Pentingnya Shalat Berjamaah
Ilustrasi shalat berjamaah
Shalat berjamaah adalah sholat yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits, Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Malik bin Al-Huwairits, yaitu sebagai berikut.
"Aku mendatangi Nabi dalam suatu rombongan dari kaumku, maka kami tinggal bersamanya selama duapuluh hari, dan Nabi adalah seorang yang penyayang dan lemah lembut terhadap shahabatnya, maka ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda,
Kembalilah kalian dan jadilah bersama mereka serta ajarilah mereka dan shalatlah kalian, apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua (berilmu tentang Al-Kitab & As-Sunnah dan paling banyak hafalan Al-Qur`annya) di antara kalian mengimami kalian." (H.R. Bukhari no. 628, 2/110 dan dalam riwayat lain H.R. Muslim no. 674, 1/465-466)
Ibadah Shalat dalam Agama Islam
Tidak seperti perintah dan ayat yang diwahyukan melalui perantaraan Malaikat Jibril, perintah shalat Rasulullah SAW terima langsung dari Allah Swt, ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Sangat tinggi kedudukan shalat ini, di antaranya dapat kita simpulkan seperti di bawah ini.
- Merupakan ibadah terpenting, perkara kedua dalam rukun Islam setelah mengucapkan syahadat (HR. Bukhari-Muslim)
- Ciri orang yang bertakwa dan orang mukmin (QS. Al-Baqarah: 3 dan Al-Mukminun: 2, 9)
- Sebagai tiang agama (hadits mahsyur)
- Amalan yang pertama kali dihisab di Hari Kiamat (HR. Thabrani)
- Ikatan terakhir yang terlepas dari agama, yang bila hilang maka hilanglah agama (HR. Ibnu Hibban)
- Sarana untuk mengingat Allah Swt. (QS. Thaha: 14)
- Pencegah perbuatan keji dan munkar, serta untuk memohon pertolongan (QS. Al-Ankabut: 45 dan Al-Baarah: 45)
- Harus tetap dilaksanakan walaupun bermukim atau dalam perjalanan, baik waktu damai maupun perang. (QS. Al-Baqarah: 238-239 dan An-Nisa: 102-103)
Banyak sekali hadits dan pendapat ulama yang mengatakan bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga habis waktunya adalah kafir dan murtad, keluar dari agama Islam. Maka diwajibkan baginya segera bertaubat dari kekufurannya tersebut.
Ketentuan tata laksana shalat telah disimpulkan dengan singkat oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat”. Sehingga tak ada lagi ketentuan lain selain yang telah dicontohkan oleh Rasul.
Kita dapat menemukan banyak hadits yang menerangkan tentang shalat beliau, penjelasan-penjelasan dari para ulama terdahulu hingga sekarang pun telah secara gamblang dan detil memaparkan tata cara shalat tersebut. Dengan demikian, tak ada lagi cara lain selain dengan tata cara yang telah ditetapkan selama berabad-abad ini.
Banyak sekali hadits dan pendapat ulama yang mengatakan bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga habis waktunya adalah kafir dan murtad, keluar dari agama Islam. Maka diwajibkan baginya segera bertaubat dari kekufurannya tersebut.
Terdapat dimensi lain yang tidak bisa dilepaskan dari shalat, yaitu spiritual. Shalat adalah adalah perbuatan anggotan badan dan sekaligus pula hati dan pikiran.
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, makna khusyuk diartikan sebagai suatu gambaran keimanan yang hakiki. Orang yang khusyuk adalah orang yang dipenuhi rasa takut kepada Allah. Orang tersebut penuh tawadhu’. Orang yang benar-benar tunduk penuh ketaatan dan takut kepada Allah.
Jika secara hukum fikih telah sah shalat seseorang jika telah memenuhi kriteria tata cara shalat. Tetapi dari segi kualitas, masih perlu dilihat seberapa khusyuk shalatnya itu.
Disimpulkan, shalat yang khusyuklah yang akan membimbing pada ketenangan dan kemuliaan perilaku seseorang. Karenanya para ulama terdahulu senantiasa mengajarkan cara melakukan shalat dengan penuh rasa khusyuk.
Sholat memiliki arti ‘doa’. Ini adalah jembatan vertikal yang menghubungkan manusia dengan Allah Swt. Secara istilah, sholat adalah ibadah yang terdiri atas beberapa ucapan atau doa dan gerakan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Manfaat shalat bagi manusia dapat dilihat dari berbagai aspek. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Aspek rohani
Orang yang mengerjakan shalat akan mendapatkan ketenangan jiwa seperti janji Allah Swt. Tentu saja dengan kualitas shalat yang khusyuk, yaitu menghadirkan hati dalam shalat, konsentrasi, keseriusan, dan kedisiplinan dalam mendirikannya.
2. Aspek sosial
Orang yang melakukan shalat akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Ia akan bertindak santun terhadap tetangga dan lingkungannya. Selain itu, shalat berjamaah juga akan mempererat hubungan silaturahim antara sesama manusia dan kokohnya persatuan umat.
3. Aspek medis
Shalat dapat mencegah kita dari terjangkitnya penyakit. Ritual khusus yang kita lakukan sebelum shalat adalah berwudlu. Dalam sehari kita berwudlu untuk shalat sebanyak lima kali.
Pada saat itu pula kuman dan bakteri yang menempel di tubuh kita terlepas. Tidak hanya itu, gerakan shalat juga mendatangkan manfaat tersendiri. Manfaat-manfaat gerakan shalat adalah sebagai berikut.
- Takbiratul ihram, dapat melancarkan aliran darah, getah bening atau limfa, dan kekuatan otot lengan.
- Ruku', menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf.
- I’tidal atau berdiri setelah ruku’, latihan bagi organ pencernaan.
- Sujud, mempengaruhi daya berpikir seseorang, saat sujud aliran getah bening dipompa ke bagian leher, ketiak dan posisi jantung berada di atas otak sehingga darah yang kaya oksigen mengalir secara maksimal ke otak.
- Iftirosy atau duduk saat tahiyat awal dan akhir, menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Sedangkan pada pria, ini bisa membantu mencegah impotensi.
- Salam, sebagai relaksasi otot sekitar leher dan kepala untuk menyempurnakan aliran darah di kepala yang sering menimbulkan sakit kepala dan juga menjaga kekencangan kulit.
Pentingnya Shalat Berjamaah
Rasulullah dan para sahabat tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah, kecuali jika ada halangan yang syar’i. Ketika Rasulullah sakit, beliau tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid sebagai imam hingga ketika sakitnya semakin parah, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat berjamaah.
Rasulullah, bahkan, tidak memberi keringanan kepada ‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang buta untuk meninggalkan shalat berjamaah. Padahal, selain buta, dia tidak mempunyai seseorang yang bisa menuntunnya ke masjid dan usianya pun sudah renta. Diriwayatkan dari Abu Hurairah:
"Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi lalu berkata, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mempunyai seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid'. Lalu, ia meminta Rasulullah untuk memberi keringanan baginya untuk shalat di rumahnya hingga Rasulullah memberikannya keringanan.
Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah memanggilnya lalu berkata, 'apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?' Ia menjawab, 'benar', maka Rasulullah bersabda, 'penuhilah panggilan tersebut.” (H.R. Muslim)
Keutamaan Shalat Berjamaah
- Mendapat pahala sebanyak dua puluh tujuh derajat dari sholat sendirian. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
- Setiap langkahnya menuju masjid, diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan oleh para malaikat. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari)
- Sholat berjama'ah membebaskan seorang muslim dari pengaruh setan. (H.R. Abu Daud dengan derajat hadist hasan, dari Abu Darda' RA)
- Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. (H.R. Abu Daud, Turmudzi, dan Hakim)
- Saling mengenal dan mengasihi sesama muslim.
- Membiasakan diri untuk hidup teratur dan disiplin melalui waktu-waktu sholat yang sudah ditentukan serta melalui hubungan yang tercipta antara imam dan makmum.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat mengajarkan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari. Di mulai dengan mencontohkan berprilaku yang baik, seperti mengucapkan salam ketika akan pergi atau pulang ke rumah. Selanjutnya, dengan mengajak anak beribadah, seperti mengajak anak untuk shalat lima waktu secara berjamaah. Ketika bulan puasa tiba, mengajak anak untuk ikut puasa.
Hal-hal yang sederhana tersebut, dapat melatih dan membiasakan anak untuk beribadah, ketika sudah tumbuh dewasa. Seorang anak banyak belajar dari lingkungan keluarganya, terutama orang tuanya.
Apabila keimanan seorang anak sudah dipupuk sejak dini, ketika dia terjun ke dunia luar, maka dia sudah punya tameng untuk menghalau segala macam pengaruh negatif. Anak tersebut sudah mengerti mana yang baik untuk diri dan agamanya, serta mana yang bisa membuatnya hancur. Semoga informasi mengenai shalat berjamaah ini bermanfaat.

