan kajian yang cermat.
Bahkan sebuah perusahaan rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk masalah pemilihan warna. Hal ini dilakukan karena pentingnya arti sebuah warna yang mengandung makna, mewakili visi dan misi dari perusahaan tersebut.
Selain itu, warna juga mengandung makna psikologis yang akan memberikan efek pada orang yang melihatnya. Sebagai contoh sebuah warna yang memiliki makna psikologi adalah merah. Warna merah biasanya membuat mata tidak tahan untuk melihat lama. Warna merah memberikan kesan pada seseorang untuk tidak betah.
Hal ini yang biasanya digunakan oleh pemilik sebuah warung agar pelanggan yang datang ke kedainya tidak duduk terlalu lama selesai makan di warung tersebut. Dengan tidak duduk terlalu lama selesai makan berarti akan memberikan ruang kosong bagi konsumen lain untuk duduk di kedai itu. Dengan demikian bisa berarti memberikan pendapatan yang lebih bagi pemiliki warung.
Itulah salah satu contoh pentingnya peran dari pemilihan warna, agar target serta tujuan yang ingin kita capai bisa dapat diraih dengan maksimal. Seandainya pemilihan warna yang dilakukan tidak dilakukan dengan kajian yang mendasar dan mendalam, bisa jadi hasil yang diraih tidak akan maksimal.
Sebagai contoh, pemilihan warna merah di atas yang diaplikasikan untuk sebuah warung. Jika si pemilik warung menggunakan warna lain, tapi tujuannya tetap sama yakni pelanggan cepat pergi setelah selesai makan, bisa jadi tujuannya tidak akan tercapai.
Mungkin warna yang diambil memiliki pengaruh psikologi yang membuat orang menjadi tenang dan betah untuk duduk lebih lama. Sudah bisa dipastikan tujuan yang dimaksudkan pemiliki kedai tidak akan tercapai. Pemasukkan yang seharusnya berkali-kali lipat juga tidak terpenuhi, karena konsumen yang harusnya duduk 10 menit saja dan digantikan dengan konsumen lain tidak pernah terjadi.
Pemilihan warna ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Semuanya memiliki makna dan arti serta merupakan salah cara agar kita bisa lebih maksimal dalam mencapati tujuan yang ingin diraih.
Pemilihan yang tepat akan menghasilkan tujuan yang sempurna. Pemilihan yang sembarang akan berakibat tidak efisiensinya pada ketercapaian tujuan. Yang artinya tentu pada pembengkakan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
Biaya yang harusnya hanya habis berkisar sekitar seratusan, bisa membengkak menjadi dua ratusan karena kurang efektif dalam penggunaan cara atau semacamnya. Tentunya hal ini akan sangat merugikan bagi perusahaan.
Seragam kerja ternyata bukan hanya aksesoris saja yang bisa dipakai oleh karyawan. Seragam memberikan sebuah nilai plus atau lebih pada seseorang yang sedang bekerja pada sebuah perusahaan. Selain itu, juga memberikan nilai lebih bagi perusahaan itu sendiri.
Fungsi Seragam Kerja
Anda tentu akan mudah terjebak dengan istilah seragam kerja. Hmm, seragam kerja? Apakah maksudnya? Mudahnya begini bila membayangkan seragam kerja. Seragam kerjanya para suster, seragam kerjanya pemadam kebakaran, seragam kerjanya polisi, seragam kerjanya tentara, dan banyak lainnya.
Seragam kerja adalah pakaian sejenis yang digunakan seseorang di dalam suatu kelompok yang menjalankan fungsi kerja yang sama. Atau, melakukan suatu kegiatan tertentu yang tidak akan pernah afhdal dan tidak lengkap tanpa mengenakan seragam tersebut. Penggunaan seragam kerja, sesuai dari pengertiannya jelas tidak mutlak. Alias, tanpa menggunakan seragam pun, orang masih bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan fungsi kerjanya sendiri.
Awalnya terdapat seragam kerja, barangkali diawali oleh seragam itu sendiri. Yakni pada saat manusia pertamakalinya mengenal cara berorganisasi. Seragam kerja dikenakan oleh anggota suatu organisasi pada saat turut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi tersebut. Kita bisa menengarainya dalam dua ciri, seragam kerja tradisional dan seragam kerja modern.
Seragam Kerja Tradisional
Seragam kerja tradisional berkaitan dengan pengorganisasian dan penyeragaman bentuk pakaian dan dress code, sekadar membedakan antara satu kelompok dengan yang lainnya.
Bentuk penyamaan ini dimulai dari yang paling sederhana, misalkan plantagenet atau helmet, penggunaan apa yang dipakai oleh para anggota keluarga kerajaan di masa kuno, membedakan kedudukan dan kemuliaan mereka, juga digunakan oleh para hakim, para pegawai pemerintahan, fungsinya tentu saja lebih sebagai pembeda.
Bentuk tradisional ini setidaknya berlangsung hingga diperkenalkannya fungsi. Misalkan seragam kerja para tentara yang pada awalnya untuk membedakan siapa dari kelompok atau bangsa mana, menjadi sesuatu yang memiliki fungsi.
Pada saat hal tradisional dalam masalah seragam kerja, masihlah kepada bentuk imajiner dan mistis dari penggunaan seragam kerja, seperti halnya seragam hakim yang hitam dengan syal putih atau seragam kerja para suster perawat yang putih putih, seragam kerja para ilmuwan dengan jas putih menjulur hingga ke betis, atau bahkan seragam ‘kerja’ nya para penari balet.
Balet tidak harus menggunakan baju terusan bagai burung angsa. Namun dikarenakan balet dari Russia dan lakon terkenalnya adalah Swann Lake, balet menjadi pakaian bagai angsa.
Jadi, fungsi seragam kerja tradisional adalah menjaga kualitas tradisi yang telah ada turun menurun dan disampaikan dari banyak generasi. Sekarang silakan Anda pikirkan, kira-kira seragam kerja macam apa lagi yang dari zaman dulu dan masa kini masih eksis. Benar, seragam ‘kerja’nya para pengantin.
Seragam Kerja Modern
Seragam kerja modern dimulai ketika seragam kerja itu ternyata harus memiliki fungsi. Seragam kerja modern awalnya dikenakan oleh angkatan bersenjata dan organisasi paramiliter. Pendeknya adalah para tentara atau mereka yang melakukan act sebagai tentara.
Untuk pergi ‘berkerja’, para tentara itu setidaknya dibekali oleh chain mailatau seragam yang terlindungi oleh baju rantai, melindunginya terhadap serangan panah agar tidak menusuk terlampau dalam. Tradisi ‘defensif’ pada seragam kerja tentara berubah saat ini menjadi strategi ‘offensif’.
Saat ini, seragam kerja tentara tidak dibekali dengan chain mail atau zirah yang berat dan membuat gerakan lamban. Sebaliknya, tentara harus memiliki seragam yang paling ringan memudahkan mereka bergerak cepat untuk menghindari peluru. Peluru tidak bisa dihindari, tetapi tiarap dan menunduk, tetap menjadi bekal lumayan untuk antisipasi, apalagi bila terdapat shell bombing.
Gerakan luwes pada seragam kerja militer dibekali pula perangkat tambahan, seperti jaket anti peluru, watervest, communication vest, dan tentu saja kantung amunisi. Dengan demikian, seragam kerja modern adalah seragam kerja yang berubah berdasarkan zaman dengan memperbaiki fungsi tertentu.
Walau demikian, tidak semua act militer menggunakan seragam modern. Masih terdapat seragam tradisional yang digunakan militer, seperti seragam polisi, satpam, atau militer sendiri pada saat di kantor, dan pelatihan. Seragamnya adalah seragam tradisi dari abad Rennaissance.
Para kadet Akabri misalnya, menggunakan seragam tentara di masa Victorian Inggris dengan bahu pernik brush. Meskipun begitu, terdapat pula seragam modern yang masih melanjutkan tradisi di masa lalu. Misalkan di penjara di mana narapidana harus menggunakan seragam kerja yang sama, baju training one pieces tanpa lipatan, sehingga memudahkanya untuk tidak menyembunyikan hal yang mencurigakan.
Para pekerja kontruksi pun diharuskan menggunakan overall pieces. Penggunaan ini berasal dari pemakaian baju para pandai besi dari masa Roman. Pakaian dengan bahan kulit yang keras. Para gembala di Amerika serikat terbiasa menggunakan jeans sebagai seragam kerjanya karena jeans memudahkan mereka dalam berkuda.
Dari Pejabat hingga Penyelundup
Di beberapa negara, beberapa pejabat juga memakai seragam dalam tugasnya; seperti halnya Korps Dinas Kesehatan Publik umum di banyak negara, mereka menggunakan seragam memisahkannya dari yang lain. Awalnya tentu saja karena perang. Para pejabat kesehatan akan mudah dikenali dan orang terluka mudah cepat ditangani karena memanggil orang dengan seragam yang tepat.
Untuk beberapa kelompok masyarakat, bahkan diwajibkan keluar rumah langsung berseragam. Para Yakuza harus membawa seragam khusus sepanjang hidupnya dengan perut yang dibalut oleh ikatan cawat. Para penyeludup pun memiliki kode dan seragam yang hanya mereka pahami fungsi dan bentuknya. Sindikat conterfeit, memiliki seragam sebagai kode.
Pekerja kadang-kadang juga diharuskan memakai seragam atau pakaian perusahaan dari satu pekerjaan kepada pekerjaan yang lain. Pekerja diharuskan memakai seragam termasuk pekerja pengecer, bank, dan pekerja kantor pos, keamanan umum dan petugas kesehatan, pegawai kerah biru, pelatih pribadi di klub kesehatan, para instruktur panas, penjaga pantai, petugas pembersih, karyawan angkutan umum, penarik dan sopir truk, maskapai karyawan dan operator wisata, karyawan bar, restoran dan hotel, para penjaga lift pun atau para bell boy memiliki seragam yang unik.
Gambarannya sebagaimana gambar komikus dupuis dari Eropa dalam kisah Spirou si Bell Boy, seragam hotel man dengan kancing yang besar besar.
Mindset Effect Perusahaan
Penggunaan seragam oleh organisasi-organisasi perusahaan ini tidak hanya merupakan upaya branding dan mengembangkan citra perusahaan standar, tetapi juga memiliki efek penting pada karyawan yang diharuskan memakai seragam. Seperti kebanggan korps dan efektivitas dalam pekerjaan sehari-hari.
Mindset-nya, pengusaha juga merupakan pembayangan bahwa dengan berseragam, fungsi organisasi bisa disampaikan sepenuhnya. Seragam tradisional di tempat kerja saat ini, secara umum meliputi ‘penampilan casual yang rapi’ dan penampilan yang rapi itu ternyata berharga mahal. Menuntut para pekerja untuk mengenakan jas, kemeja, dan dasi, yang harganya mahal di pasaran.
Sempat ada keluhan bahwa pemakaian jas tersebut hanya berfungsi ‘nothing’ pada pekerjaan mereka selain sisa-sisa dari era Great Depression pada 1930-an. Tidak semua demikian. Di India, pemakaian pakaian tradisional masih mewarnai dunia perkantoran di sana.
Rafaeli & Pratt (1993) menyebutkan bahwa keseragaman (homogenitas) pakaian sebagai penyatuan satu dimensional saja. Karyawan mengenakan pakaian hitam semuanya dan akan tampak mencolok. Dengan demikian, mewakili suatu organisasi meskipun pakaian mereka seragam hanya dalam warna saja dan barangkali sekadar penampilan saja, tapi tidak dalam fitur-fiturnya alias sisi profesionalitasnya.
Seragam kerja pada akhirnya memang mewakili identitas kultural dan simbolik para pemakainya sehingga dikenal istilah penipuan. Orang bisa tertipu dengan seragam dan wibawanya.
Orang yang berseragam dokter padahal bukan dokter lantas melamar anak kampung akan lebih mudah diterima dibandingkan seorang anak petani kaya yang datang dengan ‘seragam kerja’ baju kampret dengan membawa pacul. Penampilan bisa menipu walau dari maknanya, seragam kerja. Orang yang tidak berkerja pun bisa berseragam.

