Sikap Narsis di Wilayah Jejaring Sosial
Barangkali, meriahnya situs-situs jejaring sosial seperti facebook, misalnya, memberi ruang bagi banyak orang untuk mengekspresikan dirinya, dengan cara dan karakteristiknya masing-masing. Termasuk, menjadi ajang narsis. Update status nggak penting dan lebay, upload foto-foto gaya, memamerkan aneka hal, yang boleh jadi "tidak penting", bagi banyak orang, adalah sikap narsis di wilayah jejaring sosial.
Asal Muasal Kata Narsis
Kata narsis dimulai dari legenda tentang Narcissus, seorang anak dewa sungai. Dia demikian tampan sehingga membuat banyak gadis tergila-gila. Salah satu gadis yang tergila-gila itu adalah gadis cantik bernama Echo. Echo jatuh cinta pada Narcissus dan selalu mengikutinya kemana-mana. Singkat kata, Echo menyatakan cinta pada Narcissus, namun ditolak. Karena sedih Echo pun menghilang.
Melihat tingkah Narcissus, membuat gerah Dewi Nemesis, sang Dewi pembalasan. Dia mengutuk Narcissus agar jatuh cinta pada dirinya sendiri. Dan kutukan itu terjadi, ketika Narcissus sedang berkaca pada pantulan air, dia terpesona oleh dirinya sendiri. Narcissus berusaha untuk mencium dirinya sendiri, tapi karena terlalu dekat dia pun terjatuh ke dalam sungai dan tewas. Begitulah singkatnya, berdasarkan legenda tersebut kata Narsis diambil. Intinya adalah, bahwa narsis merupakan perasaan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri.
Narsis Yang Melanda Anak Muda
Semakin pesatnya kemajuan teknologi tenyata membantu merebaknya “karakteristik” narsis para kaula muda. Jaringan informasi sudah demikian berkembang pesat, sehingga memudahkan seseorang untuk lebih memperkenalkan dirinya di dalam dunia maya membuat banyak anak-anak muda yang dengan bangga dan bahkan nyaris berlebihan memasang foto diri mereka. Contohnya, demikian banyak orang yang berlomba-lomba memasang fotonya yang paling oke di situs jejaring sosial. Bahkan selalu update status kesehariannya yang terkadang tidak penting.
Memang, hal ini tidak menjadi masalah, karena dasarnya sikap narsis yang wajar akan memacu rasa percaya diri yang menimbulkan cara pandang positif terhadap diri sendiri, namun kalau sudah berlebihan dan selalu “sok pamer” pada tiap orang dan cenderung merasa dirinya yang “paling” itulah yang harus diwaspadai. Karakter merasa “paling” inilah yang bisa dikategorikan penyakit narsisme.
Tidak Selalu Negatif
Orang yang mengidap narsisme biasanya merasa bahwa dialah pusat dari segalanya. Selalu memperhatikan detail terhadap dirinya dan membutuhkan pujian yang berlebih atas dirinya. Namun begitu, mungkin beberapa pekerjaan membutuhkan sifat ini, seperti para entertainer, atau artis misalnya. Sikap narsisme malah dapat menunjang prestasi mereka, atau mungkin lebih tepatnya bis disebut "sikap percaya diri yang tinggi", mungkin itu lebih tepat.






