Mengenal dan Mencegah Penyakit Sifilis
Pernah mendengar penyakit Sifilis? Penyakit Sifilis identik dengan penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual berisiko. Sifilis adalah penyakit seksual menular atau sering disebut dengan sexually transmitted disease (STD) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Penyakit Sifilis ini juga terkenal sebagai peniru ulung karena banyak gejala-gejalanya yang sulit dibedakan dengan penyakit lain sehingga keberadaan penyakit ini cenderung "nyaru" dengan penyakit lainnya. Kewaspadaan lebih dibutuhkan dalam menghadapi penyakit ini serta gejalanya.
Bagaimana Seseorang dapat Menderita Sifilis?
Sifilis ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung pada luka Sifilis. Luka biasanya terdapat pada area kemaluan, vagina, anus, atau dubur. Luka dapat juga muncul di bibir dan mulut. Perpindahan bakteri penyebab Sifilis melalui vagina, anal, atau oral sex.
Ibu hamil yang menderita Sifilis dapat menurunkan penyakitnya pada bayinya. Sifilis tidak menular melalui kontak dengan dudukan toilet, pegangan pintu, kolam renang, bak mandi, baju, atau peralatan makan.
Gejala Sifilis pada Orang Dewasa
Gejala penyakit Sifilis sering kali menipu. Kadang luka yang disebabkan oleh Sifilis bisa tampak, bisa tidak. Luka Sifilis pun sering tersembunyi antara lain pada vagina, anus, atau mulut. Banyak orang yang terinfeksi Sifilis tidak menampakkan gejala selama bertahun-tahun. Hal ini berbahaya bila tidak segera ditangani.
Meskipun penularan Sifilis terjadi akibat kontak luka seseorang pada stadium primer atau sekunder, sering kali luka ini tidak tampak. Jadi, penularan dapat menyebar dari penderita yang tidak menyadari penyakitnya.
Mengenali gejala Sifilis sejak awal merupakan cara yang efektif untuk mencegah perkembangan penyakit ini. Jika dibiarkan selama bertahun-tahun, Sifilis dapat mengakibatkan kematian.
Stadium Primer Sifilis
Stadium primer Sifilis biasanya ditandai dengan penampakan luka tunggal, namun dapat juga pula tersebut lebih dari satu. Waktu yang diperlukan mulai dari infeksi hingga gejala muncul adalah bervariasi antara 10 hingga 90 hari.
Luka sebagai gejala Sifilis ini biasanya kecil, bundar, dan tidak menyebabkan nyeri. Luka tersebut akan sembuh sendiri setelah 3 hingga 6 minggu. Namun, bila tidak dilakukan perawatan lebih lanjut, infeksi dapat berkembang ke stadium sekunder.
Stadium Sekunder Sifilis
Stadium sekunder Sifilis ditandai dengan ruam pada kulit dan lesi berlendir. Ruam biasanya tidak menyebabkan gatal. Ruam pada stadium sekunder muncul setelah luka sembuh atau beberapa minggu setelahnya. Karakteristik ruam tampak kasar, merah pada telapak tangan atau kaki bagian bawah. Ruam juga dapat muncul di bagian tubuh lain. Kadang ruam juga tidak tampak.
Gejala lain pada Sifilis stadium sekunder adalah demam, pembengkakan kelenjar limfe, radang tenggorokan, rambut rontok, sakit kepala, penurunan berat badan, nyeri otot, dan kelelahan. Gejala stadium sekunder akan menghilang dengan sendirinya. Namun, apabila tidak ditangani, Sifilis akan berkembang menuju stadium laten.
Stadium Laten Sifilis
Stadium laten Sifilis dimulai setelah gejala pada fase primer dan sekunder menghilang. Tanpa penanganan, orang yang terinfeksi akan terus mengidap Sifilis meskipun tanpa gejala. Stadium laten ini dapat berlangsung hingga tahunan.
Stadium laten Sifilis dapat berkembang pada 15% penderita yang tidak dirawat, dan dapat muncul 10-20 tahun setelah infeksi pertama diperoleh. Pada stadium laten, Sifilis mulai merusak organ dalam, termasuk otak, saraf, jantung, pembuluh darah, mata, hati, tulang, dan persendian.
Gejala pada stadium laten Sifilis antara lain kesulitan koordinasi pergerakan otot, paralisis, buta bertahap, dan dementia. Kerusakan ini dapat berlangsung serius dan dapat mengakibatkan kematian.
Pengaruh Sifilis pada Ibu Hamil
Bakteri Sifilis dapat menginfeksi bayi dalam kandungan. Bergantung pada berapa lama ibu hamil terinfeksi Sifilis. Berisiko tinggi melahirkan dengan kondisi bayi meninggal. Bayi yang terinfeksi dapat lahir tanpa gejala Sifilis. Jika tidak segera ditangani, Sifilis akan menyebabkan penyakit serius dalam waktu mingguan. Bayi yang tidak ditangani dapat cacat atau bahkan meninggal.
Mendiagnosis Sifilis
Sifilis dapat dideteksi dengan memeriksa luka dengan mikroskop khusus yang disebut dark-field microscope. Jika terdapat bakteri Sifilis pada luka, bakteri tersebut akan tampak di mikroskop. Cara lain adalah dengan menggunakan tes darah.
Setelah infeksi, tubuh akan memproduksi antibodi yang dapat dideteksi dalam darah. Kadar rendah antibodi dapat bertahan dalam darah dalam hitungan bulan atau tahun bahkan setelah penyakit Sifilis sembuh. Dikarenakan Sifilis dapat menginfeksi bahkan membuat bayi meninggal maka ibu hamil disarankan melakukan tes darah.
Hubungan Sifilis dan HIV
Luka pada alat kelamin yang disebabkan oleh Sifilis dapat mempermudah penularan HIV. Risiko tertular HIV akan meningkat sebanyak 2 hingga 5 kali lipat. Luka pada alat kelamin dapat mudah berdarah dan ketika kontak dengan oral atau rektal selama seks akan meningkatkan kemungkinan penularan HIV.
Perawatan Sifilis
Sifilis mudah disembuhkan pada stadium awal. Suntikan antibiotik seperti penisilin dapat menghentikan Sifilis pada penderita yang terinfeksi kurang dari setahun. Dosis tambahan diperlukan bila penderita telah terinfeksi selama lebih dari setahun. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin, tersedia antibiotik lain yang dapat mengobati sifilis.
Antibiotik akan membunuh bakteri Sifilis dan mencegah stadium berlanjut, namun tidak memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Oleh karena itu, perawatan yang efektif dapat mencegah berkembangnya Sifilis, penting bagi seseorang untuk tes darah bila kebiasaan seksualnya berisiko terkena STD.
Penderita Sifilis dalam tahap perawatan harus berhenti melakukan kontak seksual terhadap pasangannya sampai luka-lukanya sembuh sempurna. Penderita Sifilis harus menginformasikan kepada pasangannya sehingga pasangannya dapat melakukan tes Sifilis dan diobati bila ternyata juga terkena infeksi.
Pernah menderita Sifilis tidak membuat seseorang kebal dengan penyakit tersebut. Walau perawatan berhasil menyembuhkan Sifilis, namun penderita dapat terjangkit Sifilis lagi jika tidak berhati-hati. Hanya tes laboratorium yang dapat mengidentifikasi Sifilis karena luka dapat tersembunyi di vagina, anus, atau mulut. Penderita harus sadar diri untuk memeriksa ulang dengan tes laboratorium.
Mencegah Sifilis
Cara untuk mencegah penularan Sifilis tentu saja sama dengan cara mencegah penyakit menular seksual lainnya, yaitu berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama dan memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual.
Menghindari alkohol dan obat-obat terlarang juga membantu mencegah penyebaran Sifilis karena aktivitas tersebut meningkatkan perilaku seksual berisiko. Penting bagi pasangan untuk membicarakan secara terbuka mengenai riwayat penyakit menular seksual mereka atau mungkin statusnya pada HIV sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan.
Luka pada alat kemaluan dapat muncul pada pria dan wanita. Luka tersebut dapat muncul pada area yang terlindungi kondom maupun area yang tidak terlindungi. Penggunaan kondom lateks dengan benar dan konsisten dapat menurunkan risiko penularan Sifilis dan juga penyakit menular seksual lainnya bila area yang terinfeksi terlindungi.
Kondom yang mengandung spermicides tidak lebih efektif daripada kondom biasa untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual, terutama Sifilis. Penularan penyakit menular seksual tidak dapat dicegah dengan membasuh area genital setelah berhubungan seksual. Adanya luka yang tidak biasa, terutama di bagian selangkangan merupakan tanda-tanda serius untuk menghentikan hubungan seksual dan selekas mungkin pergi ke dokter.






